NEWSLINE.ID – Opini Febri Bintara || Menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) masih dianggap sebagai salah satu standar kesuksesan di masyarakat Indonesia. Fenomena ini bukan sekadar pilihan pribadi, melainkan cerminan kondisi ekonomi yang rapuh serta sistem pendidikan yang gagal menumbuhkan kesadaran kritis.
Dalam situasi ekonomi yang penuh ketidakpastian, pekerjaan dengan gaji tetap, tunjangan, dan jaminan hari tua dipandang sebagai ruang aman. Negara pun dipersepsikan sebagai “majikan ideal” karena mampu memberikan stabilitas yang tidak ditawarkan sektor lain. Hal ini membuat profesi PNS bukan hanya dilihat sebagai pekerjaan, tetapi juga simbol status dan legitimasi sosial.
Kecenderungan tersebut diperkuat oleh sistem pendidikan yang masih menempatkan peserta didik sebagai penerima pasif pengetahuan. Kritik Paulo Freire menyebut, pendidikan semacam ini gagal mendorong mahasiswa untuk membaca realitas sosial secara kritis. Akibatnya, nilai dominan seperti anggapan bahwa stabilitas adalah tujuan utama semakin mengakar.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Perbedaan latar belakang kelas juga memengaruhi standar kesuksesan. Masyarakat dengan modal dan alat produksi cenderung mendorong anak-anaknya membangun usaha mandiri. Sebaliknya, kelompok miskin lebih mengidealkan PNS sebagai jalan keluar dari ketidakpastian hidup. Fluktuasi harga komoditas pertanian dan tingginya ongkos produksi turut membuat profesi petani semakin ditinggalkan.
Ironi ini menunjukkan bahwa PNS sebagai standar kesuksesan merupakan ekspresi dari kemiskinan itu sendiri. Stabilitas yang ditawarkan dianggap semu, karena hanya memberi rasa aman tanpa membuka ruang kebebasan.
Tulisan ini menegaskan, kesuksesan sejati tidak ditentukan oleh seragam atau jabatan birokrasi. Kesuksesan adalah kemampuan hidup sebagai manusia yang utuh, berpikir bebas, dan bertindak merdeka. “Kesuksesan tanpa kebebasan adalah penjara, sedangkan kesuksesan dengan kebebasan adalah kemanusiaan yang utuh,” demikian kesimpulan kritik tersebut.***
Penulis : DJB
Editor : DJOHANES JULIUS BENTAH









