Ketika Bahasa Menjadi Rumah: Gagasan Anak Muda NTT untuk Masa Depan Budaya

Friday, 20 March 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Albiana Kasih, finalis Duta Bahasa NTT 2026, mahasiswa Program Studi Antropologi Sosial semester IV(4) Universitas Muhammadiyah Kupang.(Foto:Dok Newsline/Hefri)

Albiana Kasih, finalis Duta Bahasa NTT 2026, mahasiswa Program Studi Antropologi Sosial semester IV(4) Universitas Muhammadiyah Kupang.(Foto:Dok Newsline/Hefri)

Penulis: Albiana Kasih Opini || Newsline NTT – Ajang Pemilihan Duta Bahasa NTT 2026 kembali digelar oleh Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kegiatan tahunan yang berada di bawah naungan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi ini bukan sekadar seremoni seleksi, tetapi menjadi ruang strategis untuk melahirkan generasi muda yang peduli terhadap penggunaan bahasa, literasi, dan pelestarian identitas budaya.

‎Di tengah arus globalisasi yang semakin kuat, bahasa sering kali menjadi hal yang terpinggirkan. Padahal, bahasa bukan hanya alat komunikasi, melainkan juga wadah yang menyimpan nilai, sejarah, serta cara pandang suatu masyarakat. Kesadaran inilah yang coba dibangun melalui ajang Duta Bahasa, termasuk di wilayah Nusa Tenggara Timur yang dikenal memiliki kekayaan bahasa daerah yang luar biasa.

‎Salah satu finalis tahun ini, Albiana Kasih, hadir membawa perspektif yang menarik. Dengan latar belakang pendidikan di bidang Antropologi, ia memandang bahasa tidak hanya dari sisi linguistik, tetapi juga sebagai bagian tak terpisahkan dari kebudayaan manusia. Baginya, bahasa adalah “rumah” bagi identitas sebuah komunitas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

‎”Di Antropologi, kami belajar bahwa bahasa itu adalah rumah dari sebuah budaya. Kalau bahasanya hilang, maka hilang juga identitas dan sejarah orang-orang di dalamnya,” ujar Albiana Kasih saat berbincang dengan wartawan media Neswline NTT pada 19 Maret 2026.

‎Pandangan tersebut menjadi refleksi penting, khususnya bagi masyarakat NTT yang memiliki ratusan bahasa daerah. Tanpa upaya sadar untuk menjaga dan menggunakan bahasa-bahasa tersebut, bukan tidak mungkin sebagian akan punah seiring berjalannya waktu. Di sinilah peran generasi muda menjadi sangat amatlah penting.

‎Sejalan dengan visi Balai Bahasa, Albiana juga menegaskan komitmennya dalam menghidupkan kembali semangat Trigatra Bangun Bahasa. Ia menilai bahwa konsep ini bukan hanya slogan, tetapi harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari secara nyata.

‎”Sebagai anak muda dan salah satu finalis Duta Bahasa, saya sudah semestinya mengajak teman-teman untuk mengutamakan Bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu kita yang sangat beragam. Di saat yang sama, kita tidak boleh malu untuk melestarikan bahasa daerah, karena di situlah akar jati diri kita sebagai orang NTT,” jelasnya.

‎Lebih jauh, ia juga menyoroti pentingnya penguasaan bahasa asing sebagai jembatan menuju dunia global. Menurutnya, identitas lokal dan kemampuan global tidak perlu dipertentangkan. Justru keduanya bisa berjalan beriringan dan saling menguatkan.

‎”Kita harus menguasai bahasa asing. Dengan bahasa asing, kita bisa menceritakan kehebatan budaya NTT dan Indonesia kepada orang-orang di seluruh dunia,” tambahnya.

‎Pandangan ini menjadi relevan di era digital saat ini, di mana batas-batas geografis semakin kabur. Generasi muda tidak hanya dituntut untuk bangga dengan identitasnya, tetapi juga mampu memperkenalkannya ke tingkat internasional.

‎Melalui ajang Duta Bahasa NTT 2026, Albiana berharap dapat menjadi bagian dari gerakan yang lebih besar menginspirasi generasi muda untuk mencintai bahasa Indonesia, menjaga bahasa daerah, serta meningkatkan kemampuan bahasa asing sebagai bekal menghadapi persaingan global.

‎Pada akhirnya, menjaga bahasa berarti menjaga jati diri. Dan dari langkah-langkah kecil yang dimulai oleh generasi muda hari ini, masa depan kebudayaan NTT akan tetap hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman.***

Penulis : Hefri Persli

Editor : Sardiyanto

Berita Terkait

Pemkot Kupang dan Kejari Kota Kupang Perkuat Komitmen Cegah Persoalan Hukum dalam Penyelenggaraan Pemerintahan ‎
Budaya Apatisme Politik Vs Bertahan Hidup: Wajah Kemiskinan Struktural di NTT
Alumni Undana Jadi Korban Penembakan, BEM Undana Desak Pengusutan Tuntas ‎
Mahasiswa FISIP UNWIRA, Bedah Ketimpangan Struktural NTT Lewat Diskusi Kritis Lapak Neraka 
Mahasiswa KKN UMKOE Sosialisasikan Pencegahan Bullying di SD Impres Kuanino 3
Cegah Bullying Sejak Dini, Mahasiswa KKN Reguler UM.Koe Sosialisasi di SD Inpres Naikoten 2
81 Merdeka, Buku #Reset Indonesia Bongkar Cara Pusat Mengelola Daerah
Tinju Piala Wali Kota: Olahraga Jadi Energi Kemanusiaan

Berita Terkait

Wednesday, 7 October 2026 - 00:41

Pemkot Kupang dan Kejari Kota Kupang Perkuat Komitmen Cegah Persoalan Hukum dalam Penyelenggaraan Pemerintahan ‎

Wednesday, 16 September 2026 - 20:02

Budaya Apatisme Politik Vs Bertahan Hidup: Wajah Kemiskinan Struktural di NTT

Thursday, 10 September 2026 - 21:31

Alumni Undana Jadi Korban Penembakan, BEM Undana Desak Pengusutan Tuntas ‎

Wednesday, 9 September 2026 - 00:49

Mahasiswa FISIP UNWIRA, Bedah Ketimpangan Struktural NTT Lewat Diskusi Kritis Lapak Neraka 

Tuesday, 1 September 2026 - 12:21

Mahasiswa KKN UMKOE Sosialisasikan Pencegahan Bullying di SD Impres Kuanino 3

Berita Terbaru

Hukum

PERSELISIHAN KERJA SAMA USAHA BERAKHIR DAMAI

Friday, 2 Oct 2026 - 12:42