Proyek BUMDes Sonaf Oepliki Rp190 Juta Diduga Bermasalah,Rainal Usfunan  Pertanyakan Transparansi  ‎

Saturday, 21 March 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bangunan BUMDes Sonaf Oepliki (5×7 m) senilai Rp190 juta belum rampung hingga Maret 2026, disorot IKMAS-TTS. (Dok.Ist)

Bangunan BUMDes Sonaf Oepliki (5×7 m) senilai Rp190 juta belum rampung hingga Maret 2026, disorot IKMAS-TTS. (Dok.Ist)

Newsline NTT – Ketua Ikatan Mahasiswa Timor Tengah Selatan (IKMAS-TTS), Rainal Usfunan,mempertanyakan pengelolaan proyek Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sonaf Oepliki yang menelan anggaran Rp190 juta dari dana Desa tahun 2025, namun hingga kini belum juga rampung.

‎Proyek yang ditargetkan akan selesai pada Desember 2025 itu hingga kini, Maret 2026, belum selesai. Temuan di

‎lapangan menunjukkan pekerjaan tidak sepenuhnya ditangani tenaga profesional. Kepala desa bersama pengurus BUMDes justru ikut terlibat langsung dalam pengerjaan fisik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

‎”Kami melihat langsung di lapangan, kepala desa bersama pengurus BUMDes ikut kerja. Dengan anggaran Rp190 juta, kenapa pelaksanaannya seperti kerja darurat?” tegas Rainal pada tim media  20/03/26.

‎Kepala Desa Oepliki mengakui adanya keterlambatan. Ia menyebut salah satu penyebabnya adalah kesalahan dalam perencanaan upah tenaga kerja.

‎”Perencanaan tukang terlalu rendah, jadi itu kendala. Tapi kami pastikan bulan Maret ini selesai,” ujarnya Rainal

‎Bagi IKMAS-TTS, pengakuan tersebut justru memperkuat dugaan lemahnya perencanaan sejak awal.

‎”Kalau upah tukang saja salah hitung, berarti perencanaan proyek ini tidak matang. Dampaknya jelas: pekerjaan molor dan dikerjakan tidak profesional,” kata Rainal.

‎Ia menegaskan, dalam tata kelola BUMDes, pemerintah desa seharusnya berperan sebagai pengarah dan pengawas, sementara pelaksanaan usaha dijalankan secara profesional oleh pengurus. Namun kondisi di lapangan dinilai bertolak belakang.

‎”Kalau sampai kepala desa turun kerja fisik, itu tanda manajemen tidak berjalan. Ini masalah serius dalam pengelolaan,” ujarnya.

‎Rainal juga mempertanyakan kesesuaian anggaran dengan hasil fisik proyek. Bangunan berukuran 5 x 7 meter menyerap dana Rp190 juta.

‎”Publik berhak bertanya, Rp190 juta ini digunakan untuk apa saja? Karena yang terlihat hanya bangunan kecil yang bahkan belum selesai,”kritiknya.

‎Selain itu, rencana usaha yang akan dijalankan dinilai tidak realistis. Bangunan tersebut dirancang menampung 300 ekor ayam petelur.

‎”Ukuran 5×7 mau diisi 300 ekor ayam. Ini realistis atau tidak? Kalau sejak awal sudah tidak sesuai, bagaimana bisa menghasilkan untuk desa?”ujarnya.

‎Menurutnya, tanpa kajian teknis yang matang, usaha tersebut berpotensi gagal dan tidak mencapai tujuan meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PADes).

‎Persoalan transparansi anggaran juga menjadi sorotan. Hingga kini, rincian Anggaran Pendapatan dan Belanja (RAP) BUMDes belum dibuka kepada publik.

‎”Ini uang desa, uang masyarakat. Kenapa tidak dibuka? Justru ini yang menimbulkan kecurigaan,” tegas Rainal.

‎Ia menilai, kombinasi antara pengakuan kesalahan perencanaan, keterlambatan proyek, serta tidak terbukanya dokumen anggaran menjadi alasan kuat untuk evaluasi menyeluruh.

‎”Kalau semua ini digabung, wajar publik bertanya: ini murni kesalahan perencanaan, atau ada persoalan lain dalam pengelolaan anggaran?”ujarnya.

‎Rainal mendesak pemerintah desa segera membuka seluruh dokumen anggaran dan memberikan penjelasan terbuka kepada masyarakat.

‎”Kalau tidak ada yang disembunyikan, buka saja. Transparansi itu penting untuk menjaga kepercayaan publik,” pungkasnya.

‎Hingga berita ini diturunkan, pihak pemerintah desa belum memberikan rincian lengkap terkait penggunaan anggaran Rp190 juta tersebut. ***

Penulis : Kontributor/Cesy Bunga

Editor : Sardiyanto

Berita Terkait

Dari Bangku Kuliah ke Betesda Kiu’Utenu: Langkah Pelayanan PAK’23 A untuk Gereja dan Pemuda ‎
Pemuda Oepliki Pertanyakan Realisasi Program BUMDes Rp190 Juta ‎
Kuasa Hukum Nonny L. K. L. Bantah Pernyataan Arman Tanonob yang Dinilai Menyudutkan Kliennya
Warga Eks Tim-Tim Pertanyakan Somasi, Pemda TTS Bungkam ‎
Dana Ratusan Juta Digelontorkan, BPD Oepliki Nilai BUMDes Tak Berfungsi Optimal ‎
Mahasiswa Sosiologi dan Antropologi UMK Gelar Observasi Lapangan di Benteng None, TTS
“Tangisan Nenek Obe: Uang Hasil Keringat Raib, Pelaku Ternyata Masih Anak SMP”
Bupati TTS Ancam Cabut Izin Kios Pupuk: “Kalau Hambat Petani, Tutup Saja!”

Berita Terkait

Wednesday, 20 May 2026 - 07:38

Dari Bangku Kuliah ke Betesda Kiu’Utenu: Langkah Pelayanan PAK’23 A untuk Gereja dan Pemuda ‎

Thursday, 7 May 2026 - 18:14

Pemuda Oepliki Pertanyakan Realisasi Program BUMDes Rp190 Juta ‎

Wednesday, 15 April 2026 - 12:56

Kuasa Hukum Nonny L. K. L. Bantah Pernyataan Arman Tanonob yang Dinilai Menyudutkan Kliennya

Monday, 6 April 2026 - 21:37

Warga Eks Tim-Tim Pertanyakan Somasi, Pemda TTS Bungkam ‎

Friday, 27 March 2026 - 06:20

Dana Ratusan Juta Digelontorkan, BPD Oepliki Nilai BUMDes Tak Berfungsi Optimal ‎

Berita Terbaru