Anak Itu Tak Mati karena Buku dan Pena, Ia Mati karena Negara Lalai

Thursday, 5 February 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opini Newsline.id || Kematian seorang anak SD di Ngada, Nusa Tenggara Timur, akibat tekanan karena orang tuanya tidak mampu membeli buku pelajaran dan pena adalah tragedi yang melampaui batas urusan privat sebuah keluarga. Peristiwa ini merupakan indikator kegagalan negara dalam menjalankan mandat konstitusionalnya. Anak tersebut tidak mati semata-mata karena ketiadaan buku dan pena, melainkan karena ketiadaan kehadiran negara dalam menjamin hak pendidikan yang seharusnya dilindungi tanpa syarat.

Dalam negara hukum yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945, pendidikan bukanlah belas kasihan sosial, apalagi komoditas ekonomi. Ia adalah hak dasar dan hak konstitusional warga negara, terlebih bagi anak yang secara hukum ditempatkan sebagai kelompok rentan yang wajib dilindungi negara.

Hak Pendidikan sebagai Hak Konstitusional dan Hak Asasi

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pasal 31 ayat (1) UUD 1945 menegaskan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan, sementara ayat (2) menyatakan bahwa negara wajib membiayai pendidikan dasar. Norma konstitusional ini diperkuat oleh Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang menempatkan negara sebagai penanggung jawab utama terselenggaranya pendidikan yang adil dan merata.

Dalam perspektif hukum hak asasi manusia, hak atas pendidikan merupakan hak positif (positive right) yang menuntut tindakan aktif dari negara. Negara tidak cukup hanya menyediakan regulasi atau program formal, tetapi wajib memastikan bahwa setiap anak, tanpa kecuali, dapat mengakses sarana pendidikan yang layak, termasuk buku pelajaran sebagai instrumen paling mendasar dalam proses belajar. Ketika seorang anak tertekan secara psikis karena tidak mampu memenuhi tuntutan sekolah akibat kemiskinan, maka dapat dikatakan negara telah gagal memenuhi kewajiban konstitusionalnya secara substantif, meskipun secara administratif kebijakan pendidikan telah dibuat.

Kegagalan Kebijakan dan Ketimpangan Implementasi

Negara kerap mengklaim telah memenuhi kewajiban pendidikan melalui berbagai program seperti Bantuan Operasional Sekolah (BOS), buku gratis, dan bantuan sosial pendidikan. Namun, kasus di NTT menunjukkan bahwa keberadaan kebijakan tidak selalu berbanding lurus dengan efektivitas pelaksanaannya. Ketimpangan geografis, lemahnya pengawasan, serta pendekatan kebijakan yang seragam tanpa mempertimbangkan kondisi sosial-ekonomi daerah membuat anak-anak di wilayah tertinggal tetap terpinggirkan.

Dalam konteks ini, negara hadir secara normatif, tetapi absen secara faktual.

Lebih jauh, pendekatan kebijakan pendidikan yang terlalu menekankan capaian administratif seperti penyerapan anggaran dan angka partisipasi sekolah mengabaikan dimensi kemanusiaan pendidikan. Negara lupa bahwa di balik angka dan laporan, terdapat anak-anak dengan beban psikologis yang nyata.

Kelalaian Negara dan Tanggung Jawab Hukum

Dalam doktrin hukum tata negara dan hukum administrasi, kelalaian negara (state negligence) dapat terjadi ketika negara gagal melindungi hak warga negara yang telah dijamin secara konstitusional. Dalam kasus ini, kegagalan negara memastikan akses terhadap kebutuhan dasar pendidikan dapat dikualifikasikan sebagai kelalaian struktural, karena bersumber dari sistem kebijakan yang tidak sensitif terhadap kelompok rentan. Anak-anak tidak boleh dibebani tanggung jawab struktural yang seharusnya dipikul negara. Ketika tekanan sosial dan ekonomi dibiarkan tanpa intervensi negara, maka risiko pelanggaran hak anak, termasuk hak hidup dan hak atas perkembangan mental, menjadi tidak terelakkan.

