Ruteng, NewslineNTT.id – Dunia politik Tanah Air kembali heboh. Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, tengah jadi sorotan tajam setelah sikap dan langkah politiknya dinilai berubah drastis dari pendukung militan Presiden Joko Widodo (Jokowi), kini beralih menjadi loyalis Presiden Prabowo Subianto.
Langkah cepat Budi Arie yang sebelumnya dikenal sebagai “komandan relawan Jokowi” kini dianggap sebagai manuver politik paling mencolok pasca-pergantian kekuasaan 2024.
Dari Pro Jokowi ke Tegak Lurus Prabowo
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Transformasi politik Projo terjadi begitu cepat. Dulu dikenal sebagai organisasi relawan yang lahir dari semangat “Pro Jokowi”, kini berubah haluan dengan slogan baru: “tegak lurus dengan Presiden Prabowo.”
Perubahan ini bermula saat Projo resmi mendukung Prabowo Subianto pada Pilpres 2024, dengan alasan mengikuti “arah politik” Jokowi. Namun pasca-reshuffle kabinet 2025, Budi Arie justru mengambil langkah mengejutkan menyatakan kesiapannya bergabung ke Partai Gerindra, partai yang dipimpin langsung oleh Prabowo.
“Saya tegak lurus dengan Presiden Prabowo Subianto,” ujar Budi Arie, dalam pernyataan yang viral di media sosial.
Publik pun mempertanyakan, apakah ini bentuk kesetiaan baru, atau sekadar manuver untuk tetap dekat dengan kekuasaan?
Projo Ganti Identitas: Sudah Bukan Pro Jokowi Lagi
Dalam kongres Projo November 2025, Budi Arie kembali memantik kontroversi. Ia menyebut bahwa “Projo” tak lagi berarti “Pro Jokowi” melainkan hanya nama organisasi biasa tanpa singkatan.
“Memang enggak ada kepanjangannya. Media aja dulu yang bikin gampang dilafalkan,” ujarnya santai.
Pernyataan itu disusul dengan kabar rencana menghapus siluet wajah Jokowi dari logo Projo, yang dianggap banyak pihak sebagai simbol pembersihan sejarah.
Langkah ini membuat sebagian kader lama kecewa, bahkan menyebut Budi Arie telah melupakan akar perjuangan Projo yang lahir untuk mendukung Jokowi sejak 2014.
Netizen Ramai-Ramai Nyinyir: Setia pada Kekuasaan, Bukan pada Sosok
Gelombang kritik publik pun tak terhindarkan. Di media sosial, tagar seperti #ProjoGantiTuan dan #BudiArieMenjilat ramai digunakan. Banyak warganet menuding Budi Arie sebagai contoh politisi yang hanya setia pada penguasa yang sedang berkuasa.
“Dulu bilang tegak lurus Jokowi. Sekarang tegak lurus Prabowo. Nanti tegak lurus siapa lagi?” tulis salah satu akun X (Twitter) dengan ribuan likes.
Sebagian pengamat politik menilai, langkah Budi Arie adalah cerminan politik pragmatis di era transisi kekuasaan, di mana loyalitas mudah berpindah sesuai arah angin istana.
Pengamat: Cerminan Politik Oportunistik
Menurut sejumlah pengamat, perubahan sikap Budi Arie memperlihatkan pola lama yang terus berulang dalam politik Indonesia: setia pada kekuasaan, bukan pada nilai perjuangan.
“Fenomena Budi Arie adalah potret klasik relawan yang berubah menjadi politisi penuh kalkulasi. Begitu peta kekuasaan berubah, arah dukungan pun ikut bergeser,” ujar seorang analis politik dari UI.
Dari Relawan ke Politisi Elit
Transformasi Budi Arie dari relawan militan Jokowi menjadi politisi yang siap bergabung ke partai penguasa menandai babak baru perjalanan Projo dari gerakan rakyat menjadi instrumen politik kekuasaan.
Apapun alasannya, langkah ini menjadi cermin keras bagi publik: bahwa dalam politik Indonesia, loyalitas seringkali berumur pendek bergantung pada siapa yang sedang berkuasa.
Penulis : Gabriel Esong








