NEWSLIN.DI – Universitas Muhammadiyah Kupang (UMKoe) mewisuda 167 lulusan dalam Wisuda Sarjana ke-36 dan Pascasarjana ke-2 yang digelar di Aula Utama Kampus UMKoe, Kamis, 4 Juni 2026. Prosesi tersebut sekaligus menjadi momentum refleksi satu tahun kepemimpinan Rektor UMKoe, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si.
Para lulusan berasal dari enam fakultas dan satu program pascasarjana. Acara dihadiri Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melki Laka Lena, Kepala LLDIKTI Wilayah XV NTT Prof. Dr. Adrianus Amheka, unsur Forkopimda, TNI, Polri, pimpinan Muhammadiyah, anggota DPRD NTT, unsur peradilan agama, pimpinan perguruan tinggi, serta orang tua wisudawan.
Dalam sambutannya, Nazaruddin menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung perkembangan UMKoe.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Yang terhormat Gubernur Nusa Tenggara Timur, Bapak Emanuel Melki Laka Lena, Kepala LLDikti Wilayah NTT, Bapak Dr. Rafiannis, serta seluruh tamu undangan yang saya hormati. Terima kasih atas dukungan yang selama ini diberikan kepada Universitas Muhammadiyah Kupang,” katanya.
Menurut Nazaruddin, perguruan tinggi saat ini menghadapi tantangan besar akibat percepatan transformasi digital dan perkembangan teknologi yang semakin masif.
“Pesatnya perkembangan machine learning, teknologi digital, dan artificial intelligence menuntut kemampuan adaptasi, kolaborasi, serta agility dari dosen, mahasiswa, dan seluruh sivitas akademika,” ujarnya.
Ia menegaskan kampus harus mampu menjawab persoalan masyarakat dan tidak terjebak dalam birokrasi yang rumit.
“Perguruan tinggi harus hadir sebagai pusat solusi, bukan pusat kerumitan di tengah masyarakat,” katanya.
Dalam laporan perkembangan institusi, Nazaruddin menyebut UMKoe tengah memfokuskan diri pada penguatan tata kelola, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta pembenahan sistem organisasi.
“Fokus kami adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan sistem organisasi, serta tata kelola universitas yang lebih baik,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa proses konsolidasi kelembagaan terus dilakukan untuk memperkuat fondasi universitas.
“Penataan sistem, konsolidasi kelembagaan, serta penguatan tata kelola keuangan menjadi bagian penting dalam pengembangan universitas,” katanya.
Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah NTT, Muksin, mengapresiasi dukungan pemerintah daerah dan berbagai pihak terhadap pengembangan pendidikan tinggi Muhammadiyah di Nusa Tenggara Timur.
“Terima kasih atas dukungan semua pihak, baik pemerintah daerah, TNI, Polri, maupun seluruh elemen yang terus berkontribusi dalam penguatan perguruan tinggi Muhammadiyah di NTT,” ujarnya.
Muksin menilai perguruan tinggi harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang berlangsung cepat.
“Perguruan tinggi harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital dan artificial intelligence, serta menjadikannya sebagai pusat solusi bagi masyarakat, bukan justru menjadi pusat kerumitan,” katanya.
Menurut dia, tata kelola kampus yang kuat menjadi syarat penting untuk meningkatkan daya saing institusi.
“Kami menekankan pentingnya tata kelola internal yang kokoh, kompak, dinamis, adaptif, dan inovatif untuk meningkatkan kualitas dan daya saing universitas,” ujarnya.
Kepada para lulusan, Muksin mengingatkan bahwa wisuda bukanlah akhir perjalanan.
“Wisuda ini bukan akhir, tetapi awal dari perjalanan pengabdian yang sesungguhnya. Saudara adalah kader intelektual yang harus membawa nilai-nilai Islam berkemajuan, menjadi agen perubahan, dan memberi manfaat bagi masyarakat,” katanya.
Ia juga berpesan agar para lulusan terus belajar dan mengembangkan diri.
“Jangan pernah berhenti belajar, karena ilmu terus berkembang. Jadikan kelulusan ini sebagai awal untuk terus bertumbuh dan berkontribusi bagi bangsa dan negara,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala LLDIKTI Wilayah XV NTT, Prof. Adrianus Amheka, menekankan pentingnya keseimbangan antara kompetensi akademik dan kemampuan sosial dalam menghadapi tantangan masa depan.
“Kompetensi bidang yang dimiliki para lulusan memang sudah baik, namun belum cukup tanpa dibarengi dengan kompetensi sosial,” katanya.
Menurut Adrianus, kemajuan teknologi tidak akan memberikan manfaat maksimal tanpa kemampuan membangun relasi dan kolaborasi.
“Tanpa kompetensi sosial yang baik, kemajuan teknologi tidak akan mampu bekerja secara maksimal dalam pembangunan manusia dan ekonomi,” ujarnya.
Ia juga menegaskan pentingnya perguruan tinggi menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan terbuka terhadap keberagaman.
“Perguruan tinggi harus menjadi ruang yang inklusif, multikultural, dan mampu mencetak SDM yang siap menghadapi perubahan zaman,” katanya.
Adrianus menambahkan LLDIKTI Wilayah XV NTT akan terus memperkuat pembinaan perguruan tinggi, memperluas akses pendidikan, serta menjembatani kolaborasi antara kampus, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya.
Dalam kesempatan yang sama, Gubernur NTT Emanuel Melki Laka Lena mengingatkan para lulusan agar tidak cepat berpuas diri setelah menyandang gelar akademik.
“Jangan cepat berpuas diri dengan gelar yang diperoleh hari ini. Dunia kerja membutuhkan orang-orang yang terus belajar, beradaptasi, dan berinovasi,” katanya.
Ia juga mendorong generasi muda NTT untuk mengambil peran dalam pengembangan sektor-sektor produktif di daerah.
“Anak-anak muda NTT harus berani masuk ke sektor pertanian, peternakan, industri kreatif, dan UMKM. Potensi ekonomi daerah masih sangat besar untuk dikembangkan,” ujarnya.***
Penulis : DJOHANES JULIUS BENTAH
Editor : DJB








