Newsline NTT – Front Mahasiswa Nasional (FMN) Cabang Kupang menggelar perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-23 organisasi tersebut. Acara yang mengusung semangat refleksi perjuangan ini dilaksanakan di pelataran Kampus Universitas Katolik Widya Mandira (Unika) Kupang, pada Senin (18/5/2026) malam.
Perayaan ini menandai perjalanan panjang FMN sejak didirikan pada 18 Mei 2003 hingga kini. Kegiatan tersebut dimaknai sebagai ruang refleksi kritis terhadap eksistensi FMN sebagai organisasi independen yang konsisten mengabdi kepada rakyat.
Acara dibuka dengan suasana khidmat melalui pertunjukan tarian tradisional,dan teatrikal serta dilanjutkan dengan penyanyian Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dan Mars FMN. Kehadiran berbagai elemen mahasiswa dari sejumlah kampus di Kupang turut memeriahkan dan memberikan makna mendalam bagi acara tersebut. Para peserta, tamu undangan, serta perwakilan elemen mahasiswa mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan penuh antusias dan keseriusan. Melalui momen ini, FMN Kupang menegaskan kembali komitmennya untuk tetap menjadi garda terdepan dalam menyuarakan aspirasi rakyat dan keberpihakan kepada kaum tertindas.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA) wilayah NTT, Sahrul Sukwan, dalam sambutannya menyatakan bahwa AGRA adalah organisasi yang berakar pada kaum tani, sehingga kehadirannya di perkotaan mungkin terasa asing bagi sebagian orang. Namun, ia menekankan pentingnya kolaborasi antara gerakan petani dan mahasiswa.
”FMN sudah selayaknya menjadi ‘mesin kampanye’ bagi kawan-kawan mahasiswa di perkotaan untuk terus membongkar sistem pendidikan yang tidak ilmiah, antidemokrasi, dan tidak mengabdi kepada rakyat,” ujar Sahrul.
Ia menambahkan bahwa selain memperjuangkan nasib mahasiswa di kampus, FMN diharapkan turun langsung ke tengah-tengah jutaan penderitaan rakyat Indonesia. Sahrul menyoroti situasi krisis global saat ini, baik di sektor internasional maupun nasional, yang ditandai oleh overproduksi di negara-negara imperialis. Krisis ini memicu pertentangan antarnegara imperialis yang sulit didamaikan, baik secara politik maupun militer.
”Akibat krisis ini, negara-negara dunia ketiga atau setengah feodal seperti Indonesia, yang tidak memiliki modal untuk bersaing di tingkat internasional dan industri nasional karena luasnya monopoli tanah di desa, hanya bisa mengekor pada kebijakan imperialis. Hal ini terbukti ketika pemerintahan Prabowo-Gibran di awal kepemimpinannya memanfaatkan kedekatan dengan Amerika Serikat untuk memuluskan kepentingan imperialis di Indonesia,” kritiknya tajam.
Sahrul juga mengingatkan bahwa menjelang dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) masih terjadi. Ia menegaskan bahwa penderitaan rakyat tidak mungkin diserahkan penyelesaiannya kepada penguasa saat ini.
”Jalan keluar yang harus ditempuh hanya bisa bersandar pada kekuatan kolektif kita tanah kita, organisasi kita. Kita tidak mungkin menitipkan nasib pada birokrasi hari ini. Maka, jalan yang harus diambil adalah terus memperbesar organisasi dan aliansi, karena hanya dengan itulah cita-cita perubahan akan kita capai,” pungkas Sahrul.
Sementara itu, Ketua Umum DPD Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) NTT, Cakti Flobamorrinci A. Kirie, membuka sambutannya dengan salam “Demokrasi Nasional”. Ia menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada FMN Cabang Kupang yang telah mendekatkan diri pada berbagai gerakan mahasiswa untuk menolak intimidasi dan ketidakadilan di tengah masyarakat NTT.
”Hubungan antara FMN dan Mahasiswa Muhammadiyah sudah sangat erat. Kita harus tetap memperkuat solidaritas ini untuk kerja-kerja kerakyatan dan keadilan, khususnya di Kota Kupang, bumi Flobamora ini. Dinamika kebangsaan hari ini sangat kompleks, sehingga banyak hal perlu diperjuangkan bersama,” kata Cakti.
Ia berharap momentum malam puncak HUT FMN ini dapat menjadi penyemangat pergerakan agar terus solid dalam memperjuangkan nilai-nilai kerakyatan dan keadilan di NTT.
”Semoga dari malam ini, kita semua termotivasi untuk terus berjuang mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat di bumi Flobamora,” tutup Cakti.***
Penulis : Sardiyanto
Editor : Redaksi








