Dana Aspirasi DPRD Manggarai Timur: Kerja untuk Rakyat atau Ladang Basah untuk Elit?

Thursday, 16 October 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

OPINI |NEWSLINE.ID – Pembangunan daerah tidak boleh terus berlindung di balik alasan “tunggu APBN” atau “pinjaman daerah”. Kalau retribusi tidak cukup dan pajak tidak mampu menutup utang, maka siapa sebenarnya yang gagal bekerja? Eksekutif dan legislatif adalah dua sisi mata uang. Bupati dan DPRD bukan pemadam kebakaran yang muncul hanya saat mau pemilu. Mereka adalah arsitek kebijakan yang wajib memastikan uang rakyat kembali ke rakyat.

DPRD: Mandat Publik atau Mandat Poket?

DPRD punya tiga fungsi besar yaitu pembentukan Perda, anggaran, dan pengawasan. Di atas kertas, mereka tampak gagah. Tapi mari kita bedah satu per satu tanpa basa-basi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Semua keputusan Bupati lahir dari regulasi yang dibangun dan disetujui bersama DPRD. Maka ketika muncul kebijakan yang merugikan masyarakat, jangan pura-pura lupa atau main cuci tangan. Itu produk bersama. Kalau busuk, ya busuk berjamaah.

Contoh kecil tapi telak: proyek lapen dengan batu 5/7 yang disebut fondasi tapi bukan batu gunung. Ini bukan sekadar salah teknis, ini pertanyaan moral. Siapa yang buat aturan main? Siapa yang tutup mata? Apa DPRD sudah berubah dari tangan rakyat menjadi tangan kontraktor?

Dana Aspirasi: Kenapa Selalu Jadi Hantu Tak Bertuan?

Mari bicara fakta kasar. Ada 30 anggota DPRD di Manggarai Timur. Setiap tahun mereka pegang dana aspirasi Rp1 miliar per orang. Artinya Rp30 miliar setiap tahun, dan itu bukan rahasia negara.

Kalau 30 miliar itu dibagi ke 12 kecamatan, maka tiap kecamatan seharusnya dapat Rp 2,5 miliar per tahun. Dalam lima tahun, itu menjadi Rp12,5 miliar per kecamatan. Dengan uang sebesar itu, jembatan reyot harusnya sudah berganti beton, sekolah rusak tinggal sejarah, jalan berlubang cukup jadi kenangan.

Tapi mana hasilnya?

Jangan-jangan yang tersisa hanya potongan “lowang kope” PPh, PPN, dan amplop berkedok reses. Kalau dana aspirasi ini benar-benar dijalankan sesuai juknis, Manggarai Timur sudah bisa berlari, bukan terus merangkak.

Fungsi Pengawasan: Mati Suri atau Sengaja Dimatikan?

Proyek air minum mangkrak. Infrastruktur banyak yang cacat. Pembangunan asal jadi. Semua ini mencerminkan fungsi pengawasan DPRD yang lemah atau dilumpuhkan. Pengawasan tidak cukup pakai kunjungan kerja dan foto-foto proyek. Kalau proyek bermasalah tapi tak pernah dibongkar, itu bukan kelalaian. Itu pembiaran.

2025 Saatnya Copot Baju Pudar dan Buang Pemiliknya

Kalau ada politisi yang hanya kuat karena uang, maka rakyat wajib tenggelamkan mereka di TPS. Bukan lagi waktunya bangga pada baju warna-warni tapi kerja nol. Lebih baik kembali ke warna lama yang tulus daripada warna baru yang cuma pandai mencuri start.

Manggarai Timur tidak butuh janji, tapi kerja nyata dari dana yang sudah nyata ada DANA POKIR dan DANA ASPIRASI. Kalau selama ini dana itu menguap tanpa jejak, maka 2025 harus jadi meja pengadilan rakyat.

Yang belum gentar melawan politik uang: inilah waktunya berdiri. Kalau tidak sekarang, kita akan terus ditipu oleh wajah lama yang gonta-ganti baju, tapi menghisap lewat jalur yang sama.

Pokir bukan pajangan. Aspirasi bukan celengan pribadi. Kalau diam, berarti ikut makan.***

Penulis : Safrinus Rahmat Taji

Editor : DJOHANES JULIUS BENTAH

Berita Terkait

PNS Simbol Kesusksesan Atau Ekspresi Dari Kemiskinan
IKBEM Malang Perkuat Solidaritas Antar Anggota Dengan Mengelar Lebaran Bersama
Ketika Bahasa Menjadi Rumah: Gagasan Anak Muda NTT untuk Masa Depan Budaya
Warga Soroti Kondisi Jalan di Dusun Pongcoa yang Tak Kunjung Diaspal ‎
HARI PERS NASIONAL-JURNALIS NTT SEBAGAI “PENYEMANGAT” KEDAULATAN RAKYAT ‎
Revitalisasi SMPN 6 Pcoranaka Bukti Kolaborasi yang Menguatkan Pendidikan Pedalaman
Pengurus OSIS SMAN 1 Periode 2026/2027 Pocoranaka Resmi Dilantik
Mahasiswa UT Borong Salurkan Bantuan Kemanusiaan bagi Korban Longsor Goreng Meni
Berita ini 365 kali dibaca

Berita Terkait

Wednesday, 8 April 2026 - 23:52

PNS Simbol Kesusksesan Atau Ekspresi Dari Kemiskinan

Sunday, 22 March 2026 - 17:45

IKBEM Malang Perkuat Solidaritas Antar Anggota Dengan Mengelar Lebaran Bersama

Friday, 20 March 2026 - 09:01

Ketika Bahasa Menjadi Rumah: Gagasan Anak Muda NTT untuk Masa Depan Budaya

Saturday, 21 February 2026 - 17:59

Warga Soroti Kondisi Jalan di Dusun Pongcoa yang Tak Kunjung Diaspal ‎

Monday, 9 February 2026 - 00:47

HARI PERS NASIONAL-JURNALIS NTT SEBAGAI “PENYEMANGAT” KEDAULATAN RAKYAT ‎

Berita Terbaru

I Nyoman Krisna Divayana, seorang konselor adiksi di salah satu lembaga rehabilitasi dan juga sebagai paralegal di kantor hukum James Richard and Partners. (Sumber Dok. Istimewa)

Nasional

Waspada!! Narkotika menyerang kalangan remaja dan dewasa

Thursday, 16 Apr 2026 - 11:45