Penulis: Albiana Kasih Opini || Newsline NTT – Ajang Pemilihan Duta Bahasa NTT 2026 kembali digelar oleh Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kegiatan tahunan yang berada di bawah naungan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi ini bukan sekadar seremoni seleksi, tetapi menjadi ruang strategis untuk melahirkan generasi muda yang peduli terhadap penggunaan bahasa, literasi, dan pelestarian identitas budaya.
Di tengah arus globalisasi yang semakin kuat, bahasa sering kali menjadi hal yang terpinggirkan. Padahal, bahasa bukan hanya alat komunikasi, melainkan juga wadah yang menyimpan nilai, sejarah, serta cara pandang suatu masyarakat. Kesadaran inilah yang coba dibangun melalui ajang Duta Bahasa, termasuk di wilayah Nusa Tenggara Timur yang dikenal memiliki kekayaan bahasa daerah yang luar biasa.
Salah satu finalis tahun ini, Albiana Kasih, hadir membawa perspektif yang menarik. Dengan latar belakang pendidikan di bidang Antropologi, ia memandang bahasa tidak hanya dari sisi linguistik, tetapi juga sebagai bagian tak terpisahkan dari kebudayaan manusia. Baginya, bahasa adalah “rumah” bagi identitas sebuah komunitas.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
”Di Antropologi, kami belajar bahwa bahasa itu adalah rumah dari sebuah budaya. Kalau bahasanya hilang, maka hilang juga identitas dan sejarah orang-orang di dalamnya,” ujar Albiana Kasih saat berbincang dengan wartawan media Neswline NTT pada 19 Maret 2026.
Pandangan tersebut menjadi refleksi penting, khususnya bagi masyarakat NTT yang memiliki ratusan bahasa daerah. Tanpa upaya sadar untuk menjaga dan menggunakan bahasa-bahasa tersebut, bukan tidak mungkin sebagian akan punah seiring berjalannya waktu. Di sinilah peran generasi muda menjadi sangat amatlah penting.
Sejalan dengan visi Balai Bahasa, Albiana juga menegaskan komitmennya dalam menghidupkan kembali semangat Trigatra Bangun Bahasa. Ia menilai bahwa konsep ini bukan hanya slogan, tetapi harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari secara nyata.
”Sebagai anak muda dan salah satu finalis Duta Bahasa, saya sudah semestinya mengajak teman-teman untuk mengutamakan Bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu kita yang sangat beragam. Di saat yang sama, kita tidak boleh malu untuk melestarikan bahasa daerah, karena di situlah akar jati diri kita sebagai orang NTT,” jelasnya.
Lebih jauh, ia juga menyoroti pentingnya penguasaan bahasa asing sebagai jembatan menuju dunia global. Menurutnya, identitas lokal dan kemampuan global tidak perlu dipertentangkan. Justru keduanya bisa berjalan beriringan dan saling menguatkan.
”Kita harus menguasai bahasa asing. Dengan bahasa asing, kita bisa menceritakan kehebatan budaya NTT dan Indonesia kepada orang-orang di seluruh dunia,” tambahnya.
Pandangan ini menjadi relevan di era digital saat ini, di mana batas-batas geografis semakin kabur. Generasi muda tidak hanya dituntut untuk bangga dengan identitasnya, tetapi juga mampu memperkenalkannya ke tingkat internasional.
Melalui ajang Duta Bahasa NTT 2026, Albiana berharap dapat menjadi bagian dari gerakan yang lebih besar menginspirasi generasi muda untuk mencintai bahasa Indonesia, menjaga bahasa daerah, serta meningkatkan kemampuan bahasa asing sebagai bekal menghadapi persaingan global.
Pada akhirnya, menjaga bahasa berarti menjaga jati diri. Dan dari langkah-langkah kecil yang dimulai oleh generasi muda hari ini, masa depan kebudayaan NTT akan tetap hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman.***
Penulis : Hefri Persli
Editor : Sardiyanto









