‎KPA melalui GESLA Salurkan Bantuan Kemanusiaan bagi Korban Bencana NTT ‎

Saturday, 22 August 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penyerahan bantuan oleh Ketua Koordinator KPA wilayah NTT,Honorarius Quintus Ebang kepada korban bencana di NTT, Jumat  (21/08/2026). Foto:INO/

Penyerahan bantuan oleh Ketua Koordinator KPA wilayah NTT,Honorarius Quintus Ebang kepada korban bencana di NTT, Jumat (21/08/2026). Foto:INO/

Newsline NTT – Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) menggalang dan menyalurkan bantuan kemanusiaan berupa 4 ton beras dan sejumlah bahan kebutuhan pokok bagi masyarakat terdampak gempa di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.

‎Bantuan tersebut disalurkan pada Jumat (21/8/2026) di tiga lokasi, yakni Desa Tonggurambang, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Desa Nangahale dan Likong Gete di Kecamatan Talibura, Desa Runut di Kecamatan Waigete, serta di wilayah Kecamatan Mego dan Tanawawo, Kabupaten Sikka.

‎Penyaluran bantuan tersebut merupakan bagian dari Gerakan Ekonomi Solidaritas Lumbung Agraria (GESLA) yang dikembangkan KPA sebagai gerakan solidaritas sosial sekaligus penguatan ekonomi kerakyatan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

‎Koordinator KPA Wilayah NTT, Honorarius Quintus Ebang, mengatakan bantuan tersebut merupakan bentuk solidaritas KPA bersama anggota terhadap masyarakat yang terdampak bencana gempa Flores.

‎“Bantuan ini berasal dari KPA melalui Gerakan Ekonomi Solidaritas Lumbung Agraria atau GESLA. Gerakan ini dibangun dengan semangat menyatukan solidaritas sosial dan ekonomi kerakyatan,” ujar Honorarius saat ditemui di lokasi penyaluran bantuan.

‎Menurutnya, GESLA merupakan praktik konkret membangun sistem pangan yang lebih adil dengan memperpendek rantai produksi dan distribusi. Melalui gerakan tersebut, petani dan nelayan sebagai produsen pangan didorong untuk terhubung langsung dengan masyarakat, termasuk kelompok buruh dan kelompok rentan sebagai konsumen.

‎“Kami dari KPA bersama organisasi rakyat juga terus memperluas gerakan tersebut melalui pembangunan aliansi strategis dengan serikat buruh, organisasi masyarakat adat, serta berbagai kelompok gerakan sosial lainnya” ungkapnya.

‎Ia melanjutkan, GESLA sendiri lahir sebagai respons terhadap krisis multidimensi yang semakin terasa sejak pandemi COVID-19. Pada saat itu, banyak buruh menghadapi ancaman kehilangan pekerjaan, sementara masyarakat juga mengalami kesulitan memperoleh pangan sehat dengan harga terjangkau. Di sisi lain, petani dan produsen pangan di desa menghadapi persoalan dalam memasarkan hasil produksinya.

‎Menurutnya, dalam dalam situasi normal, Lumbung Agraria menjadi bagian dari upaya membangun badan usaha ekonomi berbasis koperasi yang mendistribusikan dan memasarkan hasil produksi petani dan anggota serikat kepada masyarakat dengan prinsip keadilan, solidaritas, kemandirian, dan keberlanjutan.

‎Konsep tersebut juga berkaitan dengan pengembangan Desa Maju Reforma Agraria (Damara) yang dikembangkan anggota KPA, organisasi tani, dan masyarakat adat.

‎Damara mendorong masyarakat menata dan memperkuat penguasaan, penggunaan, pengusahaan tanah, produksi, distribusi, hingga konsumsi berdasarkan kebutuhan dan inisiatif masyarakat, jelasnya.

‎Dalam merespon bencana gempa di Flores, bantuan melalui GESLA terlaksana atas dukungan anggota KPA di NTT: Wahana Tani Mandiri (WTM), PBH Nusra, Sunspirit, Persatuan Masyarakat Adat Tana Bu (PMATB), Perjuangan Masyarakat Tonggungrambang dan Gerakan Muda Reforma Agraria Nangahale, jelasnya.

‎Yohanes Mere Mea, salah seorang warga Tunggurambang, Kabupaten Nagekeo, menyampaikan apresiasi kepada KPA atas bantuan yang diberikan kepada masyarakat terdampak gempa.

‎“Kami sangat membutuhkan bantuan untuk proses pemulihan akibat gempa Flores. KPA sudah sangat membantu kami melalui bantuan sembako yang luar biasa ini,” katanya.

‎Ia berharap solidaritas dan perhatian terhadap masyarakat korban gempa terus berlanjut hingga proses pemulihan kehidupan masyarakat dapat berjalan dengan baik.(*)

Penulis : Sardiyanto

Editor : Redaksi

Berita Terkait

10,4 Juta Terkumpul LSF LYCEUM dan BEMJ PBSI Universitas Muhammadiyah Kupang Respon Cepat Gelar Aksi Galang Dana Korban Gempa Flores
Dasa Cita Kedelapan Jadi Sorotan, Pemprov NTT Klaim Reformasi Birokrasi dan Pelayanan Publik Makin Meningkat
Gubernur Melki Laka Lena Gerak Cepat Pantau Dampak Gempa di Flores
Tiga Warga Adat Soge Natarmage dan Goban Runut Diputus Bebas, KPA Desak Pemerintah Selesaikan Konflik Nangahale
Masyarakat Adat Tana Bu Tegas Menuntut Pengakuan atas Tanah yang Diklaim Hutan Lindung ‎
Penetapan Anton Yohanis Bala sebagai Tersangka Dinilai Tidak Objektif, AMAN Nusa Bunga Soroti Profesionalisme Polda NTT ‎
Menunggu dibawah Reruntuhan: Ketika Regulasi Lebih Kuat dari Kemanusiaan di Manggarai Timur
Sengketa Lahan 4 Hektar di Kolisia: Aliando Gode Gugat Firmus, Pengadilan Menangkan Pemilik Sah

Berita Terkait

Saturday, 22 August 2026 - 10:40

‎KPA melalui GESLA Salurkan Bantuan Kemanusiaan bagi Korban Bencana NTT ‎

Saturday, 15 August 2026 - 23:45

10,4 Juta Terkumpul LSF LYCEUM dan BEMJ PBSI Universitas Muhammadiyah Kupang Respon Cepat Gelar Aksi Galang Dana Korban Gempa Flores

Saturday, 15 August 2026 - 13:05

Dasa Cita Kedelapan Jadi Sorotan, Pemprov NTT Klaim Reformasi Birokrasi dan Pelayanan Publik Makin Meningkat

Saturday, 15 August 2026 - 09:44

Gubernur Melki Laka Lena Gerak Cepat Pantau Dampak Gempa di Flores

Friday, 14 August 2026 - 01:27

Tiga Warga Adat Soge Natarmage dan Goban Runut Diputus Bebas, KPA Desak Pemerintah Selesaikan Konflik Nangahale

Berita Terbaru