Wanggameti dalam Tekanan Tambang, SIARAN PERS WALHI NTT Ruang Hidup Rakyat Dikorbankan, Krisis Ekologi Dipercepat ‎

Monday, 26 January 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto : Papan Nama Sekretariat Walhi NTT (Sumber Doc. Media Walhi NTT)
‎

Foto : Papan Nama Sekretariat Walhi NTT (Sumber Doc. Media Walhi NTT) ‎

Newsline NTT – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Eksekutif Daerah Nusa Tenggara Timur menilai aktivitas tambang rakyat yang berlangsung di kawasan Wanggameti, Kabupaten Sumba Timur, memperlihatkan satu kenyataan yang lebih dalam dari sekadar kegiatan penambangan itu sendiri: ruang hidup masyarakat terus dipersempit oleh tata kelola sumber daya alam yang gagal melindungi wilayah penting secara ekologis.

‎Hal ini disampaikan oleh Tim WALHI NTT kepada wartawan Newsline Id. Redaksi NTT melalui pesan WhatsApp pada,(26/01/2026).

‎Wanggameti merupakan bagian dari bentang alam yang memiliki fungsi vital sebagai penyangga kehidupan. Kawasan ini berkaitan erat dengan sistem hutan, tata air, dan keanekaragaman hayati yang menopang kehidupan masyarakat Sumba Timur. Ketika aktivitas pertambangan masuk, lapisan pelindung ekologis wilayah ini terkikis. Tanah terbuka, vegetasi hilang, aliran air berubah, dan kualitas lingkungan menurun.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

‎Dampak di wilayah hulu seperti Wanggameti tidak berhenti di lokasi tambang, tetapi mengalir ke wilayah hilir, memengaruhi pertanian, ketersediaan air bersih, serta keselamatan hidup masyarakat.

‎WALHI NTT melihat persoalan ini sebagai cerminan kebijakan dan praktik pengelolaan sumber daya alam yang menempatkan wilayah penting sebagai ruang yang dapat dikorbankan. Negara hadir lebih kuat dalam memberi ruang pada aktivitas ekstraksi dibanding memastikan perlindungan kawasan penyangga kehidupan. Dalam situasi ini, masyarakat sekitar justru menjadi pihak yang pertama merasakan dampak, namun paling sedikit memiliki kendali atas keputusan yang memengaruhi wilayahnya.

Potret Kerusakan Lingkungan Akibat dari Aktivitas Pertambangan di Sekitar Kawasan Wanggameti, Kab. Sumba Timur. ‎(Sumber : Doc. Foto Warga Sekitar Lokasi Tambang) ‎
Potret Kerusakan Lingkungan Akibat dari Aktivitas Pertambangan di Sekitar Kawasan Wanggameti, Kab. Sumba Timur.
‎(Sumber : Doc. Foto Warga Sekitar Lokasi Tambang)

‎Aktivitas tambang rakyat di Wanggameti juga memperlihatkan bentuk lain dari krisis tata kelola. Ketiadaan perlindungan ketat terhadap kawasan penting, lemahnya pengawasan, serta tidak adanya batas tegas terhadap wilayah yang seharusnya dijaga, membuka ruang bagi eksploitasi yang terus meluas. Kerusakan yang terjadi bukan hanya berupa perubahan fisik bentang alam, tetapi juga pelemahan daya dukung lingkungan yang selama ini menjadi penopang kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.

‎Dalam konteks NTT yang memiliki kerentanan ekologis tinggi, tekanan terhadap wilayah seperti Wanggameti membawa risiko berlipat. Curah hujan yang terbatas dan musim kering yang panjang membuat fungsi kawasan hulu sebagai penyimpan dan pengatur air menjadi sangat krusial. Ketika kawasan ini terganggu, kekeringan semakin parah, sumber air menyusut, dan beban hidup masyarakat meningkat. Perempuan, petani kecil, serta komunitas yang bergantung langsung pada alam menjadi kelompok yang paling merasakan dampaknya.