Negara kesejahteraan (welfare state) menuntut peran aktif pemerintah sebagai pelindung terakhir warga negara. Dalam konteks pendidikan dasar, negara tidak boleh menunggu laporan atau tragedi, tetapi harus menerapkan prinsip pencegahan (preventive approach) sebagai bagian dari tanggung jawab konstitusionalnya.

Anak itu tidak mati karena buku yang tidak terbeli. Ia mati karena negara gagal memastikan bahwa kemiskinan tidak menjadi penghalang bagi hak pendidikan.

Tragedi ini adalah pengingat keras bahwa hak konstitusional tidak boleh berhenti sebagai teks undang-undang, tetapi harus hadir secara nyata dalam kehidupan warga negara, terutama anak-anak. Jika negara terus memaknai pendidikan sebatas kewajiban administratif, maka tragedi serupa akan terus berulang. Dalam negara hukum, setiap kematian akibat kelalaian struktural adalah peringatan bahwa sistem telah gagal melindungi yang paling lemah. Sudah saatnya negara tidak hanya hadir dalam regulasi, tetapi juga dalam empati, kebijakan yang berpihak, dan tindakan nyata sebelum hak anak kembali dibayar dengan nyawa.

Indonesia adalah  Negara Hukum. Salam Sejahtera.

 

Penulis : Stevenko Waltrendi Yosodiki 

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Law Firm James Richard & Partners Dampingi Klien Hadiri Undangan Wawancara di Polres Buleleng
Gerakan Penolakan PC IMM dan Cipayung Plus Kota Kupang Tolak Gelar “Raja Timor” untuk Jokowi ‎
Cipayung Plus Kota Kupang Gelar Mimbar Bebas, Tegaskan Penolakan Penyematan Gelar Raja Timor kepada Jokowi
UM.Koe Siap Dukung PON XXII 2028, Terima Kunjungan Kemenko PMK, Kemenpora, KONI NTT, dan Diaspora NTT
Sukses Tangani Perkara Penipuan, Klien Law Firm James Richard & Partners Berinisial MK Resmi Menghirup Udara Bebas dari LP Kerobokan
Mahasiswa UMKOE Menulis Skripsi Bertajuk:Resistensi Masyarakat Terhadap Hak Atas Tanah Resettlement di Naibonat
DIGITAL NOMAD VISA (E33G): Solusi atau Malah Salah Sasaran?
Diduga Tipu WNA Jepang Berkedok Kontraktor, Penyidik Polda Bali Cek Fisik Proyek di Jimbaran

Berita Terkait

Saturday, 15 August 2026 - 10:56

Law Firm James Richard & Partners Dampingi Klien Hadiri Undangan Wawancara di Polres Buleleng

Sunday, 2 August 2026 - 20:51

Gerakan Penolakan PC IMM dan Cipayung Plus Kota Kupang Tolak Gelar “Raja Timor” untuk Jokowi ‎

Sunday, 2 August 2026 - 20:12

Cipayung Plus Kota Kupang Gelar Mimbar Bebas, Tegaskan Penolakan Penyematan Gelar Raja Timor kepada Jokowi

Wednesday, 29 July 2026 - 20:48

UM.Koe Siap Dukung PON XXII 2028, Terima Kunjungan Kemenko PMK, Kemenpora, KONI NTT, dan Diaspora NTT

Tuesday, 28 July 2026 - 11:24

Sukses Tangani Perkara Penipuan, Klien Law Firm James Richard & Partners Berinisial MK Resmi Menghirup Udara Bebas dari LP Kerobokan

Berita Terbaru

Wali Kota Naik Ring, Galang Solidaritas untuk Korban Gempa Flores Jumat (21/08/2026). Foto:PROKOPIM Kota Kupang/

Kota Kupang

Tinju Piala Wali Kota: Olahraga Jadi Energi Kemanusiaan

Sunday, 23 Aug 2026 - 22:05