Newsline NTT – Bapak Dominggus Ulu Kehi, seorang petani penyandang disabilitas, masih bertahan tinggal di rumah tidak layak huni di Dusun Baumauk, Desa Renrua, Kecamatan Raimanuk, Kabupaten Belu. Kondisi tersebut telah dijalani bersama keluarganya selama kurang lebih sepuluh tahun di tengah keterbatasan ekonomi.
Kisah ini terungkap saat tim media melakukan peninjauan langsung ke lokasi pada Kamis (19/03/2026). Dari hasil pantauan, rumah yang ditempati tampak rusak berat. Dinding batako retak bahkan jebol di beberapa bagian, sementara atap dari kayu lapuk dan seng bekas terlihat miring dan tidak lagi mampu melindungi penghuni dari cuaca.
Di dalam rumah, kondisi serba terbatas. Satu ruangan digunakan untuk berbagai aktivitas, termasuk makan, dengan peralatan seadanya. Situasi ini menunjukkan kebutuhan mendesak akan hunian yang lebih layak dan aman.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebagai kepala keluarga, Dominggus tetap bekerja sebagai petani meski mengalami keterbatasan pada bagian kaki. Ia memilih bertahan dalam kondisi tersebut demi memastikan pendidikan anak-anaknya tetap berjalan.
“Yang penting anak bisa sekolah sampai selesai dan punya masa depan yang lebih baik,” ujarnya.
Diketahui, keluarga ini beranggotakan delapan orang dengan enam anak. Tiga di antaranya masih bersekolah, sementara tiga lainnya terpaksa putus sekolah akibat tekanan ekonomi. Salah satu anaknya,WalFrida Muti Ulu, kini telah memasuki semester (8) akhir dan baru menyelesaikan proposal studinya. Anak lainnya, Maria Sembrianti Ulu, masih duduk di bangku SMP, sementara Julio Krisantus Ulu masih berada di jenjang PAUD.
Keluarga ini juga tercatat sebagai penerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH). Meski demikian, bantuan tersebut belum mampu sepenuhnya menjawab kebutuhan hidup, termasuk perbaikan rumah.
Selama satu dekade terakhir, mereka tetap bertahan di rumah tersebut dengan berbagai risiko, terutama saat hujan dan angin kencang. Kondisi ini pun mendapat perhatian masyarakat sekitar yang berharap pemerintah segera memberikan bantuan, khususnya program rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).
Selain faktor ekonomi, status Dominggus sebagai penyandang disabilitas dinilai menjadi alasan kuat untuk mendapatkan prioritas bantuan. Harapan pun disampaikan agar pemerintah desa hingga kabupaten dapat segera mengambil langkah nyata.
Diketahui, kepala keluarga Dominggus Ulu Kehi tinggal bersama istrinya, Yolenta Kolo, dan anak-anak mereka di alamat Dusun Baumauk, Desa Renrua, Kecamatan Raimanuk, Kabupaten Belu.***
Penulis : Kontributor:Cesy
Editor : Sardiyanto









