Bukan Gelar yang Menilaimu, Melainkan Caramu Memperlakukan Sesama

Tuesday, 9 June 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

NEWSLINE.ID – Sering kali kita menilai kepribadian seseorang dari cara mereka berbicara, bersikap, atau memperlakukan orang lain. Padahal, sesungguhnya sikap menghormati orang lain adalah cermin yang paling jelas dan nyata bagi kualitas diri kita sendiri. Bagaimana kita memperlakukan sesama, baik yang lebih tua, sebaya, maupun yang kita anggap berbeda kedudukannya, akan memantulkan siapa kita sebenarnya, jauh lebih jujur daripada sekadar kata-kata manis.

Pertama, penghormatan bukanlah sesuatu yang kita berikan semata-mata karena kedudukan, kekayaan, atau jabatan seseorang. Menghormati adalah sikap dasar yang lahir dari hati yang tulus dan beradab. Ketika kita mampu bersikap sopan, mendengarkan pendapat orang lain tanpa memotong pembicaraan, dan tidak merendahkan pendirian orang lain meski berbeda dengan kita, kita sedang memperlihatkan bahwa diri kita memiliki akal budi yang luhur dan karakter yang kuat. Sebaliknya, seseorang yang mudah meremehkan, menghina, atau bersikap kasar kepada orang lain, sebenarnya sedang menampakkan kekurangan dan ketidakdewasaannya sendiri di hadapan orang lain.

Kedua, cermin ini bekerja dua arah: cara kita memperlakukan orang lain akan menentukan pula bagaimana orang melihat dan menghargai kita. Seperti ungkapan terkenal, “Apa yang kau tabur, itulah yang kau tuai.” Jika kita menyebarkan rasa hormat, kita akan dikembalikan dengan penghormatan pula. Jika kita menebar penghinaan, maka itulah yang akhirnya akan kembali kepada kita. Di sini terlihat jelas: kualitas diri seseorang tidak dinilai dari seberapa tinggi gelarnya, melainkan dari seberapa baik ia memperlakukan orang yang tidak bisa memberikan apa-apa kepadanya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketiga, menghormati orang lain juga berarti menghargai perbedaan. Di tengah masyarakat yang beragam seperti di Indonesia, khususnya di Bali yang menjunjung tinggi kerukunan, kemampuan menghormati keyakinan, pendapat, dan kebiasaan orang lain menjadi bukti kedewasaan berpikir seseorang. Orang yang berkualitas tinggi tidak akan merasa dirinya berkurang saat mengangkat harga diri orang lain. Justru, dengan menghormati sesama, ia sedang membangun martabatnya sendiri di mata lingkungan.

Sebagai penutup, mari kita sadari bahwa setiap kali kita berinteraksi dengan orang lain, kita sedang berdiri di depan sebuah cermin besar. Sikap yang kita tampilkan bukan hanya akan membayangkan wajah mereka, melainkan lebih jelas lagi—membayangkan isi hati dan kualitas jiwa kita sendiri. Menghormati orang lain bukanlah kewajiban terhadap mereka, melainkan kewajiban kita untuk menjaga dan menyempurnakan kualitas diri kita yang sesungguhnya.***

 

Oleh: Maria Oktaviani Mandala Putri

Prodi : PBSI

 

 

 

 

Penulis : DJB

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Tindak Pidana Kecelakaan Lalu Lintas yang Dilakukan Anak di Bawah Umur Karena Culpa Menyebabkan Meninggalnya Orang Lain.
Jangan Takut Ancaman Rentenir! Pahami Hak Anda dan Langkah Hukum Menghadapinya
DIGITAL NOMAD VISA (E33G): Solusi atau Malah Salah Sasaran?
MERANTAU BUKAN BUDAYA, TAPI AKIBAT LEMAHNYA TATA KELOLA: MEMBACA ULANG ALASAN ANAK MUDA NTT PERGI MERANTAU
Melestarikan Budaya Lokal sebagi Identitas Nasional di Tengah Arus Globalisasi dan Perkembangan Teknologi ‎
OPINI TAJAM & EDUKATIF
JEJAK OTORITARIANISME DALAM BAHASA INDONESIA
Gemohing: Dari Tradisi Gotong Royong Jadi Senjata Petani Lawan Tengkulak dan Ketergantungan

Berita Terkait

Friday, 7 August 2026 - 12:01

Tindak Pidana Kecelakaan Lalu Lintas yang Dilakukan Anak di Bawah Umur Karena Culpa Menyebabkan Meninggalnya Orang Lain.

Sunday, 2 August 2026 - 21:39

Jangan Takut Ancaman Rentenir! Pahami Hak Anda dan Langkah Hukum Menghadapinya

Thursday, 16 July 2026 - 15:52

DIGITAL NOMAD VISA (E33G): Solusi atau Malah Salah Sasaran?

Tuesday, 7 July 2026 - 19:42

MERANTAU BUKAN BUDAYA, TAPI AKIBAT LEMAHNYA TATA KELOLA: MEMBACA ULANG ALASAN ANAK MUDA NTT PERGI MERANTAU

Wednesday, 10 June 2026 - 04:11

Melestarikan Budaya Lokal sebagi Identitas Nasional di Tengah Arus Globalisasi dan Perkembangan Teknologi ‎

Berita Terbaru