NEWSLINE.ID – Universitas Muhammadiyah Kupang (UM.Koe) menggelar kuliah tamu bertajuk “Pendidikan untuk Semua” bersama Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., Rabu (5/5/2026).Acara yang berlangsung di Aula UM.Koe itu disambut antusias oleh civitas akademika. Rektor, dosen, tenaga pendidik, hingga ratusan mahasiswa hadir memenuhi ruangan.
Prosesi penyambutan dilakukan dengan pengalungan kain tenun khas NTT, menegaskan identitas UM.Koe sebagai kampus multikultural yang menjunjung tinggi keberagaman.
Wakil Rektor III Dr. Samsul Bahri, SE., MM., dalam sambutannya memaparkan situasi mahasiswa yang mengalami penurunan angka lulusan bahkan banyak mahasiswa yang harus berhenti karena kurangnya minat dan relevansi dunia kerja serta biaya pendidika. Ia juga menekankan pentingnya kuliah tamu sebagai ruang dialog kritis antara mahasiswa dan pemerintah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Mahasiswa Pertanyakan “Pendidikan untuk Semua”
Meski mengusung tema inklusif, kuliah tamu ini justru memantik pertanyaan tajam dari mahasiswa. Mereka menyoroti mahalnya biaya pendidikan dan kebijakan pemerintah yang dinilai berpotensi mempersempit akses.
“Di mana letak pendidikan untuk semua jika akses masih dibatasi oleh kemampuan ekonomi?” ungkap salah satu mahasiswa dalam sesi diskusi.
Kegelisahan juga muncul terkait wacana evaluasi hingga penutupan sejumlah program studi oleh Kemendiktisaintek. Kebijakan tersebut dianggap bisa mengurangi kesempatan masyarakat untuk menempuh pendidikan tinggi.
Isu Guru Honorer dan Bantuan Pendidikan
Selain itu, mahasiswa menyoroti nasib guru honorer menjelang berakhirnya kontrak kerja pada 31 Desember 2026. Mereka khawatir angka pengangguran meningkat jika tidak ada kejelasan kebijakan lanjutan.
Menanggapi hal itu, Abdul Mu’ti menegaskan bahwa hak atas pendidikan dijamin undang-undang. Namun ia mengingatkan, sekolah tidak semata-mata untuk mencari pekerjaan.
“Orang sekolah itu bukan hanya untuk mencari pekerjaan, tetapi untuk memperoleh ilmu, keterampilan, dan karakter,” ujarnya.
Terkait program bantuan MBG, Abdul Mu’ti menyebut telah menjangkau 43 juta siswa atau 95 persen peserta didik. Program ini dinilai meningkatkan kehadiran siswa di sekolah.
“Banyak anak lebih rajin ke sekolah karena ada MBG. Bahkan ada sekolah yang tingkat kehadirannya mencapai 95 persen,” jelasnya.
Tantangan Digitalisasi dan Solidaritas Kebijakan
Dalam paparannya, Abdul Mu’ti juga menyinggung fenomena digitalisasi. Ia mengingatkan adanya potensi “penjajahan baru” di era teknologi, di mana ketergantungan pada internet bisa menciptakan dominasi lebih kompleks dibanding penjajahan konvensional.
Soal penutupan program studi, ia menegaskan tidak memiliki kewenangan mengomentari kebijakan kementerian lain. Namun ia menekankan pentingnya solidaritas antarmenteri dalam Kabinet Merah Putih sesuai arahan Presiden.
Kuliah tamu ini ditutup dengan sesi foto bersama antara Menteri Abdul Mu’ti, pimpinan kampus, dosen, mahasiswa, serta organisasi otonom seperti IMM, PM, NA, TS, dan Aisyiyah. (*)
Penulis : Lucianos Persli
Editor : DJB








