Demokrasi dan Tanggung Jawab Rakyat: Memilih dengan Hati Nurani

Sunday, 8 June 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

OPINI: HEFRI PERSLI, NEESLINE.ID Secara etimologis, kata demokrasi berasal dari bahasa Yunani, yaitu demos yang berarti “rakyat” dan kratos yang berarti “kekuatan” atau “pemerintahan”. Jika digabungkan, demokrasi bermakna “kekuasaan rakyat”.

Demokrasi merupakan bentuk pemerintahan di mana keputusan-keputusan penting—baik secara langsung maupun tidak langsung—dibuat berdasarkan kesepakatan mayoritas yang diberikan secara bebas oleh rakyat. Dalam sistem ini, rakyat memegang kekuasaan tertinggi dan menjadi penentu arah kebijakan negara.

Salah satu ciri utama demokrasi adalah pelaksanaan pemilihan umum yang bebas, jujur, dan adil. Dalam proses ini, rakyat memiliki hak untuk memilih pemimpin mereka, baik di tingkat nasional seperti Presiden, maupun di tingkat daerah seperti Gubernur, Bupati, Wali Kota, hingga Kepala Desa. Pemilihan dilakukan berdasarkan suara hati nurani, bukan karena tekanan, iming-iming, atau kepentingan sesaat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Demokrasi identik dengan prinsip “dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.” Artinya, suara rakyat memiliki peran penting dalam menentukan masa depan daerah bahkan bangsa secara keseluruhan.

Namun demikian, dalam praktiknya, demokrasi sering kali dihadapkan pada tantangan. Tidak jarang masyarakat memilih pemimpin berdasarkan kepentingan pribadi atau kelompok tertentu, bukan karena integritas atau kapabilitas calon tersebut. Pemimpin seperti ini cenderung mengabaikan kepentingan masyarakat luas, yang dapat menyebabkan kesenjangan sosial, ekonomi, dan budaya. Akibatnya, berbagai persoalan seperti kemiskinan, pengangguran, dan keterbelakangan sulit diatasi.

Di era modern saat ini, beberapa pemimpin bahkan memanfaatkan kekuasaan politik untuk melegalkan kepentingan mereka melalui konstitusi dan penerapan hukum yang tumpul terhadap sesama elit kekuasaan. Hal ini mencederai semangat demokrasi dan merusak kepercayaan publik terhadap pemerintahan.

Jika pola pikir seperti ini terus berkembang di kalangan masyarakat, maka kemajuan bangsa akan sulit dicapai. Oleh karena itu, demi mewujudkan kesejahteraan, kemakmuran, dan kemajuan dalam pembangunan serta teknologi, rakyat harus bertanggung jawab secara moral dan intelektual dalam menggunakan hak pilihnya.

Rakyat yang Bertanggung Jawab Akan Memilih Pemimpin yang:

1. Mendengarkan dan menghargai aspirasi rakyat;

2. Mengutamakan kepentingan masyarakat secara luas;

3. Tidak mementingkan kepentingan pribadi, jabatan, atau kelompok tertentu.

Selain itu, rakyat juga harus bersikap kritis terhadap isu-isu sosial dan politik yang berkembang. Dengan menjadi masyarakat yang cerdas dan sadar informasi, rakyat tidak akan mudah terjebak oleh retorika indah atau janji manis yang menyesatkan.

Demokrasi bukan hanya tentang memilih, tetapi juga tentang tanggung jawab. Dengan memilih berdasarkan hati nurani, rakyat turut serta dalam menentukan masa depan bangsa. Demokrasi yang sehat hanya bisa terwujud apabila rakyat memainkan perannya secara aktif, cerdas, dan penuh integritas.*

 

Penulis: hefri persli

Berita Terkait

OPINI TAJAM & EDUKATIF
JEJAK OTORITARIANISME DALAM BAHASA INDONESIA
Gemohing: Dari Tradisi Gotong Royong Jadi Senjata Petani Lawan Tengkulak dan Ketergantungan
PNS Simbol Kesusksesan Atau Ekspresi Dari Kemiskinan
Ketika Bahasa Menjadi Rumah: Gagasan Anak Muda NTT untuk Masa Depan Budaya
HARI PERS NASIONAL-JURNALIS NTT SEBAGAI “PENYEMANGAT” KEDAULATAN RAKYAT ‎
Menjaga Api Kerukunan Beragama di Indonesia
DLH Manggarai Beraksi, Lingkungan Hidup Lebih Bersih dan Sehat!

Berita Terkait

Saturday, 23 May 2026 - 19:18

OPINI TAJAM & EDUKATIF

Sunday, 10 May 2026 - 19:17

JEJAK OTORITARIANISME DALAM BAHASA INDONESIA

Sunday, 26 April 2026 - 21:44

Gemohing: Dari Tradisi Gotong Royong Jadi Senjata Petani Lawan Tengkulak dan Ketergantungan

Wednesday, 8 April 2026 - 23:52

PNS Simbol Kesusksesan Atau Ekspresi Dari Kemiskinan

Friday, 20 March 2026 - 09:01

Ketika Bahasa Menjadi Rumah: Gagasan Anak Muda NTT untuk Masa Depan Budaya

Berita Terbaru

Korban dugaan penganiayaan berinisial KD (kanan) didampingi salah satu kuasa hukumnya, I Putu Agus Alit Diva Pranata, S.H. (kiri), usai membuat laporan resmi di Polsek Marga, Kabupaten Tabanan, Bali. Korban melaporkan dugaan tindak penganiayaan yang diduga dilakukan oleh ayah dari mantan kekasihnya. Saat ini kasus tersebut masih dalam proses penyelidikan pihak kepolisian. Sumber foto dok: Adv Florianus.

Hukum

Hubungan Asmara yang Berakhir Pidana

Tuesday, 2 Jun 2026 - 14:46