Newsline NTT – 4 Desember 2025,Mahasiswa Program Studi Sosiologi dan Antropologi Fakultas FISIPOL Universitas Muhammadiyah Kupang (UMK) melaksanakan observasi lapangan di Benteng None, Desa Tetaf, Kecamatan Kuatnana, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).
Setibanya di lokasi, rombongan disambut oleh tetua adat melalui ritual adat sebagai bentuk penghormatan kepada tamu. Setelah prosesi adat, mahasiswa diperkenankan memasuki kawasan benteng dan mengikuti doa adat bersama.

Tetua adat, Andreas Tauho, memaparkan sejarah Benteng None yang dibangun pada tahun 1820 sebagai pos pertahanan pada masa peperangan. Ia menegaskan bahwa masyarakat setempat tetap mempertahankan keaslian lingkungan dan tradisi karena banyak wisatawan, termasuk dari mancanegara, yang datang untuk mempelajari sejarah, budaya, dan kehidupan suku Dawan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia juga menambahkan bahwa masyarakat sekitar masih memegang teguh nilai gotong royong serta menjaga hubungan harmonis antar-etnis. Menurutnya, penyelesaian konflik dilakukan melalui hukum adat maupun hukum negara, bergantung pada situasi yang dihadapi.
Usai kegiatan di benteng, mahasiswa melanjutkan observasi dengan berbaur dan mewawancarai masyarakat sekitar. Dalam sesi wawancara bertema kesenjangan sosial, warga setempat Maksi Tauho,menyampaikan bahwa meski Benteng None menjadi objek wisata, masyarakat masih menghadapi keterbatasan infrastruktur, terutama air bersih, jalan, dan listrik.
Pada musim panas, warga kerap mengalami kekurangan air dan harus menimba air dari sumur untuk kebutuhan sehari-hari maupun memberi minum ternak. Ia berharap pemerintah dapat memprioritaskan penyediaan air bersih sebagai kebutuhan dasar masyarakat sekaligus pendukung sektor pariwisata.
Salah satu mahasiswa, Yohanes Petor (Hans), turut membagikan pengalamannya setelah mengikuti observasi lapangan.
Menurutnya, ketertarikannya mengikuti kegiatan ini muncul dari keinginan mempelajari aspek-aspek baru terkait adat dan budaya. Ia mengaku bahwa sebelum mengikuti observasi, pemahamannya tentang multikultural sebatas keberagaman suku, adat, dan budaya yang mempertahankan nilai-nilai tradisi di tengah perkembangan zaman.
Hans menilai observasi ini membuka sudut pandang baru, terutama bahwa adat istiadat dan peninggalan leluhur tidak hanya harus dijaga, tetapi juga dapat menjadi peluang ekonomi bagi masyarakat jika dikelola dengan baik.
“Keberagaman bukan hanya soal saling menghormati, tapi setiap suku punya nilai, kelebihan, dan peluang ekonomi yang bisa dikembangkan,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan kesan mendalam terhadap masyarakat suku Dawan di Benteng None yang masih mempertahankan nilai-nilai budaya secara konsisten hingga kini.
Terkait kendala, Hans menyebut waktu observasi yang terlalu singkat sehingga belum dapat melihat aktivitas masyarakat secara menyeluruh. Namun demikian, ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan agar mahasiswa memperoleh pengalaman dan wawasan lebih luas untuk bekal dalam kehidupan bermasyarakat.***
Penulis : Sardiyanto
Editor : Hefri Persli








