NEWSLINE-NTT – Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Kupang menggelar nonton bareng dan diskusi film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme Zaman Kita di Garda GMNI Cabang Kupang, Naimata, Kota Kupang, Kamis, 21 Mei 2026.
Kegiatan itu menjadi ruang diskusi mahasiswa untuk membahas berbagai persoalan sosial dan kebijakan pemerintah di Papua, termasuk proyek strategis nasional (PSN).
Film dokumenter tersebut menampilkan kondisi masyarakat dan lingkungan di Papua yang disebut terdampak proyek pembangunan dan investasi berskala besar. Usai pemutaran film, diskusi menghadirkan Irvan Kurniawan sebagai pemateri.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam paparannya, Irvan mengatakan berbagai bentuk perlawanan yang muncul di Papua tidak bisa dilepaskan dari persoalan ketidakadilan sosial dan kesejahteraan masyarakat.
“Perlawanan muncul karena masyarakat merasa tidak mendapatkan keadilan. Kalau Papua benar-benar adil dan sejahtera, maka konflik dan penolakan tidak akan terus terjadi,” ujar Irvan.
Ia menilai persoalan di Papua berkaitan dengan pola pembangunan yang lebih berpihak pada kepentingan investasi dan korporasi besar dibanding masyarakat lokal.
Menurut dia, masyarakat adat sering kali hanya menjadi penonton dalam pembangunan yang berlangsung di wilayah mereka sendiri.
“Banyak investasi yang datang, tetapi masyarakat lokal tidak mendapatkan manfaat besar. Mereka justru menjadi pihak yang paling terdampak,” katanya.
Irvan juga menyinggung sejumlah proyek strategis nasional di Nusa Tenggara Timur (NTT), seperti proyek tambak garam di Rote dan tambak udang di Sumba. Ia menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam setiap proses pembangunan.
“Pemerintah perlu membuka ruang partisipasi publik. Kritik dan masukan masyarakat tidak boleh diabaikan karena itu bagian dari hak warga,” ujarnya.
Selain membahas PSN, diskusi turut menyoroti isu kedaulatan pangan. Irvan menilai pemerintah seharusnya tidak hanya berfokus pada komoditas tertentu seperti tebu dan beras, tetapi juga memperhatikan keberagaman pangan lokal.
“Kedaulatan pangan harus dibangun lewat diversifikasi pangan dan penghargaan terhadap sumber pangan lokal yang dimiliki masyarakat,” katanya.
Kegiatan nobar dan diskusi tersebut diikuti kader GMNI serta sejumlah mahasiswa di Kota Kupang. Acara berlangsung dalam suasana diskusi terbuka dan interaktif.***
Penulis : Hans
Editor : Redaksi








