9NEWSLINE.ID – 23 Tahun Manggarai Barat, kecamatan macang pacar, Bari Masih Terjebak dalam “Kota Mati” Dua dekade lebih Kabupaten Manggarai Barat berdiri. Namun, di balik gegap gempita pariwisata Labuan Bajo, terselip wajah muram sebuah wilayah yang seolah dilupakan: Bari, ibukota Kecamatan Macang Pacar. Kota ini bukan hanya tertinggal ia terkubur dalam ketidakpedulian dan kegagalan sistemik pemerintahan daerah.
Bari, yang semestinya berdiri sebagai pusat pertumbuhan dan pelayanan publik, justru menggeliat dalam kesunyian yang memprihatinkan. Ironisnya, ini terjadi bukan karena keterbatasan sumber daya, melainkan karena abainya perhatian dan minimnya kemauan politik dari para pengambil kebijakan.
Pusat Kecamatan Tanpa Akses Layak
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dari 13 desa yang ada di Macang Pacar, Bari mencakup empat dusun vital: Loger, Labu Liang, Bari Pantai, dan Toro Loji. Di sinilah berdiri fasilitas-fasilitas penting seperti Polsek, Koramil, Puskesmas, lembaga pendidikan hingga tempat ibadah lintas agama. Namun sayang, infrastruktur yang menopang fungsi-fungsi vital itu nyaris tak tersentuh pembangunan.
Jalan menuju Bari hanyalah jalur lumpur saat hujan dan ladang debu saat kemarau. Pengangkutan hasil bumi ikan, sayur, pisang, kelapa terseok-seok. Akses menuju fasilitas kesehatan atau pendidikan bukan sekadar sulit, tetapi berbahaya. Perekonomian macet. Mobilitas nyaris lumpuh.
Apakah ini wajah pemerataan pembangunan yang dijanjikan setiap lima tahun sekali?
Gelap, Sunyi, dan Terisolasi
Tahun 2025, sementara Labuan Bajo bersinar terang di panggung dunia, Bari justru gelap gulita. Listrik masih menjadi kemewahan yang belum dinikmati sebagian besar warga. Pelajar belajar dalam remang lampu sehen, petugas medis berjuang dalam keterbatasan, dan aktivitas pemerintahan dijalankan seadanya. Masyarakat pun harus merogoh kocek dalam untuk membeli bahan bakar genset solusi darurat yang menyiksa ekonomi keluarga kecil.
Koneksi digital? Jangankan internet cepat, sinyal dasar pun nyaris tak tersedia. Di tengah era digitalisasi, pelajar dan pelaku UMKM di Bari justru terputus dari dunia luar. Mereka menjadi korban nyata dari ketimpangan akses informasi dan teknologi yang semakin menganga.
Air Bersih Pun Tak Tersedia
Masalah tak berhenti di sana. Akses terhadap air minum bersih pun menjadi pertarungan harian warga. Tanpa solusi nyata dari pemerintah, warga harus berjibaku setiap hari demi mendapatkan air layak konsumsi. Sebuah ironi tragis di negeri yang mengklaim kaya sumber daya alam.
Bari yang Tertinggal, Siapa yang Bertanggung Jawab?
Perbandingan mencolok antara Bari dan kecamatan-kecamatan lain di Manggarai Barat menohok rasa keadilan. Sementara daerah lain berlomba membangun jalan hotmix dan menara BTS, Bari masih tertahan dalam lorong waktu kota administratif yang terjebak dalam lumpur keterasingan.
Lantas, siapa yang harus bertanggung jawab atas matinya sebuah kota?
Masyarakat kini mulai bersuara. Mereka bosan dijanjikan, bosan mendengar retorika pembangunan tanpa tindakan nyata. Mereka menuntut kehadiran nyata pemerintah kabupaten, provinsi, bahkan pusat bukan sekadar kunjungan seremonial, tetapi aksi konkret.
Jangan Biarkan Bari Mati dalam Senyap
Sudah terlalu lama Bari dibiarkan hidup dalam keterasingan. Potensi ekonomi, pendidikan, dan sosial-budaya di sana tidak akan pernah berkembang jika tidak ada intervensi terencana dan berkelanjutan. Pemerintah harus malu bahwa 23 tahun setelah pemekaran, masih ada satu kota kecamatan yang nyaris tidak berubah.
Kini saatnya menyalakan kembali harapan bagi Bari. Tidak dengan janji, tapi dengan tindakan. Karena bila dibiarkan terus seperti ini, Bari bukan hanya kota mati ia adalah simbol kegagalan pembangunan yang paling telanjang di ufuk utara Labuan Bajo.*
Reporter: Djohanes bentah








