‎Mahasiswa Elar di Kupang Gelar Refleksi keberadaan Organisasi

Sunday, 30 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

‎Penfui, 29 November 2025 Newsline.id NTT— Sejumlah mahasiswa asal Elar, Kabupaten Manggarai Timur, yang tengah menempuh studi di Kota Kupang menggelar sebuah diskusi reflektif untuk membahas keberadaan dan dinamika organisasi lokal Elar yang selama ini menaungi mereka. Diskusi ini muncul dari keprihatinan mahasiswa karena organisasi tersebut dinilai semakin tidak aktif dan kehilangan fungsinya sebagai wadah berhimpun.

‎‎Yohanes Petor, atau yang akrab disapa Hans, kepada media Newsline.id menyampaikan bahwa keberadaan organisasi bagi mahasiswa perantauan sangat penting, terutama untuk memperkuat kebersamaan dan solidaritas. Menurutnya, mahasiswa membutuhkan ruang bersama untuk saling mendukung dan membangun ikatan kekeluargaan. “Solidaritas akan menyatukan ikatan mahasiswa ke dalam suatu kelompok,” ujarnya menegaskan.

‎‎Lebih lanjut Hans memaparkan bahwa organisasi mahasiswa tidak hanya berfungsi sebagai tempat melatih kemampuan kepemimpinan, tetapi juga menjadi ruang untuk menjaga nilai-nilai budaya Manggarai Timur. Ia memandang bahwa perkembangan organisasi yang stagnan dalam sepuluh tahun terakhir membuat identitas mahasiswa Elar di Kupang semakin memudar. Hal ini menjadi alasan kuat mengapa refleksi bersama diperlukan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

‎‎Sementara itu, dalam sambutan pembuka, Barce selaku salah satu mahasiswa asal Elar, menekankan bahwa konsolidasi kembali sangat dibutuhkan demi memulihkan semangat berhimpun. Ia menyebut bahwa mahasiswa Elar yang masih berada di Kupang perlu mengevaluasi ulang keadaan organisasi. “Melihat situasi tersebut, sekelompok mahasiswa aktif asal Elar berinisiatif mengadakan ruang refleksi terbuka. Diskusi ini dilaksanakan pada Sabtu, 29 November 2025, di kawasan Penfui, Kota Kupang,” tambahnya.

‎‎Barce juga menyoroti perlunya merangkul mahasiswa baru yang datang dari Elar agar tidak terlepas dari wadah yang jelas. Ia mengatakan bahwa tanpa upaya merangkul generasi baru, organisasi akan semakin kehilangan kontinuitas. “Kita yang masih berada di Kupang perlu melihat ulang kondisi organisasi yang ada. Selain itu, kita harus merangkul adik-adik yang baru datang dari Elar,” pungkasnya.

‎‎Diskusi berlangsung cukup dinamis. Para peserta menyampaikan pandangan mengenai kondisi IMPER Kupang, organisasi mahasiswa yang selama ini menaungi mahasiswa dari dua kecamatan: Elar dan Elar Selatan. Perbedaan latar belakang dan pengalaman membuat forum semakin hidup. Banyak peserta mengungkapkan bahwa cakupan organisasi yang terlalu luas menyebabkan gerak organisasi kurang fokus dan program tidak berjalan maksimal.‎

‎Amsianus D. Lando, salah satu peserta diskusi, menyoroti persoalan tersebut dengan lebih tajam. Ia mengungkapkan bahwa IMPER selama ini menjadi organisasi besar yang menampung dua kecamatan, tetapi justru membuat kedua pihak saling bergantung. “IMPER merupakan organisasi yang besar karena menghimpun mahasiswa dari dua kecamatan. Namun hal ini juga membuat kedua pihak saling bergantung dalam menjalankan roda organisasi. Agar kajian dan gerak organisasi lebih fokus, pemekaran perlu dipertimbangkan,” jelasnya.‎

‎Setelah berlangsung hampir dua jam, para peserta diskusi akhirnya mencapai satu kesimpulan yang disepakati bersama. Mereka sepakat untuk mengupayakan pembentukan organisasi baru yang secara khusus menaungi mahasiswa asal Elar tanpa melibatkan Elar Selatan. Selain itu, mereka berkomitmen membuka ruang partisipasi bagi orang tua dan masyarakat Elar yang berdomisili di Kota Kupang agar dapat turut memberikan dukungan.‎

‎Keputusan tersebut diharapkan mampu menghidupkan kembali semangat kebersamaan serta memperkuat identitas mahasiswa asal Elar di Kupang. Para peserta meyakini bahwa dengan organisasi yang lebih fokus dan responsif, mahasiswa Elar dapat kembali aktif, solid, serta memiliki ruang yang lebih jelas dalam mengembangkan diri dan menjaga nilai-nilai budaya daerah.**

Penulis : Sardiyanto

Editor : Hefri Persli

Berita Terkait

Alumni Undana Jadi Korban Penembakan, BEM Undana Desak Pengusutan Tuntas ‎
Mahasiswa FISIP UNWIRA, Bedah Ketimpangan Struktural NTT Lewat Diskusi Kritis Lapak Neraka 
Mahasiswa KKN UMKOE Sosialisasikan Pencegahan Bullying di SD Impres Kuanino 3
Cegah Bullying Sejak Dini, Mahasiswa KKN Reguler UM.Koe Sosialisasi di SD Inpres Naikoten 2
81 Merdeka, Buku #Reset Indonesia Bongkar Cara Pusat Mengelola Daerah
Tinju Piala Wali Kota: Olahraga Jadi Energi Kemanusiaan
IKMAS-TTS Siap Distribusikan Bantuan untuk Korban Bencana di Flores
GMNI Kupang Dorong Kampus Terbitkan Kebijakan untuk Mahasiswa Terdampak Gempa NTT

Berita Terkait

Thursday, 10 September 2026 - 21:31

Alumni Undana Jadi Korban Penembakan, BEM Undana Desak Pengusutan Tuntas ‎

Wednesday, 9 September 2026 - 00:49

Mahasiswa FISIP UNWIRA, Bedah Ketimpangan Struktural NTT Lewat Diskusi Kritis Lapak Neraka 

Tuesday, 1 September 2026 - 12:21

Mahasiswa KKN UMKOE Sosialisasikan Pencegahan Bullying di SD Impres Kuanino 3

Wednesday, 26 August 2026 - 20:02

81 Merdeka, Buku #Reset Indonesia Bongkar Cara Pusat Mengelola Daerah

Sunday, 23 August 2026 - 22:05

Tinju Piala Wali Kota: Olahraga Jadi Energi Kemanusiaan

Berita Terbaru