PNS Simbol Kesusksesan Atau Ekspresi Dari Kemiskinan

Wednesday, 8 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Febri Bintara berpose mengenakan jaket hitam. Fenomena mahasiswa mengidealkan PNS disebut cerminan rapuhnya ekonomi dan pendidikan. Dok. Ist.

Febri Bintara berpose mengenakan jaket hitam. Fenomena mahasiswa mengidealkan PNS disebut cerminan rapuhnya ekonomi dan pendidikan. Dok. Ist.

NEWSLINE.ID – Opini Febri Bintara || Menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) masih dianggap sebagai salah satu standar kesuksesan di masyarakat Indonesia. Fenomena ini bukan sekadar pilihan pribadi, melainkan cerminan kondisi ekonomi yang rapuh serta sistem pendidikan yang gagal menumbuhkan kesadaran kritis.

Dalam situasi ekonomi yang penuh ketidakpastian, pekerjaan dengan gaji tetap, tunjangan, dan jaminan hari tua dipandang sebagai ruang aman. Negara pun dipersepsikan sebagai “majikan ideal” karena mampu memberikan stabilitas yang tidak ditawarkan sektor lain. Hal ini membuat profesi PNS bukan hanya dilihat sebagai pekerjaan, tetapi juga simbol status dan legitimasi sosial.

Kecenderungan tersebut diperkuat oleh sistem pendidikan yang masih menempatkan peserta didik sebagai penerima pasif pengetahuan. Kritik Paulo Freire menyebut, pendidikan semacam ini gagal mendorong mahasiswa untuk membaca realitas sosial secara kritis. Akibatnya, nilai dominan seperti anggapan bahwa stabilitas adalah tujuan utama semakin mengakar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Perbedaan latar belakang kelas juga memengaruhi standar kesuksesan. Masyarakat dengan modal dan alat produksi cenderung mendorong anak-anaknya membangun usaha mandiri. Sebaliknya, kelompok miskin lebih mengidealkan PNS sebagai jalan keluar dari ketidakpastian hidup. Fluktuasi harga komoditas pertanian dan tingginya ongkos produksi turut membuat profesi petani semakin ditinggalkan.

Ironi ini menunjukkan bahwa PNS sebagai standar kesuksesan merupakan ekspresi dari kemiskinan itu sendiri. Stabilitas yang ditawarkan dianggap semu, karena hanya memberi rasa aman tanpa membuka ruang kebebasan.

Tulisan ini menegaskan, kesuksesan sejati tidak ditentukan oleh seragam atau jabatan birokrasi. Kesuksesan adalah kemampuan hidup sebagai manusia yang utuh, berpikir bebas, dan bertindak merdeka. “Kesuksesan tanpa kebebasan adalah penjara, sedangkan kesuksesan dengan kebebasan adalah kemanusiaan yang utuh,” demikian kesimpulan kritik tersebut.***

 

Penulis : DJB

Editor : DJOHANES JULIUS BENTAH

Berita Terkait

OPINI TAJAM & EDUKATIF
JEJAK OTORITARIANISME DALAM BAHASA INDONESIA
Gemohing: Dari Tradisi Gotong Royong Jadi Senjata Petani Lawan Tengkulak dan Ketergantungan
Ketika Bahasa Menjadi Rumah: Gagasan Anak Muda NTT untuk Masa Depan Budaya
HARI PERS NASIONAL-JURNALIS NTT SEBAGAI “PENYEMANGAT” KEDAULATAN RAKYAT ‎
Menjaga Api Kerukunan Beragama di Indonesia
DLH Manggarai Beraksi, Lingkungan Hidup Lebih Bersih dan Sehat!
JERITAN DI SDI WONTONG: Dana BOS Mandek, Puluhan Guru Honorer Tercekik Tanpa Gaji Berbulan-bulan

Berita Terkait

Saturday, 23 May 2026 - 19:18

OPINI TAJAM & EDUKATIF

Sunday, 10 May 2026 - 19:17

JEJAK OTORITARIANISME DALAM BAHASA INDONESIA

Sunday, 26 April 2026 - 21:44

Gemohing: Dari Tradisi Gotong Royong Jadi Senjata Petani Lawan Tengkulak dan Ketergantungan

Wednesday, 8 April 2026 - 23:52

PNS Simbol Kesusksesan Atau Ekspresi Dari Kemiskinan

Friday, 20 March 2026 - 09:01

Ketika Bahasa Menjadi Rumah: Gagasan Anak Muda NTT untuk Masa Depan Budaya

Berita Terbaru

Korban dugaan penganiayaan berinisial KD (kanan) didampingi salah satu kuasa hukumnya, I Putu Agus Alit Diva Pranata, S.H. (kiri), usai membuat laporan resmi di Polsek Marga, Kabupaten Tabanan, Bali. Korban melaporkan dugaan tindak penganiayaan yang diduga dilakukan oleh ayah dari mantan kekasihnya. Saat ini kasus tersebut masih dalam proses penyelidikan pihak kepolisian. Sumber foto dok: Adv Florianus.

Hukum

Hubungan Asmara yang Berakhir Pidana

Tuesday, 2 Jun 2026 - 14:46