Revitalisasi SMPN 6 Pcoranaka Bukti Kolaborasi yang Menguatkan Pendidikan Pedalaman

Saturday, 7 February 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bangunan ruang kelas dan fasilitas penunjang SMPN 6 Pcoranaka.Foto:Doc.Newsline/Heronimus/

Bangunan ruang kelas dan fasilitas penunjang SMPN 6 Pcoranaka.Foto:Doc.Newsline/Heronimus/

Newsline NTT-Rampungnya proyek revitalisasi SMPN 6 Pcoranaka bukan sekadar penanda selesainya pembangunan fisik sebuah sekolah di wilayah pedalaman. Lebih dari itu, proyek ini menjadi cermin bagaimana komitmen, keterbukaan, dan kerja bersama mampu menghadirkan perubahan nyata bagi dunia pendidikan.

Di tengah maraknya proyek pembangunan yang kerap menuai sorotan dan kontroversi, revitalisasi SMPN 6 Pcoranaka justru memperlihatkan wajah lain pembangunan: proses yang dijalankan dengan tanggung jawab dan orientasi pada kualitas. Kepala SMPN 6 Pcoranaka, Ferdinandus Jemarus, mengambil peran aktif tidak hanya sebagai pengelola pendidikan, tetapi juga sebagai pengawas langsung pemanfaatan dana APBN Tahun Anggaran 2025 senilai Rp4,506 miliar.

Dalam Keterangan, Ferdinandus mengakui bahwa selama proses pembangunan terdapat momen-momen tegas yang harus ia sampaikan kepada para pekerja. Teguran tersebut, menurutnya, bukan dilandasi emosi atau niat buruk, melainkan dorongan agar pekerjaan dilakukan secara maksimal dan sesuai standar yang ditetapkan. Sikap terbuka semacam ini dinilai jarang muncul dalam praktik pembangunan, di mana ketegasan sering kali dihindari demi kenyamanan, meski berisiko pada kualitas hasil.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Proyek revitalisasi ini mencakup pembangunan tiga ruang kelas baru, laboratorium IPA, ruang administrasi guru, rumah dinas, serta rehabilitasi perpustakaan dan sembilan unit fasilitas lainnya. Namun, deretan item pekerjaan tersebut bukan sekadar daftar bangunan. Setiap ruang yang dibangun merepresentasikan kesempatan baru bagi anak-anak Pcoranaka untuk memperoleh layanan pendidikan yang layak dan setara dengan sekolah-sekolah di wilayah perkotaan.

Menariknya, pengelolaan proyek dilakukan melalui sistem swakelola (silpa), di mana pihak sekolah secara langsung mengatur pengeluaran serta perekrutan mitra kerja sesuai dengan petunjuk teknis yang berlaku. Pola ini menunjukkan bahwa prinsip transparansi dan akuntabilitas bukan hal mustahil diterapkan, bahkan di daerah yang secara geografis tergolong terpencil.

Apresiasi juga datang dari masyarakat setempat. Sejumlah warga yang memilih untuk tidak disebutkan identitasnya mengaku menyaksikan langsung proses pembangunan yang berjalan tertib. Mereka menilai para pekerja menunjukkan kedisiplinan, material yang digunakan berkualitas, serta aktivitas pembangunan tidak mengganggu kehidupan sehari-hari warga.

“Ini yang kami harapkan sejak lama. Pembangunan yang benar-benar memperhatikan kualitas, bukan sekadar cepat selesai,”ujar salah satu warga.

Bagi masyarakat, proses yang dijalankan dengan baik sama pentingnya dengan hasil akhir. Kesaksian mereka menjadi pengingat bahwa pembangunan yang berkualitas lahir dari kerja yang jujur dan melibatkan semua pihak.

Di balik selesainya proyek ini, tersimpan pesan yang lebih luas: pendidikan di wilayah pedalaman tidak boleh diposisikan sebagai pilihan kedua. Ketika pemerintah, sekolah, pekerja, dan masyarakat mampu berjalan searah dengan integritas, keterbatasan bukan lagi alasan untuk tertinggal.

Revitalisasi SMPN 6 Pcoranaka bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, melainkan awal dari harapan baru harapan agar anak-anak di Pcoranaka memiliki masa depan yang lebih baik melalui pendidikan yang layak dan bermartabat.***

‎

‎

Penulis : Heronimus

Editor : Redaksi

Berita Terkait

UMKOE Gelar MAGMA, Buka Peluang Studi dan Karier Mahasiswa ke Jerman
Tim PKM-PI Unwira Kupang Ciptakan TempeTech, Inovasi Teknologi untuk Tingkatkan Produktivitas Produksi Tempe
Dari Ketua OSIS hingga Duta Bahasa NTT, Gabriel Rivaldi Seran Kembali ke SMAN Halioan Berbagi Inspirasi
Mahasiswa KKN UMKOE Sosialisasikan Pencegahan Bullying di SD Impres Kuanino 3
Cegah Bullying Sejak Dini, Mahasiswa KKN Reguler UM.Koe Sosialisasi di SD Inpres Naikoten 2
Mahasiswa KKN UMKoe Sosialisasikan Pencegahan Stunting di Desa Pero Konda ‎
Mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Kupang Sosialisasikan Anti-Bullying di SDK St. 1 Nanggapanda ‎
Wali Kota Kupang: AI Harus Memperkuat Guru, Bukan Menggantikan Peran Guru

Berita Terkait

Tuesday, 20 October 2026 - 12:59

UMKOE Gelar MAGMA, Buka Peluang Studi dan Karier Mahasiswa ke Jerman

Wednesday, 16 September 2026 - 00:04

Tim PKM-PI Unwira Kupang Ciptakan TempeTech, Inovasi Teknologi untuk Tingkatkan Produktivitas Produksi Tempe

Saturday, 12 September 2026 - 00:40

Dari Ketua OSIS hingga Duta Bahasa NTT, Gabriel Rivaldi Seran Kembali ke SMAN Halioan Berbagi Inspirasi

Tuesday, 1 September 2026 - 12:21

Mahasiswa KKN UMKOE Sosialisasikan Pencegahan Bullying di SD Impres Kuanino 3

Monday, 31 August 2026 - 20:38

Cegah Bullying Sejak Dini, Mahasiswa KKN Reguler UM.Koe Sosialisasi di SD Inpres Naikoten 2

Berita Terbaru

Hukum

PERSELISIHAN KERJA SAMA USAHA BERAKHIR DAMAI

Friday, 2 Oct 2026 - 12:42