OPINI: Mengenal Kampung Golow Wunis dan Suweng di Kecamatan

Monday, 9 June 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kampung Golo Wunis dan Suweng adalah dua kampung besar yang terletak di Kelurahan Tiwu Kondo, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur. Kedua kampung ini tidak hanya dikenal karena letaknya yang berdampingan, tetapi juga karena memiliki latar belakang sejarah dan budaya yang begitu erat satu sama lain. Seiring perkembangan zaman, keduanya mengalami perubahan dari segi jumlah penduduk maupun struktur sosial. Namun, nilai-nilai kearifan lokal dan rasa persaudaraan tetap tumbuh subur di antara warga kampung.

Awalnya, Golow Wunis dan Suweng berada dalam satu lingkungan yang sama. Keduanya dipandang sebagai satu kesatuan yang hidup dalam satu atap. Namun, karena pertumbuhan penduduk yang semakin pesat, muncullah pembagian wilayah yang akhirnya melahirkan dua nama kampung yang berbeda. Meski demikian, asal-usul dan latar belakang masyarakatnya masih sangat berkaitan. Kebanyakan penduduk berasal dari suku yang sama dan merupakan tuan tanah asli di kawasan tersebut.

Salah satu hal yang paling menonjol dari kedua kampung ini adalah kuatnya nilai-nilai sopan santun dan penghormatan terhadap sesama, terutama kepada para pendatang atau siapa pun yang ingin menetap. Sikap terbuka dan ramah menjadi ciri khas masyarakat di Golow Wunis dan Suweng. Mereka menjunjung tinggi prinsip hidup berdampingan dalam damai, sekaligus menghargai keberagaman sebagai kekuatan untuk mempererat hubungan sosial.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bagi masyarakat setempat, perbedaan suku, budaya, atau latar belakang bukanlah penghalang dalam membangun hubungan sosial yang harmonis. Justru dari keberagaman itulah mereka belajar memahami satu sama lain, memperkaya wawasan, dan menumbuhkan rasa cinta terhadap sesama. Ini merupakan pondasi penting dalam membentuk kehidupan masyarakat yang aman, tenteram, dan saling menghargai.

Sayangnya, di balik keharmonisan itu, muncul berbagai anggapan negatif dari sebagian pihak luar. Kampung Golow Wunis dan Suweng kerap dikaitkan dengan hal-hal yang bersifat negatif, bahkan dicurigai tanpa alasan yang jelas. Anggapan semacam ini tentu sangat disayangkan, sebab tidak mencerminkan kondisi sebenarnya yang terjadi di lapangan.

Sebagai seseorang yang lahir dan dibesarkan di lingkungan ini, saya merasa perlu menyampaikan sudut pandang yang berbeda. Penilaian terhadap suatu lingkungan seharusnya tidak didasarkan pada asumsi atau pandangan sepihak, melainkan harus melalui pemahaman yang mendalam terhadap kehidupan sosial, budaya, dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakatnya.

Faktanya, masyarakat Golow Wunis dan Suweng sangat menjunjung tinggi nilai kebersamaan. Mereka memiliki semangat gotong royong yang tinggi, terbiasa bekerja secara kolektif dalam setiap kegiatan adat maupun pembangunan kampung. Loyalitas dan kerja sama antarwarga menjadi kekuatan utama yang mendukung kemajuan kampung ini. Kegiatan seperti kerja bakti massal, upacara adat bersama, serta penyambutan tamu secara kolektif adalah bukti nyata dari solidaritas masyarakatnya.

Jika dilihat lebih dekat, kedua kampung ini sesungguhnya bisa menjadi contoh bagaimana kehidupan masyarakat lokal tetap mampu mempertahankan budaya leluhur tanpa menutup diri dari perubahan zaman. Mereka terbuka terhadap orang baru, aktif dalam kegiatan sosial, dan mampu menjaga keharmonisan hidup dalam keberagaman.

Penilaian yang sepihak dan hanya berdasarkan pengamatan singkat tanpa mengenal lebih dalam akan menimbulkan stigma yang tidak adil. Oleh karena itu, penting bagi siapa pun yang ingin memahami realitas di Golow Wunis dan Suweng untuk datang langsung, berbincang dengan masyarakat, dan melihat sendiri nilai-nilai positif yang terus dijaga hingga hari ini.

Saya pribadi merasa bangga telah tumbuh di lingkungan ini. Dari kampung inilah saya belajar tentang arti solidaritas, toleransi, dan semangat gotong royong yang sesungguhnya. Kampung kami pantas dihargai, dikenali secara jujur, dan dipandang secara adil, bukan hanya dari asumsi negatif yang tak berdasar.

Penulis: oya jarot

Berita Terkait

OPINI TAJAM & EDUKATIF
JEJAK OTORITARIANISME DALAM BAHASA INDONESIA
Gemohing: Dari Tradisi Gotong Royong Jadi Senjata Petani Lawan Tengkulak dan Ketergantungan
PNS Simbol Kesusksesan Atau Ekspresi Dari Kemiskinan
Ketika Bahasa Menjadi Rumah: Gagasan Anak Muda NTT untuk Masa Depan Budaya
HARI PERS NASIONAL-JURNALIS NTT SEBAGAI “PENYEMANGAT” KEDAULATAN RAKYAT ‎
Menjaga Api Kerukunan Beragama di Indonesia
DLH Manggarai Beraksi, Lingkungan Hidup Lebih Bersih dan Sehat!

Berita Terkait

Saturday, 23 May 2026 - 19:18

OPINI TAJAM & EDUKATIF

Sunday, 10 May 2026 - 19:17

JEJAK OTORITARIANISME DALAM BAHASA INDONESIA

Sunday, 26 April 2026 - 21:44

Gemohing: Dari Tradisi Gotong Royong Jadi Senjata Petani Lawan Tengkulak dan Ketergantungan

Wednesday, 8 April 2026 - 23:52

PNS Simbol Kesusksesan Atau Ekspresi Dari Kemiskinan

Friday, 20 March 2026 - 09:01

Ketika Bahasa Menjadi Rumah: Gagasan Anak Muda NTT untuk Masa Depan Budaya

Berita Terbaru

Korban dugaan penganiayaan berinisial KD (kanan) didampingi salah satu kuasa hukumnya, I Putu Agus Alit Diva Pranata, S.H. (kiri), usai membuat laporan resmi di Polsek Marga, Kabupaten Tabanan, Bali. Korban melaporkan dugaan tindak penganiayaan yang diduga dilakukan oleh ayah dari mantan kekasihnya. Saat ini kasus tersebut masih dalam proses penyelidikan pihak kepolisian. Sumber foto dok: Adv Florianus.

Hukum

Hubungan Asmara yang Berakhir Pidana

Tuesday, 2 Jun 2026 - 14:46