Newsline NTT – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Eksekutif Daerah Nusa Tenggara Timur menilai aktivitas tambang rakyat yang berlangsung di kawasan Wanggameti, Kabupaten Sumba Timur, memperlihatkan satu kenyataan yang lebih dalam dari sekadar kegiatan penambangan itu sendiri: ruang hidup masyarakat terus dipersempit oleh tata kelola sumber daya alam yang gagal melindungi wilayah penting secara ekologis.
Hal ini disampaikan oleh Tim WALHI NTT kepada wartawan Newsline Id. Redaksi NTT melalui pesan WhatsApp pada,(26/01/2026).
Wanggameti merupakan bagian dari bentang alam yang memiliki fungsi vital sebagai penyangga kehidupan. Kawasan ini berkaitan erat dengan sistem hutan, tata air, dan keanekaragaman hayati yang menopang kehidupan masyarakat Sumba Timur. Ketika aktivitas pertambangan masuk, lapisan pelindung ekologis wilayah ini terkikis. Tanah terbuka, vegetasi hilang, aliran air berubah, dan kualitas lingkungan menurun.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dampak di wilayah hulu seperti Wanggameti tidak berhenti di lokasi tambang, tetapi mengalir ke wilayah hilir, memengaruhi pertanian, ketersediaan air bersih, serta keselamatan hidup masyarakat.
WALHI NTT melihat persoalan ini sebagai cerminan kebijakan dan praktik pengelolaan sumber daya alam yang menempatkan wilayah penting sebagai ruang yang dapat dikorbankan. Negara hadir lebih kuat dalam memberi ruang pada aktivitas ekstraksi dibanding memastikan perlindungan kawasan penyangga kehidupan. Dalam situasi ini, masyarakat sekitar justru menjadi pihak yang pertama merasakan dampak, namun paling sedikit memiliki kendali atas keputusan yang memengaruhi wilayahnya.

(Sumber : Doc. Foto Warga Sekitar Lokasi Tambang)
Aktivitas tambang rakyat di Wanggameti juga memperlihatkan bentuk lain dari krisis tata kelola. Ketiadaan perlindungan ketat terhadap kawasan penting, lemahnya pengawasan, serta tidak adanya batas tegas terhadap wilayah yang seharusnya dijaga, membuka ruang bagi eksploitasi yang terus meluas. Kerusakan yang terjadi bukan hanya berupa perubahan fisik bentang alam, tetapi juga pelemahan daya dukung lingkungan yang selama ini menjadi penopang kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.
Dalam konteks NTT yang memiliki kerentanan ekologis tinggi, tekanan terhadap wilayah seperti Wanggameti membawa risiko berlipat. Curah hujan yang terbatas dan musim kering yang panjang membuat fungsi kawasan hulu sebagai penyimpan dan pengatur air menjadi sangat krusial. Ketika kawasan ini terganggu, kekeringan semakin parah, sumber air menyusut, dan beban hidup masyarakat meningkat. Perempuan, petani kecil, serta komunitas yang bergantung langsung pada alam menjadi kelompok yang paling merasakan dampaknya.
Situasi ini menunjukkan ketimpangan yang nyata: manfaat dari aktivitas ekstraksi bersifat sempit dan jangka pendek, sementara kerusakan ekologis ditanggung luas oleh masyarakat dan berlangsung dalam jangka panjang. Kerusakan lingkungan di Wanggameti menjadi bagian dari pola yang juga terjadi di berbagai wilayah NTT lainnya, baik melalui tambang skala besar maupun aktivitas tanpa izin, di mana keselamatan ekologis terus berada di posisi paling lemah dalam pengambilan keputusan.
WALHI NTT menegaskan bahwa perlindungan wilayah seperti Wanggameti harus ditempatkan sebagai prioritas utama. Kawasan dengan fungsi penyangga kehidupan tidak boleh diperlakukan sebagai cadangan ruang eksploitasi. Tanpa perubahan mendasar dalam cara negara mengelola tanah, air, dan hutan, krisis ekologis di NTT akan semakin dalam, dan masyarakat akan terus menanggung dampak dari keputusan yang tidak mereka tentukan.
Menjaga Wanggameti berarti menjaga keberlanjutan hidup masyarakat Sumba Timur hari ini dan generasi mendatang. Ketika wilayah penyangga kehidupan rusak, yang hilang bukan hanya lanskap alam, tetapi juga fondasi kehidupan sosial di NTT. ***
Penanggung Jawab Rilis: Yuvensius Stefanus Nonga (Direktur WALHI NTT)
Contact Person: +62 822-2888-2044
Penulis : Sardiyanto
Editor : Redaksi









