Neswline.id – Tim Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Belu bersama rombongan yang terdiri dari beberapa auditor dan staf Kementerian Hukum akhirnya tiba di Desa Faturika dan bertemu dengan sejumlah kelompok tenun, salah satunya kelompok Bet Fetora. Kunjungan tersebut berlangsung pada Selasa, 2 Desember 2025 di Desa Faturika, Kecamatan Raimanuk, Kabupaten Belu, NTT.
Kegiatan ini merupakan lanjutan dari rangkaian produksi tenun ikat khas Raimanuk yang menjadi bagian tak terpisahkan dari Tais Belu—salah satu kekayaan intelektual dan warisan leluhur yang masih bertahan dan dilestarikan hingga kini.
Terpantau media ini, Ketua Dekranasda Belu Ny. Vivi Lay diwakili oleh sejumlah pegawai, di antaranya Yudhi, Gunawan, dan Erni. Mereka saat itu bertemu dan berdiskusi langsung dengan para penenun. Di lokasi, tampak pula anggota kelompok lain yang sedang beraktivitas sambil mendengarkan arahan dari para pegawai yang hadir.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Penjabat Desa Faturika, Petronela Berek, kepada media ini menyampaikan ucapan terima kasih kepada Ketua Dekranasda Belu meskipun kehadirannya diwakili oleh staf.
“Saya selaku pimpinan di wilayah desa ini sangat antusias atas kehadiran Dekranasda. Ini menjadi salah satu bentuk penghargaan bagi masyarakat Desa Faturika, karena ini merupakan langkah baik dalam menjaga keberlanjutan warisan leluhur. Kami berkomitmen untuk aktif terlibat dalam mendukung dan memfasilitasi kegiatan menenun sesuai dengan kebutuhan para penenun,” ungkapnya.
Lanjut Nela Berek, ia menegaskan bahwa dalam upaya menjaga warisan leluhur, para penenun harus dilibatkan dalam penyusunan rencana kerja terkait produksi tenun, serta perlu adanya pengawasan intensif dari pemerintah, baik pemerintah daerah maupun pemerintah desa.
Pada kesempatan yang sama, sejumlah anggota penenun juga menyampaikan rasa terima kasih mereka.
“Kami mengucapkan limpah terima kasih karena sudah mulai diajak bekerja sama lagi setelah beberapa tahun berlalu. Semoga dengan pendampingan seperti ini kami semakin bersemangat untuk terus berkarya dan tetap bisa bekerja sama dalam proses produksi Tais Talik Raimanuk,” jelas mereka.
Menutup kegiatan tersebut, para penenun menyampaikan harapan sekaligus keluhan kecil kepada pemerintah agar segera membuka ruang pemasaran yang lebih baik bagi hasil karya mereka.
“Kami sebenarnya sangat mampu untuk melukis setiap gambar yang ada, apalagi sesuai motif Tais Raimanuk. Hanya saja, setelah kami membuat banyak, pasarannya minim. Satu lagi, harganya juga jatuh padahal kualitasnya bagus, meskipun prosesnya melelahkan,” keluh mereka.***
Penulis : Sardiyanto
Editor : Hefri Persli








