Melestarikan Budaya Lokal sebagi Identitas Nasional di Tengah Arus Globalisasi dan Perkembangan Teknologi ‎

Wednesday, 10 June 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Rafaelinda Elisabet Nggorong 
‎Mahasiswa Semester II, Fakultas FKIP, Prodi PBSI Unika Santu Paulus Ruteng,Foto:Dok. Rafaelinda/

Rafaelinda Elisabet Nggorong ‎Mahasiswa Semester II, Fakultas FKIP, Prodi PBSI Unika Santu Paulus Ruteng,Foto:Dok. Rafaelinda/

Oleh Penulis: Rafaelinda Elisabet Nggorong,Mahasiswa Semester II, Fakultas FKIP, Prodi PBSI Unika Santu Paulus Ruteng OPINI | |Newsline NTT-Budaya merupakan salah satu kekayaan terbesar yang dimiliki oleh suatu bangsa. Budaya tidak hanya berupa tarian, lagu daerah, pakaian adat, atau upacara tradisional, tetapi juga mencakup nilai-nilai kehidupan, kebiasaan, bahasa, serta cara berpikir masyarakat. Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki keberagaman budaya yang sangat kaya. Setiap daerah memiliki ciri khas budayanya masing-masing yang menjadi identitas dan kebanggaan masyarakat setempat.

‎Menurut saya, budaya harus terus dilestarikan karena budaya merupakan jati diri bangsa. Tanpa budaya, suatu bangsa akan kehilangan identitas yang membedakannya dari bangsa lain. Di era globalisasi saat ini, masyarakat semakin mudah mengakses berbagai informasi dan budaya dari luar negeri. Kondisi ini memang memberikan banyak manfaat, tetapi juga dapat menyebabkan berkurangnya minat masyarakat, terutama generasi muda, terhadap budaya lokal. Tidak sedikit anak muda yang lebih mengenal budaya asing dibandingkan budaya daerahnya sendiri.

‎Perkembangan teknologi yang semakin pesat sebenarnya dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk melestarikan budaya. Melalui media sosial dan berbagai platform digital, masyarakat dapat memperkenalkan budaya daerah kepada khalayak yang lebih luas. Tarian tradisional, lagu daerah, cerita rakyat, dan berbagai tradisi budaya dapat dipublikasikan sehingga dikenal oleh masyarakat nasional maupun internasional. Dengan demikian, budaya tidak hanya dapat dipertahankan, tetapi juga berkembang mengikuti perubahan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai dasarnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

‎Selain itu, pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam upaya pelestarian budaya. Sekolah dapat menjadi tempat untuk menanamkan rasa cinta terhadap budaya sejak usia dini. Melalui pembelajaran tentang budaya daerah, kegiatan seni, serta berbagai kegiatan kebudayaan lainnya, peserta didik dapat memahami pentingnya menjaga warisan budaya bangsa. Pendidikan budaya juga dapat membantu membentuk karakter generasi muda agar lebih menghargai keberagaman dan memiliki rasa bangga terhadap identitas bangsanya.

‎Saya berpendapat bahwa pelestarian budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh lapisan masyarakat. Setiap individu dapat berkontribusi dengan cara sederhana, seperti mempelajari budaya daerah, menggunakan bahasa daerah dalam situasi tertentu, mengikuti kegiatan budaya, serta menghargai tradisi yang ada di lingkungan sekitar. Jika semua pihak memiliki kesadaran yang sama, budaya Indonesia akan tetap lestari dan tidak mudah tergerus oleh pengaruh budaya luar.

‎Dengan demikian, budaya merupakan aset berharga yang harus dijaga dan dilestarikan. Keberadaan budaya tidak hanya menjadi simbol identitas bangsa, tetapi juga menjadi sumber nilai-nilai kehidupan yang dapat memperkuat persatuan dan kesatuan masyarakat. Oleh karena itu, generasi muda perlu berperan aktif dalam menjaga dan mengembangkan budaya agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Dengan budaya yang kuat, bangsa Indonesia akan tetap memiliki jati diri yang kokoh di tengah perkembangan dunia yang terus berubah.(***)

Editor : Sardiyanto

Berita Terkait

Sukses Tangani Perkara Penipuan, Klien Law Firm James Richard & Partners Berinisial MK Resmi Menghirup Udara Bebas dari LP Kerobokan
UM.Koe Gelar Pembekalan KKN 2026, Siapkan 1.813 Mahasiswa Bangun NTT Melalui Kolaborasi dengan Masyarakat
Mahasiswa KKN Unwira Ubah Pisang Dusun Tuamese Jadi Anggur Bernilai Jual Tinggi
DIGITAL NOMAD VISA (E33G): Solusi atau Malah Salah Sasaran?
Pemilihan Ketua PMKRI Atambua Dinilai Tidak Transparan, Anggota Minta PP Batalkan Hasil Sidang ‎
LMID Kupang Gelar Diskusi Publik Bahas Geopolitik Dunia Baru,Peringati Harla Ke-27  ‎
Antisipasi Mafia Tanah, Sertifikat Pura, Gereja, dan Masjid di Canggu Permai Dikawal Ketat
Diduga Tipu WNA Jepang Berkedok Kontraktor, Penyidik Polda Bali Cek Fisik Proyek di Jimbaran

Berita Terkait

Tuesday, 28 July 2026 - 11:24

Sukses Tangani Perkara Penipuan, Klien Law Firm James Richard & Partners Berinisial MK Resmi Menghirup Udara Bebas dari LP Kerobokan

Monday, 27 July 2026 - 10:28

UM.Koe Gelar Pembekalan KKN 2026, Siapkan 1.813 Mahasiswa Bangun NTT Melalui Kolaborasi dengan Masyarakat

Tuesday, 21 July 2026 - 10:05

Mahasiswa KKN Unwira Ubah Pisang Dusun Tuamese Jadi Anggur Bernilai Jual Tinggi

Thursday, 16 July 2026 - 15:52

DIGITAL NOMAD VISA (E33G): Solusi atau Malah Salah Sasaran?

Sunday, 12 July 2026 - 21:12

Pemilihan Ketua PMKRI Atambua Dinilai Tidak Transparan, Anggota Minta PP Batalkan Hasil Sidang ‎

Berita Terbaru