Gemohing: Dari Tradisi Gotong Royong Jadi Senjata Petani Lawan Tengkulak dan Ketergantungan

Sunday, 26 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opini: Videlis Ara Petun | NEWSLINE.ID – Di banyak desa di Indonesia, petani masih menjadi tulang punggung kehidupan. Mereka bangun pagi, mengolah tanah, merawat tanaman, lalu menunggu panen dengan harapan sederhana: hasil cukup untuk hidup.

Namun di balik kerja keras itu, ada persoalan struktural yang terus berulang akses modal terbatas, informasi pasar minim, dan posisi tawar lemah. Akibatnya, kendali atas harga dan distribusi hasil pertanian lebih banyak ditentukan pihak luar, bukan petani sendiri.

Di Lamaholot, pola ini tampak jelas. Tengkulak menjadi satu-satunya jalur. Petani meminjam uang ke tengkulak, lalu menjual hasil panen ke orang yang sama. Relasi ini tampak akrab, bahkan menyerupai kekeluargaan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun di balik kedekatan itu, ada ikatan patron-klien: petani tetap bergantung, sementara kendali ada di tangan tengkulak. Ketimpangan ini terus diproduksi dari waktu ke waktu.

Dalam situasi seperti ini, gemohing tradisi kerja bersama masyarakat Lamaholot menjadi relevan. Gemohing bukan sekadar gotong royong.

Ia mengandung nilai kepercayaan, solidaritas, dan kebersamaan. Nilai yang selama ini menjadi kekuatan sosial masyarakat.

Dalam perspektif teori, gemohing adalah modal sosial. Sayangnya, kekuatan ini belum dimanfaatkan untuk menjawab persoalan ekonomi yang menjerat petani.

Gemohing bisa lebih dari sekadar tradisi. Ia bisa menjadi ruang kolektif untuk membicarakan harga hasil kebun, utang, dan ketergantungan. Dari obrolan kecil, bisa tumbuh kesadaran bahwa masalah petani bukan sekadar soal individu, melainkan soal sistem.

Namun, gemohing juga rawan dimanfaatkan elit untuk kepentingan sempit. Karena itu, penting menjaga agar ia tetap milik bersama.

Alternatif ini masuk akal karena berangkat dari kekuatan yang sudah ada. Di tengah keterbatasan modal dan akses pasar, kebersamaan adalah modal paling nyata. Tidak perlu menunggu program dari luar yang sering datang sebentar lalu hilang.

Tradisi serupa gemohing juga ada di banyak daerah lain di Indonesia, meski dengan nama berbeda. Artinya, pendekatan ini bisa diperluas.

Gemohing bukan sekadar warisan lama. Ia masih hidup. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk memaknainya kembali sebagai jalan keluar dari ketergantungan. ***

Penulis : DJB

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Tindak Pidana Kecelakaan Lalu Lintas yang Dilakukan Anak di Bawah Umur Karena Culpa Menyebabkan Meninggalnya Orang Lain.
Jangan Takut Ancaman Rentenir! Pahami Hak Anda dan Langkah Hukum Menghadapinya
DIGITAL NOMAD VISA (E33G): Solusi atau Malah Salah Sasaran?
MERANTAU BUKAN BUDAYA, TAPI AKIBAT LEMAHNYA TATA KELOLA: MEMBACA ULANG ALASAN ANAK MUDA NTT PERGI MERANTAU
Melestarikan Budaya Lokal sebagi Identitas Nasional di Tengah Arus Globalisasi dan Perkembangan Teknologi ‎
Bukan Gelar yang Menilaimu, Melainkan Caramu Memperlakukan Sesama
OPINI TAJAM & EDUKATIF
JEJAK OTORITARIANISME DALAM BAHASA INDONESIA

Berita Terkait

Friday, 7 August 2026 - 12:01

Tindak Pidana Kecelakaan Lalu Lintas yang Dilakukan Anak di Bawah Umur Karena Culpa Menyebabkan Meninggalnya Orang Lain.

Sunday, 2 August 2026 - 21:39

Jangan Takut Ancaman Rentenir! Pahami Hak Anda dan Langkah Hukum Menghadapinya

Thursday, 16 July 2026 - 15:52

DIGITAL NOMAD VISA (E33G): Solusi atau Malah Salah Sasaran?

Tuesday, 7 July 2026 - 19:42

MERANTAU BUKAN BUDAYA, TAPI AKIBAT LEMAHNYA TATA KELOLA: MEMBACA ULANG ALASAN ANAK MUDA NTT PERGI MERANTAU

Wednesday, 10 June 2026 - 04:11

Melestarikan Budaya Lokal sebagi Identitas Nasional di Tengah Arus Globalisasi dan Perkembangan Teknologi ‎

Berita Terbaru