Newsline NTT – Wakil Sekretaris Jenderal BEM Nusantara Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Jordan Geru, menanggapi polemik penggusuran yang terjadi di wilayah pesisir Kota Raja Ndao, Kabupaten Ende.
Menurutnya, musyawarah antara pemerintah dan masyarakat sebelum dilakukannya penggusuran bukan sekadar formalitas administratif, melainkan instrumen krusial untuk menjamin keadilan sosial serta menjaga stabilitas keamanan.
”Dalam konteks pembangunan, pendekatan dialogis menjadi jembatan untuk menemukan titik temu antara kepentingan umum dan hak-hak konstitusional warga,”ujarnya kepada wartawan Neswline melalui rilisan pesan WhatsApp,Rabu (15/04/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Jordan menilai, penggusuran yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Ende dalam rangka penataan kota masih menyisakan berbagai persoalan di lapangan. Masyarakat pesisir Ndao Ende, kata dia, masih merasakan adanya ketidakadilan dalam proses tersebut.
Ia menyoroti bahwa sebagian warga mengaku memiliki sertifikat tanah yang sah dan dapat dibuktikan. Namun demikian, proses penggusuran tetap berjalan tanpa adanya kejelasan penyelesaian yang adil bagi masyarakat terdampak.
”Penataan kota memang penting untuk menciptakan lingkungan yang fungsional, berkelanjutan, dan nyaman. Namun, proses itu tidak boleh mengabaikan hak masyarakat,”tegasnya.
Lebih lanjut, Jordan mengkritik minimnya dialog antara Pemerintah Kabupaten Ende dengan masyarakat sebelum penggusuran dilakukan. Ia menilai, tidak adanya ruang komunikasi yang terbuka berpotensi memperbesar konflik sosial.
”Tidak ada dialog yang memadai dengan masyarakat untuk mencari solusi yang adil sebelum penggusuran dilakukan, meskipun pemerintah mengklaim memiliki legalitas dari Bupati Ende,” tambahnya.
Jordan menegaskan bahwa keadilan sosial hanya dapat tercapai jika kelompok yang paling terdampak diberi ruang untuk menyampaikan aspirasi secara langsung.
”Mereka yang terdampak seperti pedagang kecil, masyarakat adat, maupun warga di wilayah pesisir harus diberikan ruang bicara. Aspirasi mereka tidak boleh diwakili sepihak oleh narasi elit, tetapi harus disampaikan langsung dari pengalaman hidup mereka,” pungkasnya.***
Editor : Sardiyanto








