Newsline NTT-Rampungnya proyek revitalisasi SMPN 6 Pcoranaka bukan sekadar penanda selesainya pembangunan fisik sebuah sekolah di wilayah pedalaman. Lebih dari itu, proyek ini menjadi cermin bagaimana komitmen, keterbukaan, dan kerja bersama mampu menghadirkan perubahan nyata bagi dunia pendidikan.
Di tengah maraknya proyek pembangunan yang kerap menuai sorotan dan kontroversi, revitalisasi SMPN 6 Pcoranaka justru memperlihatkan wajah lain pembangunan: proses yang dijalankan dengan tanggung jawab dan orientasi pada kualitas. Kepala SMPN 6 Pcoranaka, Ferdinandus Jemarus, mengambil peran aktif tidak hanya sebagai pengelola pendidikan, tetapi juga sebagai pengawas langsung pemanfaatan dana APBN Tahun Anggaran 2025 senilai Rp4,506 miliar.
Dalam Keterangan, Ferdinandus mengakui bahwa selama proses pembangunan terdapat momen-momen tegas yang harus ia sampaikan kepada para pekerja. Teguran tersebut, menurutnya, bukan dilandasi emosi atau niat buruk, melainkan dorongan agar pekerjaan dilakukan secara maksimal dan sesuai standar yang ditetapkan. Sikap terbuka semacam ini dinilai jarang muncul dalam praktik pembangunan, di mana ketegasan sering kali dihindari demi kenyamanan, meski berisiko pada kualitas hasil.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Proyek revitalisasi ini mencakup pembangunan tiga ruang kelas baru, laboratorium IPA, ruang administrasi guru, rumah dinas, serta rehabilitasi perpustakaan dan sembilan unit fasilitas lainnya. Namun, deretan item pekerjaan tersebut bukan sekadar daftar bangunan. Setiap ruang yang dibangun merepresentasikan kesempatan baru bagi anak-anak Pcoranaka untuk memperoleh layanan pendidikan yang layak dan setara dengan sekolah-sekolah di wilayah perkotaan.
Menariknya, pengelolaan proyek dilakukan melalui sistem swakelola (silpa), di mana pihak sekolah secara langsung mengatur pengeluaran serta perekrutan mitra kerja sesuai dengan petunjuk teknis yang berlaku. Pola ini menunjukkan bahwa prinsip transparansi dan akuntabilitas bukan hal mustahil diterapkan, bahkan di daerah yang secara geografis tergolong terpencil.
Apresiasi juga datang dari masyarakat setempat. Sejumlah warga yang memilih untuk tidak disebutkan identitasnya mengaku menyaksikan langsung proses pembangunan yang berjalan tertib. Mereka menilai para pekerja menunjukkan kedisiplinan, material yang digunakan berkualitas, serta aktivitas pembangunan tidak mengganggu kehidupan sehari-hari warga.
“Ini yang kami harapkan sejak lama. Pembangunan yang benar-benar memperhatikan kualitas, bukan sekadar cepat selesai,”ujar salah satu warga.
Bagi masyarakat, proses yang dijalankan dengan baik sama pentingnya dengan hasil akhir. Kesaksian mereka menjadi pengingat bahwa pembangunan yang berkualitas lahir dari kerja yang jujur dan melibatkan semua pihak.
Di balik selesainya proyek ini, tersimpan pesan yang lebih luas: pendidikan di wilayah pedalaman tidak boleh diposisikan sebagai pilihan kedua. Ketika pemerintah, sekolah, pekerja, dan masyarakat mampu berjalan searah dengan integritas, keterbatasan bukan lagi alasan untuk tertinggal.
Revitalisasi SMPN 6 Pcoranaka bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, melainkan awal dari harapan baru harapan agar anak-anak di Pcoranaka memiliki masa depan yang lebih baik melalui pendidikan yang layak dan bermartabat.***
Penulis : Heronimus
Editor : Redaksi