‎Situasi ini menunjukkan ketimpangan yang nyata: manfaat dari aktivitas ekstraksi bersifat sempit dan jangka pendek, sementara kerusakan ekologis ditanggung luas oleh masyarakat dan berlangsung dalam jangka panjang. Kerusakan lingkungan di Wanggameti menjadi bagian dari pola yang juga terjadi di berbagai wilayah NTT lainnya, baik melalui tambang skala besar maupun aktivitas tanpa izin, di mana keselamatan ekologis terus berada di posisi paling lemah dalam pengambilan keputusan.

‎WALHI NTT menegaskan bahwa perlindungan wilayah seperti Wanggameti harus ditempatkan sebagai prioritas utama. Kawasan dengan fungsi penyangga kehidupan tidak boleh diperlakukan sebagai cadangan ruang eksploitasi. Tanpa perubahan mendasar dalam cara negara mengelola tanah, air, dan hutan, krisis ekologis di NTT akan semakin dalam, dan masyarakat akan terus menanggung dampak dari keputusan yang tidak mereka tentukan.

‎Menjaga Wanggameti berarti menjaga keberlanjutan hidup masyarakat Sumba Timur hari ini dan generasi mendatang. Ketika wilayah penyangga kehidupan rusak, yang hilang bukan hanya lanskap alam, tetapi juga fondasi kehidupan sosial di NTT. ***

‎Penanggung Jawab Rilis: Yuvensius Stefanus Nonga (Direktur WALHI NTT)

‎Contact Person: +62 822-2888-2044

Penulis : Sardiyanto

Editor : Redaksi

Berita Terkait

TPA Overload, Ribuan Ton Sampah Menumpuk, Bali Hadapi Krisis Tata Kelola Lingkungan
Koalisi Masyarakat Sipil, Audensi dengan Pemda Sumba Timur Desak Segera Menghentikan Tambang Emas Ilegal di Wanggameti  ‎
‎Diskusi Publik FMN dan Dinas ESDM NTT ‎“Flores Pulau Panas Bumi atau Konflik Baru?”
Masyarakat Adat Tana Bu Tegas Menuntut Pengakuan atas Tanah yang Diklaim Hutan Lindung ‎
Tambang Emas Ilegal Ancam Kawasan Penyangga Taman Nasional Laiwanggi Wanggameti, Sumba Harus Diselamatkan dari Industri Ekstraktif ‎
WALHI NTT Jadi Sahabat Pengadilan bagi Warga Poco Leok dalam Gugatan PMH Bupati Manggarai
MA Jabal Nur Lembor Buktikan: Kolaborasi Santri & Pemuda adalah Kunci Menjaga Alam
Berita ini 63 kali dibaca

Berita Terkait

Thursday, 9 April 2026 - 10:51

TPA Overload, Ribuan Ton Sampah Menumpuk, Bali Hadapi Krisis Tata Kelola Lingkungan

Saturday, 28 February 2026 - 03:43

Koalisi Masyarakat Sipil, Audensi dengan Pemda Sumba Timur Desak Segera Menghentikan Tambang Emas Ilegal di Wanggameti  ‎

Friday, 27 February 2026 - 03:45

‎Diskusi Publik FMN dan Dinas ESDM NTT ‎“Flores Pulau Panas Bumi atau Konflik Baru?”

Sunday, 22 February 2026 - 13:27

Masyarakat Adat Tana Bu Tegas Menuntut Pengakuan atas Tanah yang Diklaim Hutan Lindung ‎

Saturday, 21 February 2026 - 15:05

Tambang Emas Ilegal Ancam Kawasan Penyangga Taman Nasional Laiwanggi Wanggameti, Sumba Harus Diselamatkan dari Industri Ekstraktif ‎

Berita Terbaru

I Nyoman Krisna Divayana, seorang konselor adiksi di salah satu lembaga rehabilitasi dan juga sebagai paralegal di kantor hukum James Richard and Partners. (Sumber Dok. Istimewa)

Nasional

Waspada!! Narkotika menyerang kalangan remaja dan dewasa

Thursday, 16 Apr 2026 - 11:45