Newsline NTT-Ratusan lilin dinyalakan di Bundaran Tirosa Kota Kupang, Sabtu malam (7/2/2026), sebagai simbol duka dan solidaritas atas meninggalnya Yohanes B. Roja, yang akrab disapa Bastian. Kepergian siswa sekolah dasar ini menyisakan luka mendalam sekaligus memunculkan keprihatinan serius terhadap akses pendidikan dasar di Nusa Tenggara Timur.
Aksi damai bertajuk Seribu Lilin digelar oleh BEM Nusantara bersama Ormas Laskar Timur, media online Indonesia, mahasiswa Kupang, serta masyarakat Kota Kupang. Kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi bersama atas tragedi yang menimpa Yohanes B. Roja, seorang anak berusia 10 tahun yang diduga mengalami tekanan berat akibat keterbatasan ekonomi keluarga dalam memenuhi kebutuhan dasar sekolah, termasuk alat tulis.
Peristiwa ini tidak hanya mengguncang masyarakat lokal, tetapi juga menarik perhatian publik hingga ke tingkat nasional. Banyak pihak menilai tragedi tersebut mencerminkan masih lemahnya jaminan negara dalam pemenuhan hak dasar pendidikan anak, terutama bagi mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu dan wilayah pinggiran.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam orasinya, Ketua BEM Nusantara, Andi Sanjaya, menegaskan bahwa kepergian Bastian harus dibaca sebagai peringatan serius bagi pemerintah, khususnya dalam pengelolaan program dan anggaran pendidikan.
”Tragedi ini menunjukkan bahwa masih ada anak bangsa yang tidak tersentuh oleh sistem pendidikan yang seharusnya melindungi mereka. Ini menjadi alarm keras bagi negara,”ujar Andi di hadapan massa aksi.
Pernyataan senada disampaikan oleh anggota BEM Nusantara, Very Manek, yang menyoroti minimnya perhatian pemerintah terhadap masyarakat di wilayah terpencil.
”Peristiwa ini membuktikan bahwa hak anak untuk mendapatkan pendidikan yang layak belum sepenuhnya dijamin, khususnya di daerah-daerah yang jauh dari pusat perhatian,” tegasnya.
Suasana semakin emosional ketika Daud Wieldson, perwakilan Generasi Z, membacakan pesan reflektif untuk almarhum Bastian. Pesan tersebut menggambarkan kegelisahan masyarakat terhadap ketimpangan akses pendidikan yang masih nyata terjadi.
”Kepergian adik Bastian menjadi pengingat pahit bahwa di tengah gencarnya narasi pembangunan, masih ada anak bangsa yang tertinggal dari akses pendidikan paling dasar. Bangsa ini terlalu sibuk berbicara tentang kemajuan, hingga lupa memastikan setiap anak mampu menggenggam pena untuk menuliskan mimpinya,” ucap Daud.
Dalam kesempatan yang sama, para peserta aksi berharap tragedi ini menjadi bahan evaluasi bersama, terutama bagi pemerintah, agar menghadirkan kebijakan dan program yang benar-benar berpihak pada pemenuhan hak pendidikan anak tanpa terkecuali. Aksi seribu lilin tersebut berlangsung tertib dan damai. Nyala lilin yang menerangi Bundaran Tirosa menjadi simbol duka mendalam, sekaligus harapan agar tidak ada lagi anak bangsa yang kehilangan masa depannya akibat keterbatasan akses pendidikan.***
Penulis : Ayon Yohanes
Editor : Sardiyanto









