Menunggu dibawah Reruntuhan: Ketika Regulasi Lebih Kuat dari Kemanusiaan di Manggarai Timur

Saturday, 15 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kondisi Rumah keluarga Hadi yang ambruk tertimpa musibah Banjir

Manggarai Timur, Newsline NTT — Di antara  sawah mulai menguning dan hijau pepohonan yang tampak tenang, berdiri sebuah rumah yang kini hanya tinggal separuh. Dinding depannya menganga, lantai terbelah, dan fondasi runtuh seolah menelan masa lalu pemiliknya. Di balik puing-puing itu, ada keluarga Hadi (58), yang setiap hari harus memilih bertahan — meski tanpa kepastian kapan bantuan benar-benar datang.

Rumah permanen itu dulu adalah simbol kerja keras. Setiap bata dipasang dari hasil jerih payah keluarga. Namun sejak hujan dan banjir besar menghantam kawasan Gongger pada 2023, retakan kecil menjadi awal dari tragedi panjang. Kerusakan terus membesar hingga pada 2024 dinding rumah ambruk total.

Kini bangunan yang dulunya menjadi tempat tidur, makan, dan bercengkerama berubah menjadi ancaman keselamatan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kami tidak berani tinggal di dalam lagi… takut roboh semua. Sekarang kami tinggal di pondok,” ujar Hadi, Jumat (14/11/2025).

Musibah yang Tak Kunjung Selesai

Yang membuat kisah ini lebih menyakitkan adalah harapan yang sempat terbit lalu hilang. Setelah rumah ambruk, staf BPBD Manggarai Timur datang melakukan pengecekan dan menjanjikan bantuan perbaikan. Namun hari-hari berlalu tanpa kabar.

Hujan kembali turun. Tanah kembali terkikis. Tapi janji itu tak kembali.

“Sejak staf BPBD datang, kami tunggu… tapi sampai sekarang tidak ada tindak lanjut,” ungkap Hadi.

Ketika meminta pertolongan ke Pemerintah Desa, jawaban yang diterima justru membuat keluarga Hadi semakin tidak berdaya.

Pemerintah Desa beralasan rumah berdiri di wilayah DAS sehingga sulit mendapat perhatian dalam regulasi bantuan.

Alasan demi alasan terdengar logis. Tapi bagi keluarga yang kehilangan tempat tinggal, yang terasa hanya satu hal: mereka seperti tak dianggap ada.

Menunggu Tangan Pemerintah, Bukan Sebatas Simpati

Hari ini keluarga Hadi berteduh di pondok apa adanya tanpa dinding kuat, tanpa lantai kokoh, tanpa rasa aman. Setiap malam mereka berharap rumah akan diperbaiki, bukan untuk kenyamanan, tapi untuk keselamatan.

“Kami hanya berharap Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur benar-benar turun lihat keadaan kami. Kami tidak mau tinggal di pondok terus,” harap Hadi.

Keluarga ini tidak meminta lebih. Mereka tidak menuntut kompensasi besar atau fasilitas mewah. Mereka hanya ingin kembali tinggal di rumah yang aman, seperti warga lain.

Ketika Regulasi Mengalahkan Kemanusiaan

Bencana alam memang tidak bisa dicegah. Tetapi cara meresponsnya itu adalah pilihan.

Kisah keluarga Hadi tidak semestinya menjadi kisah biasa di tengah aturan dan dokumen birokrasi. Sebab di balik kerusakan bangunan, ada manusia yang sedang berjuang, ada keluarga yang ingin hidup tanpa takut tertimpa reruntuhan, ada anak yang ingin tidur dengan tenang.

Mereka adalah warga yang butuh perlindungan bukan angka dalam laporan, bukan catatan administratif.

Ketika sebuah rumah runtuh, yang dibutuhkan bukan sekadar kunjungan dan dokumentasi tetapi kepastian bahwa warga tidak dibiarkan hidup dalam bahaya.

Keluarga Hadi masih menunggu. Dan semoga penantian itu tidak menjadi tragedi berikutnya.

 

Penulis : Gabriel Esong

Berita Terkait

“The Real Multicultural University”, Pesan Rektor UMKOE untuk Squad 26
Ahli Waris Korban Lakalantas di Denpasar Tempuh Restorative Justice, Kuasa Hukum: Hak Korban Jadi Prioritas
81 Merdeka, Buku #Reset Indonesia Bongkar Cara Pusat Mengelola Daerah
RUU Reforma Agraria Masuk Prolegnas Prioritas 2026,KPA:Serukan Reforma Agraria Sejati 
‎KPA melalui GESLA Salurkan Bantuan Kemanusiaan bagi Korban Bencana NTT ‎
UMKoe Kirim 1.000 Paket Sembako dan Tim Medis untuk Korban Gempa Flores, Rektor: Ini Tanggung Jawab Kami
BRI Peduli Salurkan Bantuan Tanggap Darurat Gempa Flores di Maumere
10,4 Juta Terkumpul LSF LYCEUM dan BEMJ PBSI Universitas Muhammadiyah Kupang Respon Cepat Gelar Aksi Galang Dana Korban Gempa Flores

Berita Terkait

Saturday, 26 September 2026 - 16:58

“The Real Multicultural University”, Pesan Rektor UMKOE untuk Squad 26

Thursday, 3 September 2026 - 21:19

Ahli Waris Korban Lakalantas di Denpasar Tempuh Restorative Justice, Kuasa Hukum: Hak Korban Jadi Prioritas

Wednesday, 26 August 2026 - 20:02

81 Merdeka, Buku #Reset Indonesia Bongkar Cara Pusat Mengelola Daerah

Monday, 24 August 2026 - 23:10

RUU Reforma Agraria Masuk Prolegnas Prioritas 2026,KPA:Serukan Reforma Agraria Sejati 

Saturday, 22 August 2026 - 10:40

‎KPA melalui GESLA Salurkan Bantuan Kemanusiaan bagi Korban Bencana NTT ‎

Berita Terbaru

Hukum

PERSELISIHAN KERJA SAMA USAHA BERAKHIR DAMAI

Friday, 2 Oct 2026 - 12:42

Foto bersama Kuasa Hukum bersama korban usai memberikan keterangan di Polsek Biboki Utara,Foto: Doc.Kuasa Hukum/
‎
‎

Kabupaten Timor Tengah Utara

Dugaan Pengrusakan Rumah Warga di TTU, Kini Masuk Tahap Penyelidikan  ‎

Saturday, 26 Sep 2026 - 13:44