“Panggung Rakyat Pulau Kera: Suara Laut Melawan Relokasi Paksa”

Sunday, 1 June 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pulau Kera, newsline.id – Pulau  yang selama ini dikenal sebagai pulau yang tenang dan sunyi, mendadak berubah ramai dan penuh semangat perjuangan. Pada saptu malam, 31 Mei 2025, warga Pulau Kera bersama mahasiswa dan organisasi rakyat menggelar Panggung Rakyat bertajuk “Relokasi Bukan Solusi, Mari Berjuang Bersama Pulau Kera”.

Acara yang diprakarsai oleh Front Mahasiswa Nasional (FMN) Cabang Kupang ini menjadi simbol penolakan terhadap rencana relokasi warga Pulau Kera yang menuai polemik. Hadir pula organisasi Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA) NTT, serta seluruh elemen masyarakat yang bersatu dalam satu semangat: mempertahankan tanah dan identitas mereka.

Acara dimeriahkan dengan pertunjukan budaya—tarian tradisional, puisi perlawanan, pidato perjuangan, hingga seni rakyat lainnya—yang menggambarkan betapa kuatnya ikatan antara warga dan tanah yang mereka tempati selama puluhan tahun.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

FMN: “Kami Datang Sebagai Saudara Seperjuangan”

Dalam sambutannya, Ketua FMN Cabang Kupang, Bung Vino, menegaskan bahwa kehadiran mereka bukan sekadar simbolik.

“Kami datang sebagai bagian dari rakyat yang peduli. Kehadiran kami di sini bukan kunjungan biasa, ini adalah bagian dari komitmen perjuangan kami untuk berdiri bersama warga Pulau Kera melawan ketidakadilan,” tegasnya lantang.

Ia juga menyentil pemerintah daerah yang menggulirkan relokasi tanpa dialog terbuka.

“Rakyat Pulau Kera bukan objek yang bisa dipindahkan sesuka hati. Mereka punya hak hidup, hak atas tanah, dan hak menentukan masa depan. Relokasi tanpa kejelasan hanyalah bentuk lain dari pengabaian terhadap rakyat kecil,” tambah Vino dalam orasinya.

Warga Bicara: “Kami Tak Sendiri Lagi, Kami Akan Bertahan!”

Suasana semakin haru saat Bapak Nofri, mewakili warga Pulau Kera, menyampaikan sambutan penuh emosi di atas panggung.

“Dulu kami berpikir perjuangan ini kami jalani sendiri. Tapi malam ini kami sadar: kami tidak sendiri. Teman-teman mahasiswa datang bukan membawa janji, tapi membawa semangat dan keberanian. Kami akan bertahan di Pulau Kera sampai kapan pun!” serunya disambut tepuk tangan meriah.

Ia menegaskan bahwa Pulau Kera bukan milik satu suku atau kelompok.

“Pulau ini milik semua. Bajo, Rote, Timor—semua ada di sini. Dan lebih dari itu, Pulau Kera adalah bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kami berhak tinggal di tanah ini karena kami warga negara, karena kami bagian dari demokrasi!” tegasnya.

AGRA NTT: “Negara Telah Menunjukkan Wajah Aslinya”

Ketua AGRA NTT, Fadli Anetong, menambahkan bahwa relokasi ini mencerminkan wajah asli kekuasaan yang anti-rakyat.

“Negara lewat Kabupaten Kupang telah menunjukkan karakternya: anti terhadap rakyat miskin, anti terhadap demokrasi. Tapi dengan segala keterbatasan, rakyat mampu melawan dan mempertahankan haknya,” ujarnya.

Fadli juga menyinggung klaim sepihak bahwa warga Pulau Kera adalah “pendatang”.

“Jika mereka bilang suku Bajo adalah pendatang, maka mari kita buka sejarah: nenek moyang kita adalah pelaut. Suku Bajo adalah penjaga lautan Nusantara sejak dulu. Tidak ada kata pendatang di negeri sendiri!” tegasnya penuh semangat.

Semangat Menyala, Perjuangan Terus Menanjak

Panggung rakyat malam itu menjadi pengingat bahwa Pulau Kera bukan sekadar pulau kecil di Nusa Tenggara Timur. Ia adalah simbol perjuangan rakyat melawan relokasi paksa, simbol keberanian melawan kekuasaan yang membungkam suara-suara kecil.

Acara ditutup dengan pekikan semangat dari warga dan mahasiswa:

“Pulau Kera bukan milik investor! Pulau Kera adalah rumah rakyat! Relokasi bukan solusi, perjuangan adalah jalan!”

Reporter: Djohanes Bentah

Berita Terkait

Janji Relokasi Dipertanyakan, Warga Nilai Pembongkaran Lapak oleh Satpol PP Kabupaten Kupang Minim Sosialisasi  ‎
Bupati Kupang Tegaskan Komitmen Selesaikan Persoalan Lahan Kawasan Industri Bolo
Sekda Kupang Buka Sosialisasi Konservasi Pesisir dan Pemberdayaan Ekonomi
Bupati Kupang Tinjau PLTMG I, Dorong Pembangunan PLTMG II untuk Perkuat Pasokan Listrik Timor
75 Pejabat Administrator Dilantik, Bupati Nabit: Jabatan Harus Disyukuri dengan Integritas
Bupati Kupang Yosef Lede Resmi Luncurkan Kampung Taat Pajak, Dorong Kesadaran Bayar Pajak Warga  
Bupati Kupang Hadiri HUT ke-23 GMIT Amanau Tablolong, Sekaligus Letakkan Batu Pertama Gedung Serbaguna
Bupati Kupang Hadiri Kick Off Program Renovasi RUMAH ‎ ‎

Berita Terkait

Friday, 29 May 2026 - 22:22

Janji Relokasi Dipertanyakan, Warga Nilai Pembongkaran Lapak oleh Satpol PP Kabupaten Kupang Minim Sosialisasi  ‎

Wednesday, 29 April 2026 - 18:13

Bupati Kupang Tegaskan Komitmen Selesaikan Persoalan Lahan Kawasan Industri Bolo

Tuesday, 28 April 2026 - 23:35

Sekda Kupang Buka Sosialisasi Konservasi Pesisir dan Pemberdayaan Ekonomi

Tuesday, 28 April 2026 - 23:29

Bupati Kupang Tinjau PLTMG I, Dorong Pembangunan PLTMG II untuk Perkuat Pasokan Listrik Timor

Friday, 24 April 2026 - 12:04

75 Pejabat Administrator Dilantik, Bupati Nabit: Jabatan Harus Disyukuri dengan Integritas

Berita Terbaru

Korban dugaan penganiayaan berinisial KD (kanan) didampingi salah satu kuasa hukumnya, I Putu Agus Alit Diva Pranata, S.H. (kiri), usai membuat laporan resmi di Polsek Marga, Kabupaten Tabanan, Bali. Korban melaporkan dugaan tindak penganiayaan yang diduga dilakukan oleh ayah dari mantan kekasihnya. Saat ini kasus tersebut masih dalam proses penyelidikan pihak kepolisian. Sumber foto dok: Adv Florianus.

Hukum

Hubungan Asmara yang Berakhir Pidana

Tuesday, 2 Jun 2026 - 14:46