NEWSLINE.ID – Rektor Universitas Muhammadiyah Kupang (UMKOE) Nazaruddin Malik, S.E., M.Si memperkenalkan kampusnya sebagai “The Real Multicultural University” saat membuka ORMABA Squad 26. Ia menekankan keberagaman suku, agama, dan budaya sebagai bagian dari identitas kampus serta meminta mahasiswa baru menjadikan masa kuliah sebagai ruang untuk mengubah cara berpikir dan melahirkan inovasi.
Dalam sambutannya, Nazaruddin memperkenalkan Universitas Muhammadiyah Kupang (UMKOE) sebagai “The Real Multicultural University”. Ia mengatakan identitas itu menggambarkan UMKOE sebagai ruang pendidikan bagi mahasiswa dari beragam suku, agama, dan budaya.
“Memberikan wadah, menyediakan tempat bagi seluruh anak bangsa, apa pun suku, agama, dan budayanya, untuk menyatu, bergabung menjadi sebuah bangun Indonesia yang kokoh di masa yang akan datang,” kata Nazaruddin.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut dia, keberagaman di lingkungan kampus semestinya menjadi kekuatan dalam membangun kehidupan akademik. Perbedaan, kata dia, tidak seharusnya menghambat mahasiswa untuk belajar dan berkembang bersama.
Nazaruddin mengaitkan semangat multikultural itu dengan Muhammadiyah yang bergerak di bidang dakwah, pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, dan pembaruan pemikiran.
“Muhammadiyah adalah gerakan keagamaan Islam, tapi Muhammadiyah memberikan jiwa dan tempatnya untuk seluruh anak bangsa dari agama apa pun, dari suku apa pun, dari budaya apa pun dia berasal,” ujarnya.
Kepada mahasiswa baru, Nazaruddin meminta masa kuliah tidak sekadar diisi dengan aktivitas akademik. Ia mendorong mahasiswa Squad 26 UMK menjadikan masa pendidikan sebagai proses transformasi diri, termasuk dalam cara berpikir, kreativitas, kepedulian sosial, dan kemampuan berinovasi.
“Canangkan cita-cita agar selama Anda belajar di Universitas Muhammadiyah Kupang, Anda telah bertransformasi, Anda telah meningkat kemampuan atau cara berpikirnya. Anda siap melakukan inovasi-inovasi untuk membawa kemajuan bagi masyarakat,” tuturnya.
Ia berharap mahasiswa baru dapat menyelesaikan pendidikan dalam waktu sekitar tiga setengah hingga empat tahun dan kembali kepada keluarga dengan membawa keberhasilan.
Pesan tentang transformasi pendidikan itu kemudian disampaikan Nazaruddin melalui puisi berjudul “Pendidikan dan Kependidikan”. Dalam puisi tersebut, pendidikan digambarkan bukan sebagai proses mencetak manusia dalam bentuk yang seragam, melainkan sebagai proses menumbuhkan potensi melalui pengalaman dan perjalanan belajar.
“Pendidikan bukan cetakan. Ubah batu jadi permata yang berkilau. Nyala api bukan isi wadah,” demikian salah satu bagian puisi yang dibacakan Nazaruddin.
Pembukaan ORMABA kemudian berlangsung lebih interaktif. Nazaruddin bersama mahasiswa baru menyanyikan lagu dan berinteraksi dengan sejumlah mahasiswa di atas panggung.
Dalam sesi tersebut, mahasiswa diminta menyebut kembali sejumlah istilah penting dari sambutan Rektor. Salah seorang mahasiswi menyebut “Multicultural University” sebagai salah satu pesan utama.
Ia menggambarkan UMKOE sebagai ruang belajar yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai suku, ras, dan daerah untuk tumbuh bersama dalam lingkung***
Penulis : DJOHANES JULIUS BENTAH








