Kupang, newsline.id || Ratusan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Kupang bersama Rektor menggelar diskusi publik bertema radikalisme dan intoleransi di Aula Utama Gedung B, Universitas Muhammadiyah Kupang.
Kegiatan ini dihadiri oleh Prof. Dr. Zainur Wula, S.Pd., M.Si., selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Kupang; Drs. H. Husen Anwar, selaku Sekretaris Umum MUI NTT; Muhammad Saleh, selaku Koordinator Penyelenggara; Dr. Idris Mboka, M.Hum., selaku Ketua Program Studi PBSI Universitas Muhammadiyah Kupang; Dr. Zulkhaedir Abdussamad, M.Si., selaku Kepala Bagian Kemahasiswaan Universitas Muhammadiyah Kupang; serta Benediktus Y.P. Kedang yang bertindak sebagai moderator kegiatan 24/06.
Dalam kegiatan tersebut, Muhammad Saleh selaku koordinator menekankan pentingnya menanamkan nilai-nilai Pancasila dalam dunia pendidikan. “Pancasila adalah ideologi negara yang mempersatukan kita dari berbagai suku, budaya, dan agama,” ujarnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Prof. Dr. Zainur Wula, S.Pd., M.Si., selaku pemateri pertama, menegaskan bahwa nilai-nilai budaya dari berbagai suku harus diterapkan dalam dunia pendidikan sebagai bagian penting dari pembentukan karakter generasi muda.
“Generasi muda penting untuk menanamkan nilai-nilai budaya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, karena saat ini banyak sekali gangguan dari budaya luar. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menerapkan nilai-nilai budaya dalam dunia pendidikan,”
Dalam kegiatan tersebut, Muhammad Saleh selaku koordinator menekankan pentingnya menanamkan nilai-nilai Pancasila dalam dunia pendidikan.
“Pancasila sebagai ideologi negara memiliki peran penting dalam mempersatukan bangsa Indonesia yang majemuk, baik dari sisi suku, budaya, maupun agama. Karena itu, nilai-nilainya harus ditanamkan secara konsisten dalam dunia pendidikan,” tegas Muhammad Saleh, selaku koordinator kegiatan.
Bapak Drs. H. Husen Anwar selaku pemateri kedua menyampaikan bahwa,
“Sebagai generasi muda, penting untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Kita harus mempersiapkan diri dengan nilai-nilai etika dan moral yang positif, menjadi pribadi yang kuat dan cerdas, agar siap menyongsong Indonesia Emas di masa depan,” ujarnya.
Ia juga menambahkan,
“Pancasila dikaji oleh Bung Karno saat beliau diasingkan di Ende. Kemudian, Bung Karno menyampaikan nilai-nilai tersebut kepada para tokoh lainnya dalam sidang BPUPKI, hingga akhirnya disepakati bersama sebagai dasar negara Indonesia,” jelasnya.
Sementara itu, Muhammad Saleh turut menegaskan,
“Seluruh generasi muda harus menanamkan nilai-nilai Pancasila untuk menjemput Indonesia Emas yang akan datang,” tuturnya dengan penuh harapan.*
Reporter: Semuel Loinenak.









