Newsline NTT-Ada sesuatu yang menyakitkan ketika sebuah jembatan dan jalan yang menjadi tulang punggung wilayah harus diselamatkan oleh tangan-tangan muda tanpa dukungan apapun dari pihak yang seharusnya bertanggung jawab. Jembatan dan jalan Di Desa Tengku. Kusus di Jembatan Wae Wira dan Jalan Di desa Tengku di Kecamatan Kuwus Barat, Kabupaten Manggarai Barat, adalah bukti nyata tentang itu.
Sebagai jalur lintas yang menghubungkan Desa Tengku dengan Desa Golo Lewe, sekaligus menjadi akses bagi masyarakat Desa Golo Wedong dan Desa Ranggu menuju kecamatan, infrastruktur ini sudah berdiri selama 18 tahun. Tak sedikit tokoh penting daerah, termasuk Anggota-anggota DPRD Dapil Kuwus Barat, yang sering melintas di sini. Namun, perhatian dari pemerintah desa hingga kecamatan seolah tak pernah ada.
”Kita menyayangkan. Padahal jalan ini sudah belasan tahun dan digunakan oleh semua orang,” ucap Enok Januari, Ketua Pemuda Kampung Monsok Desa Tengku, dalam wawancara pada Sabtu (07/02).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tanpa ada pilihan lain, pada 18 Januari 2026, pemuda dari Desa Tengku bersama rekan-rekan dari Desa Golo Lewe menggelar gotong royong penuh hari – dari fajar hingga malam. Semua biaya berasal dari kontribusi mereka sendiri, meskipun secara administrasi infrastruktur itu berada di wilayah Desa Tengku.
Ini bukan hanya tentang jalan atau jembatan. Ini tentang bagaimana sebuah komunitas harus berjuang sendiri untuk mendapatkan hak dasar mereka: akses yang layak. Ketika pemerintah daerah tampaknya terlena atau tidak mampu merespons kebutuhan dasar masyarakat, semangat gotong royong yang sudah ada sejak lama menjadi satu-satunya penolong.
Harapan mereka sederhana namun berat maknanya: agar pihak berwenang mulai “melihat” jalur yang telah mengabdi selama belasan tahun ini. Karena infrastruktur yang baik bukan hanya investasi untuk kemajuan ekonomi, tapi juga bentuk penghormatan terhadap kesejahteraan rakyat yang dipercayakan kepadanya.***
Penulis : SRT
Editor : Sardiyanto








