
Ruteng, Newsline NTT– Seminar Natal Nasional 2025 di Aula UNIKA St. Paulus Ruteng, Kabupaten Manggarai, NTT, pada Sabtu (13/12/2025). Kegiatan yang diawali Perayaan Ekaristi oleh Pater Vikjen Keuskupan Agung Ruteng dengan Tema “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga” (Matius 1:21-24) menjadi dasar refleksi bahwa keselamatan keluarga menuntut kesetiaan, doa, dan penolakan terhadap godaan instan.
Fokus utama seminar adalah fenomena judi online (JUDOL) sebagai jalan pintas yang merusak moral dan ekonomi bangsa. Kesepakatan kolektif peserta menegaskan bahwa penguatan literasi digital menjadi senjata utama untuk memerangi praktik ini.
Solidaritas Natal: Bantuan untuk Korban Bencana
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam laporan panitia, Yohanes Nardi Nandeng menyampaikan bahwa menjelang Natal 2025 Indonesia sedang menghadapi bencana alam di Sumatera dan Aceh. Panitia Natal Nasional turut menyalurkan bantuan sebagai wujud kepedulian sosial.
“Kerja nyata Panitia Natal 2025, yaitu ikut terlibat memberikan sumbangsi membantu korban bencana di Sumatera,” ujar Nardi.
Ia menambahkan Seminar tahun ini digelar di beberapa kota, yaitu Ambon, Medan, Ruteng, Palangkaraya, Bandung, dan Toraja. Subtema khusus di Ruteng menyoroti judi online dan pinjaman online sebagai masalah serius yang harus dicegah sejak keluarga.
Perempuan dan Anak Korban Sekunder Paling Rentan
Keynote speaker Prita Ismayani Sriwidyarti (Sekretaris Deputi Bidang Kesetaraan Gender Kementerian PPPA) menegaskan bahwa judi online memicu krisis rumah tangga.
“Tekanan utang dan konflik finansial akibat kecanduan judi sering kali berujung pada Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT), serta penelantaran hak anak mulai dari pendidikan hingga pemenuhan gizi,” jelasnya.
Kementerian PPPA berkomitmen memperkuat layanan perlindungan dengan edukasi literasi finansial berbasis gender sebagai pencegahan dini.
Krisis Spiritual dan Ancaman Generasi Muda
Pendeta GPIB Dr. Cindy Cecilia Tumbelaka-van Munster menolak mentalitas “jalan pintas” yang ditawarkan JUDOL karena bertentangan dengan iman.
“Keajaiban Tuhan atau Intervensi Allah ketika kita mengalami kesusahan bukan melalui jalan pintas tetapi hasil perjuangan doa dan pertaruhan iman yang panjang,” tegasnya.
Ketua Presidium PMKRI, Susana Florika Kandaimu, menyoroti ancaman JUDOL bagi keluarga muda, pelajar, dan mahasiswa.
“Sosialisasi mesti dilakukan secara masif. Tidak terbatas untuk kalangan mahasiswa, tetapi juga kepada masyarakat luas. Dukungan dan pendampingan juga disediakan bagi setiap individu dan keluarga yang terdampak,” ujarnya.
Perspektif Ilmiah: Judi Online Mirip Narkoba
Psikolog Dr. Fransiska Widyawaty menjelaskan bahwa judi online adalah perilaku adiktif dengan mekanisme biokimiawi mirip narkoba.
“JUDOL memicu pelepasan dopamin yang berlebihan di otak, menciptakan lingkaran kecanduan yang merusak sistem penghargaan diri dan kontrol,” jelasnya.
Ia mendesak keluarga untuk mengenali ciri-ciri kecanduan seperti perilaku curang, emosi tidak stabil, dan tumpukan utang yang tidak jelas.
Literasi sebagai Praksis Pembebasan
Wakil Ketua LPPM UNIKA St. Paulus, Dr. Maksimilianus Jemali, menamakan fenomena ini sebagai “kulturisasi judi online”.
“Gerakan literasi harus multi-dimensi, mencakup Literasi Digital untuk mengenali modus penipuan, Literasi Finansial untuk melawan utang, dan Literasi Budaya sebagai benteng moral,” tegasnya.
Data Ekonomi: Pemiskinan Sistemik
Romo Dr. Martin Chen, Direktur Puspas Keuskupan Ruteng, menegaskan bahwa transaksi judi online mencapai Rp 1.200 triliun pada 2025.
“Survei mencatat, 71,6% pelaku judi online adalah masyarakat golongan miskin yang berpenghasilan di bawah Rp 5 juta. Fakta ini sunggu memprihatinkan dan harus segera diatasi bersama,” Ujarnya.
Seminar Natal Nasional 2025 di Ruteng menghasilkan kesepakatan kolektif: literasi digital, moral, dan finansial ditempatkan sebagai benteng utama melawan judi online. Pesan Natal tentang harapan dan keselamatan ditegaskan melalui ketahanan sosial dan ekonomi keluarga Indonesia.
Penulis : Gabriel Esong
Editor : Media NewslineNtt








