Newsline .Id — 13 Maret, Akademisi dari Universitas Muhammadiyah Kupang (UM.Koe), Uslan, Ph.D., tampil sebagai salah satu narasumber kunci dalam konferensi internasional The 11th Progressive and Fun Education (ProfunEdu ke-11). Perhelatan bergengsi ini berlangsung di Clayton Campus, Monash University, Australia, pada Selasa (25/11/2025). Forum ini mempertemukan para pakar pendidikan dari tiga negara, yakni Australia, Brunei Darussalam, dan Indonesia, untuk membedah arah masa depan pendidikan global.
Secara institusional, kegiatan ini merupakan realisasi konkret dari kerja sama antara Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah dan Monash University yang telah disepakati pada Oktober lalu di Yogyakarta. Kolaborasi lintas negara ini bertujuan untuk memperkuat dialog akademik serta mendorong inovasi pembelajaran yang lebih adaptif. Kehadiran perwakilan dari berbagai Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA) mempertegas peran aktif akademisi Indonesia di panggung internasional.
Dalam jajaran narasumber, Uslan, Ph.D. bersanding dengan pakar dunia seperti Prof. Yuli Rahmawati (Atdikbud KBRI Canberra) dan Assoc. Prof. Joanne Blannin (Monash University). Selain itu, hadir pula Norazmie Yusof, Ph.D. dari Brunei dan Muhammad Sayuti, Ph.D. dari Universitas Ahmad Dahlan. Para pembicara secara kolektif menyoroti pentingnya pembelajaran bermakna dan penguatan profesionalisme guru guna menghadapi transformasi digital yang kian tak terelakkan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua Asosiasi LPTK PTMA, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, dalam sambutannya menekankan urgensi perubahan paradigma pendidikan di Indonesia agar lebih humanis dan menyenangkan. Ia mengkritisi sistem yang terlalu fokus pada capaian angka statistik, yang menurutnya dapat mematikan minat belajar siswa. Prof. Harun menyerukan agar proses pendidikan memberikan ruang lebih luas bagi kreativitas dan refleksi mendalam, selaras dengan semangat yang diusung oleh ProfunEdu.
Mengangkat tema “Deep Learning for Progressive and Fun Education: Building Inclusive, Mindful, Meaningful, and Joyful Learning in the AI Era,” konferensi ini membedah peluang kolaborasi Indonesia–Australia. Prof. Yuli Rahmawati menekankan pentingnya refleksi peserta didik, sementara Assoc. Prof. Joanne Blannin memaparkan model pembelajaran yang responsif terhadap perubahan teknologi regional. Tema ini menjadi panduan bagi para akademisi dalam merancang kurikulum yang tidak hanya cerdas secara digital, tetapi juga kaya secara emosional.
Dosen UM.Koe, Uslan, Ph.D., pada sesi penutup memberikan penekanan yang krusial mengenai fondasi pendidikan yang humanis. Beliau menegaskan bahwa meskipun AI menawarkan efisiensi, penguatan karakter dan pembelajaran bermakna tetap menjadi inti yang tidak bisa digantikan oleh mesin, semangat pengabdian guru kini harus diselaraskan dengan adaptasi teknologi yang inklusif dan berkelanjutan. selanjut Penyelenggaraan konferensi ini memiliki nilai historis dan emosional tersendiri karena bertepatan dengan peringatan Hari Guru Nasional di Indonesia. Momentum tersebut menambah dimensi reflektif bagi para peserta dalam memandang peran guru sebagai ujung tombak transformasi pendidikan.
Antusiasme peserta terlihat jelas dengan kehadiran 62 presenter dari berbagai universitas di Indonesia dan Australia. Partisipasi aktif ini membuktikan bahwa ProfunEdu telah menjadi wadah internasional yang solid untuk pertukaran praktik terbaik dalam dunia pendidikan. Melalui kolaborasi global di Monash University ini, diharapkan lahir praktik pembelajaran yang lebih progresif, inklusif, dan mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan identitas kemanusiaannya.***
Editor : Lucianos Persli









