Ibu-Ibu Pulau Kera Menjadi Garda Terdepan Penolakan Relokasi: “Kami Tidak Akan Pergi dari Tanah Leluhur Kami”

Sunday, 1 June 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pulau Kera, 31 mei 2025 – newsline.id | Di tengah hembusan angin laut dan deru ombak yang akrab, Pulau Kera kembali menjadi sorotan. Bukan karena panorama alamnya yang eksotis, tetapi karena perlawanan warga terhadap rencana relokasi yang disebut-sebut sebagai bagian dari proyek pembangunan kawasan pesisir. Yang mengejutkan publik, bukan kaum pria, melainkan para ibu-ibu yang tampil sebagai garda terdepan.

Dengan kaki berbalut sarung dan semangat yang tak gentar, para perempuan ini menyuarakan satu pesan jelas: “Kami tidak akan pergi dari tanah leluhur kami.” Mereka berdiri di garis depan demonstrasi, memblokir akses, mengibarkan kain tenun sebagai simbol perlawanan budaya, dan membentangkan poster buatan tangan yang berbunyi “Tanah Ini Warisan Kami, Bukan Komoditas Investasi.”

Rencana relokasi yang digagas oleh pihak pemerintah kabupaten kupang dengan dalih modernisasi dan pembangunan fasilitas wisata, dinilai sebagai ancaman langsung terhadap identitas budaya, spiritualitas, dan kelangsungan hidup masyarakat Pulau Kera. Pulau kecil yang selama ini dihuni komunitas nelayan tradisional itu dianggap tidak strategis secara ekonomi, namun bagi warga setempat, terutama para ibu, tanah itu adalah napas kehidupan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kalau kami dipindahkan, siapa yang akan menjaga kubur leluhur kami? Siapa yang akan ajari anak-anak kami cara hidup di laut?” ungkap suara kolektif yang mereka gaungkan dari setiap lorong kampung hingga pantai.

Mereka bukan hanya ibu rumah tangga. Mereka adalah penjaga tradisi, pengatur ritme sosial, dan pengambil keputusan penting dalam komunitas. Dalam konteks relokasi ini, mereka menunjukkan bahwa perlawanan bukan monopoli laki-laki. Mereka bergerak, bukan karena diarahkan, tetapi karena naluri dan tanggung jawab sebagai penjaga warisan.

Aksi penolakan ini terus berlangsung dengan cara-cara kreatif. Mulai dari memasak bersama di lokasi protes, menggelar ritual adat, hingga menenun kain sambil berdiskusi tentang strategi bertahan. Aksi-aksi ini bukan hanya simbolis, tetapi juga bentuk nyata mempertahankan eksistensi dan menolak peminggiran yang dibungkus atas nama pembangunan.

Kekhawatiran warga Pulau Kera bukan tanpa dasar. Di beberapa wilayah pesisir Indonesia, relokasi seringkali berujung pada pemiskinan struktural: hilangnya akses terhadap laut, putusnya rantai ekonomi tradisional, serta rusaknya relasi sosial-budaya yang telah dibangun selama puluhan tahun.

Apa yang dilakukan para ibu di Pulau Kera adalah bentuk perlawanan dari bawah—suatu perlawanan yang tidak meledak-ledak, namun konsisten dan berakar. Mereka tidak memerlukan mikrofon atau panggung, sebab kekuatan mereka ada pada keteguhan hati dan kesadaran akan identitas.

Kini, Pulau Kera bukan hanya simbol perlawanan terhadap relokasi, tetapi juga panggung nyata kebangkitan suara perempuan adat. Dalam sunyi dan debur gelombang, suara mereka terus bergema, menolak lupa, menolak dijual, menolak dipinggirkan.

Pemerintah daerah dan pihak investor mungkin melihat relokasi sebagai solusi. Tapi bagi para ibu Pulau Kera, ini adalah soal harga diri, soal keberlangsungan hidup komunitas, dan soal cinta tak tergantikan pada tanah yang mereka sebut rumah.

Di balik berita besar tentang pembangunan, tersembunyi kisah kecil yang justru mengguncang: bahwa ibu-ibu dari pulau kecil bisa menjadi penjaga benteng terakhir dari apa yang tersisa dari kearifan lokal—dan mereka tidak akan menyerah.***

Reporter: DJOHANES BENTAH

Berita Terkait

Bupati Kupang Hadiri Pentahbisan GPdI Karmel Tunfeu, Soroti Peran Gereja dalam Pembangunan Daerah  
Wakil Bupati Kupang Hadiri Paskah EIS, Puji Lingkungan Belajar dan Dorong Sekolah Lain Meniru
Bupati Kupang Dorong SMPN 1 Jadi Sekolah Unggulan, Awasi TKA dan Program Makan Bergizi Gratis  
24 Ketua TP PKK Kecamatan Resmi Dilantik, Pemkab Kupang Fokus Percepat Penanganan Stunting dan Kemiskinan
Jalan Rusak Tunbaun, Mahasiswi Politik Kupang Kritik Lemahnya Respons Pemerintah NTT
Jembatan Timor Raya Kupang Putus, Kendaraan Tak Bisa Melintas  ‎
Satu Tahun Kepemimpinan Bupati, Asten Bait:Stop Retorika Politik, Fokus Kebutuhan Rakyat
Advokat Bali Soroti Ketidakadilan Pasal 34 KUHP Baru, Minta Aparat Tegakkan Hukum Tanpa Tebang Pilih
Berita ini 68 kali dibaca

Berita Terkait

Friday, 17 April 2026 - 15:54

Bupati Kupang Hadiri Pentahbisan GPdI Karmel Tunfeu, Soroti Peran Gereja dalam Pembangunan Daerah  

Thursday, 16 April 2026 - 01:48

Wakil Bupati Kupang Hadiri Paskah EIS, Puji Lingkungan Belajar dan Dorong Sekolah Lain Meniru

Wednesday, 15 April 2026 - 11:15

Bupati Kupang Dorong SMPN 1 Jadi Sekolah Unggulan, Awasi TKA dan Program Makan Bergizi Gratis  

Tuesday, 14 April 2026 - 16:42

24 Ketua TP PKK Kecamatan Resmi Dilantik, Pemkab Kupang Fokus Percepat Penanganan Stunting dan Kemiskinan

Thursday, 9 April 2026 - 00:28

Jalan Rusak Tunbaun, Mahasiswi Politik Kupang Kritik Lemahnya Respons Pemerintah NTT

Berita Terbaru

I Nyoman Krisna Divayana, seorang konselor adiksi di salah satu lembaga rehabilitasi dan juga sebagai paralegal di kantor hukum James Richard and Partners. (Sumber Dok. Istimewa)

Nasional

Waspada!! Narkotika menyerang kalangan remaja dan dewasa

Thursday, 16 Apr 2026 - 11:45