Kebijakan Pemerintah Harus Disesuaikan dengan Kondisi Ekonomi Masyarakat Menengah ke Bawah

Saturday, 22 August 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jordan Geru, Mitra Badan Pusat Statistik (BPS). Foto: Pribadi/

Jordan Geru, Mitra Badan Pusat Statistik (BPS). Foto: Pribadi/

Oleh Penulis: Jordan Geru, Mitra Badan Pusat Statistik (BPS). Opini ||Neswline NTT – Di tengah dinamika perekonomian Indonesia, potret kesejahteraan masyarakat tidak dapat digambarkan sekadar melalui asumsi atau perkiraan di atas kertas. Di balik deretan angka indikator ekonomi yang kerap menghiasi berita, terdapat realita hidup jutaan keluarga: tentang bagaimana sebuah rumah tangga membagi pendapatan yang terbatas untuk belanja beras, biaya pendidikan anak, hingga pemenuhan kebutuhan kesehatan.

Untuk menjembatani realita riil di lapangan dengan perumusan kebijakan publik, peran Badan Pusat Statistik (BPS) menjadi sangat krusial. Sebagai lembaga pemerintah non-kementerian yang independen, BPS mengemban amanat untuk memotret kondisi sosio-ekonomi masyarakat secara objektif, terukur, dan berbasis metodologi ilmiah. Petugas BPS turun langsung menembus keberagaman geografis Indonesia, mulai dari pemukiman padat di perkotaan, pelosok desa, hingga wilayah terdepan dan terluar, untuk mengumpulkan data primer langsung dari sumbernya.

‎Namun, adapun tantangan utama dalam program ini, yaitu:

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

‎1. Kekhawatiran Terkait Pajak: Banyak pemilik usaha, terutama skala menengah dan besar, enggan memberikan data keuangan atau omzet yang sebenarnya karena takut data tersebut diserahkan ke dinas perpajakan.

‎2. Kerahasiaan Bisnis: Pelaku usaha khawatir data strategis atau “rahasia dapur” perusahaan bocor ke kompetitor.

‎3. Sulit Ditemui: Pemilik usaha formal sering kali memiliki tingkat mobilitas tinggi atau membatasi akses masuk bagi petugas.

‎4. Usaha Tanpa Pembukuan: Sebagian besar Usaha Mikro dan Kecil (UMK) tidak mencatat keuangan secara rapi.

‎5. Kapasitas Petugas Lapangan: Rekrutmen petugas mitra harian dalam jumlah besar memerlukan pelatihan yang intensif agar pemahaman standar operasional dan konsep kuesioner seragam.

‎6. Beban Kerja dan Beban Pertanyaan: Kuesioner yang detail kerap memicu kejenuhan, baik bagi petugas maupun responden.

‎7. Infrastruktur Sinyal: Kendala jaringan internet di beberapa wilayah menyulitkan proses input data secara daring.

‎Program ini sangat bagus, karena dapat menyediakan basis data akurat untuk menyusun kebijakan pengembangan industri, perdagangan, investasi, hingga perlindungan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).(*)

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Tindak Pidana Kecelakaan Lalu Lintas yang Dilakukan Anak di Bawah Umur Karena Culpa Menyebabkan Meninggalnya Orang Lain.
Jangan Takut Ancaman Rentenir! Pahami Hak Anda dan Langkah Hukum Menghadapinya
DIGITAL NOMAD VISA (E33G): Solusi atau Malah Salah Sasaran?
MERANTAU BUKAN BUDAYA, TAPI AKIBAT LEMAHNYA TATA KELOLA: MEMBACA ULANG ALASAN ANAK MUDA NTT PERGI MERANTAU
Melestarikan Budaya Lokal sebagi Identitas Nasional di Tengah Arus Globalisasi dan Perkembangan Teknologi ‎
Bukan Gelar yang Menilaimu, Melainkan Caramu Memperlakukan Sesama
OPINI TAJAM & EDUKATIF
JEJAK OTORITARIANISME DALAM BAHASA INDONESIA

Berita Terkait

Saturday, 22 August 2026 - 12:37

Kebijakan Pemerintah Harus Disesuaikan dengan Kondisi Ekonomi Masyarakat Menengah ke Bawah

Friday, 7 August 2026 - 12:01

Tindak Pidana Kecelakaan Lalu Lintas yang Dilakukan Anak di Bawah Umur Karena Culpa Menyebabkan Meninggalnya Orang Lain.

Sunday, 2 August 2026 - 21:39

Jangan Takut Ancaman Rentenir! Pahami Hak Anda dan Langkah Hukum Menghadapinya

Thursday, 16 July 2026 - 15:52

DIGITAL NOMAD VISA (E33G): Solusi atau Malah Salah Sasaran?

Tuesday, 7 July 2026 - 19:42

MERANTAU BUKAN BUDAYA, TAPI AKIBAT LEMAHNYA TATA KELOLA: MEMBACA ULANG ALASAN ANAK MUDA NTT PERGI MERANTAU

Berita Terbaru