Delapan Tahun Tanpa Tersangka, Penyidikan Risalah Tanah Kayu Putih Masih Berjalan ‎

Tuesday, 17 February 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) dan surat panggilan saksi  sebagai bagian dari proses penanganan perkara. Foto:(Doc.Istimewa)

Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) dan surat panggilan saksi sebagai bagian dari proses penanganan perkara. Foto:(Doc.Istimewa)

Newsline NTT – Penyidikan dugaan penggunaan dokumen bermasalah dalam proses penerbitan Sertifikat Hak Milik (SHM) di Kelurahan Kayu Putih, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang, hingga kini masih berlanjut tanpa adanya penetapan tersangka. Perkara yang telah bergulir sejak 2018 itu kembali memasuki tahap pendalaman oleh penyidik.

‎Kasus ini bermula dari Laporan Polisi Nomor: LP/B/765/VIII/2018/SPKT Res Kupang Kota tertanggal 30 Agustus 2018 yang ditangani Polres Kupang Kota. Laporan tersebut berkaitan dengan dugaan adanya keterangan yang dipersoalkan dalam Risalah Panitia Pemeriksaan Tanah A, yang menjadi bagian dari proses administratif penerbitan sejumlah SHM pada 2016.

‎Pelapor mempertanyakan keabsahan risalah tersebut karena diduga disusun pada masa transisi jabatan lurah. Dalam kronologi yang dilampirkan, disebutkan bahwa pada Januari hingga Februari 2016 terjadi pergantian pejabat lurah, namun dokumen risalah masih mencantumkan nama pejabat sebelumnya. Hal inilah yang kemudian menjadi dasar pelaporan kepada pihak kepolisian.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

‎Gelar perkara di tingkat Polda

‎Perkembangan terbaru tertuang dalam Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) tertanggal Februari 2026. Dalam dokumen itu dijelaskan bahwa perkara telah digelar di tingkat Polda NTT pada 11 Februari 2026.

‎Hasil gelar perkara tersebut merekomendasikan agar penyidik melanjutkan pendalaman dengan memeriksa kembali pihak-pihak yang berkaitan dengan dokumen risalah panitia tanah. Rekomendasi itu juga menegaskan bahwa proses penyidikan masih berjalan dan belum memasuki tahap penetapan tersangka.

‎Pemeriksaan saksi kembali dilakukan

‎Pada Februari 2026, penyidik kembali melayangkan surat panggilan kepada salah satu saksi untuk dimintai keterangan tambahan. Dalam surat tersebut disebutkan dugaan tindak pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 266 KUHP junto Pasal 263 KUHP, yang berkaitan dengan dugaan pemberian keterangan dalam akta autentik serta dugaan pemalsuan dokumen.

‎Langkah ini menunjukkan bahwa penyidik masih berfokus pada pengumpulan alat bukti dan klarifikasi guna memastikan konstruksi perkara secara menyeluruh.

‎Proses panjang jadi sorotan

‎Lamanya penanganan perkara yang telah berlangsung selama delapan tahun menjadi perhatian berbagai pihak. Sejak dilaporkan pada 2018, perkara ini belum menghasilkan kepastian hukum berupa penetapan tersangka maupun penghentian penyidikan secara resmi.

‎Pelapor juga menyoroti pentingnya pemeriksaan dokumen pendukung administrasi pertanahan, seperti warkah tanah dan kartu biru, serta kemungkinan menghadirkan keterangan ahli untuk menilai aspek hukum dari dokumen yang dipersoalkan.

‎Meski demikian, hingga saat ini belum ada pernyataan resmi dari penyidik mengenai adanya unsur pidana yang terbukti atau pihak yang dapat dimintai pertanggungjawaban hukum.

‎Menunggu kepastian hukum

‎Kasus ini menjadi perhatian karena berkaitan langsung dengan dokumen administratif yang menjadi dasar penerbitan hak atas tanah. Risalah panitia tanah merupakan bagian penting dalam proses sebelum sertifikat diterbitkan oleh instansi pertanahan.

‎Setiap keberatan terhadap keabsahan dokumen tersebut harus dibuktikan melalui proses hukum yang objektif, profesional, dan transparan. Hingga berita ini dipublikasikan, penyidikan masih berlangsung sesuai mekanisme hukum yang berlaku.

‎Redaksi menegaskan bahwa pemberitaan ini disusun berdasarkan dokumen resmi dan tidak dimaksudkan untuk menyimpulkan adanya tindak pidana. Seluruh dugaan masih berada dalam tahap penyidikan dan belum diputuskan oleh pengadilan.***

‎

Penulis : Johannes Bentah

Editor : Sardiyanto

Berita Terkait

LAPORAN NAIK SIDIK KUASA HUKUM APRESIASI PENYIDIK SEKALIGUS MEMONITOR PROSES PENYIDIKAN.
‎Audiensi dengan Kaprodi, Mahasiswa PGSD UMKOE Dorong Penurunan Harga Baju dari Rp650 Ribu Menjadi Rp450 Ribu
Pemkot Kupang dan Kejari Kota Kupang Perkuat Komitmen Cegah Persoalan Hukum dalam Penyelenggaraan Pemerintahan ‎
PERSELISIHAN KERJA SAMA USAHA BERAKHIR DAMAI
Dugaan Pengrusakan Rumah Warga di TTU, Kini Masuk Tahap Penyelidikan  ‎
Itikad Baik Tersangka Diapresiasi, Kasus Laka Lantas di Denpasar Berakhir Damai Lewat Restorative Justice
Alumni Undana Jadi Korban Penembakan, BEM Undana Desak Pengusutan Tuntas ‎
Mahasiswa FISIP UNWIRA, Bedah Ketimpangan Struktural NTT Lewat Diskusi Kritis Lapak Neraka 

Berita Terkait

Tuesday, 27 October 2026 - 02:13

LAPORAN NAIK SIDIK KUASA HUKUM APRESIASI PENYIDIK SEKALIGUS MEMONITOR PROSES PENYIDIKAN.

Thursday, 22 October 2026 - 13:45

‎Audiensi dengan Kaprodi, Mahasiswa PGSD UMKOE Dorong Penurunan Harga Baju dari Rp650 Ribu Menjadi Rp450 Ribu

Wednesday, 7 October 2026 - 00:41

Pemkot Kupang dan Kejari Kota Kupang Perkuat Komitmen Cegah Persoalan Hukum dalam Penyelenggaraan Pemerintahan ‎

Friday, 2 October 2026 - 12:42

PERSELISIHAN KERJA SAMA USAHA BERAKHIR DAMAI

Saturday, 26 September 2026 - 13:44

Dugaan Pengrusakan Rumah Warga di TTU, Kini Masuk Tahap Penyelidikan  ‎

Berita Terbaru

Hukum

PERSELISIHAN KERJA SAMA USAHA BERAKHIR DAMAI

Friday, 2 Oct 2026 - 12:42