KUPANG, NEWSLINE.ID || Kritik tajam terhadap kinerja Bupati Kupang kembali mencuat dari kalangan pemuda. Kali ini datang dari Asten Bait, seorang aktivis muda Kabupaten Kupang yang menyuarakan keresahan masyarakat desa atas buruknya kondisi infrastruktur, menurutnya selama ini diabaikan oleh pemerintah daerah.
Ia menyampaikan kritik keras terhadap Bupati Kupang, Yosef Lede, S.H., yang dinilai lebih sibuk mengurus kegiatan seremonial daripada memperhatikan penderitaan rakyat.
“Jangan hanya urus serimonial untuk membangun polaritas, masyarakat kecil di pelosok masih menderita,” ujarnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Asten mengungkapkan keprihatinannya atas kondisi desa-desa yang sangat memprihatinkan akibat minimnya perhatian pemerintah, khususnya dalam hal infrastruktur dasar.
“Selaku aktivis saya prihatin dengan keadaan di pedesaan karena kita dari desa dan kita tau dan sadar benar akan kebutuhan masyarakat kecil, yang di mana hal yang sangat penting adalah infrastruktur,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa kerusakan infrastruktur jalan telah menjadi penghambat utama bagi masyarakat desa untuk bertahan hidup dan menjual hasil bumi mereka.
“Sebagai anak desa pastinya kita tau bahwa jika infrastruktur tidak diperhatikan seperti jalan, maka tanpa disadari pemerintah mengisolasi masyarakatnya sendiri. Karena bagaimana masyarakat mau menghidupi kehidupannya seperti jualan ke pasar dengan membawa hasil bumi dari kampung sementara infrastruktur seperti jalan rusak,” urainya.
Asten juga menuturkan pengalamannya secara langsung saat berkunjung ke desa Toobaun, Kecamatan Amarasi Barat, Kabupaten Kupang, pada Kamis, 26 Juni 2025. Ia menyaksikan sendiri kondisi jalan yang rusak parah.
“Saya kebetulan ada agenda keluarga di Desa Toobaun, Kecamatan Amarasi Barat, Kabupaten Kupang pada Kamis 26 Juni 2025 dan sepanjang jalan saya merasakan satu kendala, yaitu begitu sulitnya masyarakat mengendarai kendaraan melintasi jalan di desa tersebut yang ada di Kabupaten Kupang,” jelasnya.
Karena itu, ia mendesak pemerintah kabupaten, provinsi, bahkan pusat untuk segera mengambil tindakan.
“Bagi saya ini perlu menjadi perhatian pemerintah Kabupaten Kupang dan juga Provinsi NTT serta pemerintah pusat, karena akses jalan tersebut, jujur sangat memprihatinkan,” kata Asten penuh kecewa.
Ia menambahkan bahwa kerusakan jalan bukan hanya terjadi di Amarasi Barat, tetapi juga meluas ke berbagai wilayah lainnya di Kabupaten Kupang.
“Tidak hanya di Amarasi Barat ini, masih banyak jalan di Kabupaten Kupang yang membutuhkan sentuhan dari pemerintah daerah Kabupaten Kupang, seperti Desa Nonbaun dan Desa Passi di Kecamatan Fatuleu Tengah, Desa Oemolo di Kecamatan Amabi Oefeto Timur, Desa Ekateta di Kecamatan Fatuleu, dan desa-desa di seluruh pelosok Kabupaten Kupang,” tuturnya.
Asten juga tidak segan menyindir DPRD Kabupaten Kupang yang menurutnya pasif dalam menyuarakan aspirasi rakyat.
“Saya minta DPRD Kabupaten Kupang jangan hanya diam seperti lidahnya sudah dipotong dan tidak bisa bicara, tetapi sadar dan suarakan aspirasi masyarakat kecil,” kritik Asten.
Ia pun menutup pernyataannya dengan mendesak Bupati Kupang agar segera memperbaiki jalan-jalan rusak dan tidak lagi menghambur-hamburkan anggaran untuk kegiatan seremonial.
“Saya juga ketika melihat persoalan infrastruktur maka saya sebagai anak kampung ingin mengatakan Bupati Kupang jangan menghabiskan anggaran untuk seremonial sesaat, tetapi coba buka mata, telinga untuk mendengarkan tangisan masyarakat kecil,” paparnya.
Diamnya Pemerintah Kabupaten Kupang hingga saat ini menambah panjang daftar persoalan yang tak kunjung ditanggapi, meski jeritan warga terus menggema dari pelosok desa.*
Reporter: Djohanes bentah








