Pulau Kera, newsline.id | Suara-suara kecil dari Teluk Kupang kini menggema lantang. Anak-anak Pulau Kera, pulau mungil yang terletak di perairan Nusa Tenggara Timur, tampil di garis depan menolak rencana relokasi yang digulirkan pemerintah. Dalam teriakan namun penuh daya magis, mereka berjalan keliling kampung, dengan bersuara teriakan: “Kami Ingin Sekolah di Pulau Kami”, “Jangan Pisahkan Kami dari Laut”, dan “Pulau Kera Rumah Kami”. Lagu-lagu perjuangan yang mereka nyanyikan, warisan dari orang tua mereka, terdengar seperti doa dan perlawanan sekaligus.
Tangis tak bisa dibendung. Salah satu siswa SD dengan mata berkaca-kaca berkata,
“Saya tidak mau pindah ke tempat lain. Saya lahir di sini, sekolah di sini, dan saya mau jadi guru di Pulau Kera nanti.”
Rencana relokasi muncul dengan dalih bahwa Pulau Kera berada di wilayah rawan dampak perubahan iklim dan terbatasnya akses pelayanan publik. Namun, warga menilai keputusan ini dibuat sepihak—tanpa partisipasi aktif dari masyarakat, tokoh adat, dan terutama anak-anak, yang masa depannya sedang dipertaruhkan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami bukan hanya menolak relokasi. Kami menolak dilupakan,” tegas seorang warga. “Anak-anak kami punya hak untuk tumbuh, belajar, dan bermimpi di tanah leluhur mereka.”
Aktivis pendidikan pun bersuara. Menurut Bung Vino, Ketua FMN Cabang Kupang:
“Ini soal hak anak: hak atas pendidikan, hak atas identitas budaya, dan hak untuk didengar. Anak-anak Pulau Kera telah menunjukkan bahwa keberanian tidak mengenal usia.” ungkapnya pada 6 juni 2025.

Sampai saat ini, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah daerah terkait aksi yang menggugah ini. Namun, dukungan terus berdatangan—dari aktivis, akademisi, hingga organisasi masyarakat sipil. Penolakan yang awalnya bersifat lokal kini mulai menyebar sebagai isu nasional.
Dengan suara yang jernih dan tekad yang tak tergoyahkan, anak-anak Pulau Kera menunjukkan bahwa mereka bukan sekadar objek kebijakan. Mereka adalah subjek masa depan. Suara mereka kini menjadi simbol harapan dan keteguhan: bahwa tanah, laut, dan budaya bukan untuk dijauhkan dari mereka yang menjaganya sejak lahir.
Suara kecil dari Pulau Kera kini menjelma menjadi gema besar: “Kami Tolak Relokasi!”
Reporter: Djohanes Bentah








