Newsline NTT – Pemuda Faturika, Kecamatan Raimanuk, kabupaten Belu. Mengeluhkan tidak berfungsinya fasilitas air bersih bantuan Pamsimas yang telah mengalami kerusakan selama kurang lebih satu bulan terakhir. Kerusakan tersebut diketahui terjadi pada bagian modul dan pompa air rusak, sehingga distribusi air bersih kepada masyarakat terhenti total.
Juventus Klaran,selaku pemuda Faturika, menyampaikan bahwa kondisi ini sangat berdampak pada kehidupan masyarakat sehari-hari. Menurutnya, warga kini kesulitan mendapatkan air bersih dan terpaksa harus membeli air dengan harga yang terus meningkat.

”Dampaknya sangat besar. Masyarakat harus beli air setiap hari, sementara harga air semakin mahal. Ini sangat memberatkan, apalagi sebagian besar warga adalah petani dan peternak,” ungkapnya saat ditemui wartawan Newsline.Minggu,29/03/2026.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa hingga saat ini belum ada upaya serius dari pihak pengelola maupun petugas terkait untuk memperbaiki kerusakan tersebut. Beberapa inisiatif dari masyarakat memang sempat dilakukan, namun tidak membuahkan hasil karena kerusakan utama berada pada mesin air.
”Sejauh ini belum ada penanganan yang jelas. Hanya ada upaya perbaikan berkali-kali dari masyarakat, tapi tetap tidak berhasil karena mesin air rusak,” tambahnya.
Sementara itu, Raimundus Mau,Selaku Pemuda Mahasiswa yang berasal dari Faturika.Turut memberikan tanggapan terhadap lambannya penanganan persoalan tersebut. Ia menilai pemerintah dan pihak terkait tidak boleh tinggal diam terhadap kebutuhan dasar masyarakat.

”Masalah air bersih ini menyangkut kebutuhan vital masyarakat. Pemerintah tidak boleh hanya menunggu, tetapi harus segera turun tangan dengan langkah konkret,”tegasnya.
Raimundus juga mendorong agar dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan program Pamsimas, termasuk memastikan adanya teknisi yang kompeten serta ketersediaan anggaran perbaikan.
“Harus ada evaluasi total. Pemerintah perlu menyiapkan teknisi yang benar-benar paham, serta memastikan anggaran perawatan tersedia. Jangan sampai program yang sudah ada justru terbengkalai,” ujarnya.
Ia juga menawarkan solusi jangka pendek dan jangka panjang agar persoalan serupa tidak terus berulang.
“Untuk jangka pendek, segera perbaiki atau ganti mesin yang rusak agar air bisa kembali mengalir. Untuk jangka panjang, perlu sistem pengelolaan yang jelas, pelatihan bagi operator lokal, serta pengawasan rutin dari pemerintah,” tambahnya.
Warga pun berharap agar pemerintah setempat maupun pemerintah kabupaten segera menindaklanjuti persoalan ini dengan langkah nyata, sehingga akses air bersih dapat kembali normal.***
Penulis : Sardiyanto
Editor : Sardiyanto









