WALHI NTT Nilai Penetapan Tersangka Anton Yohanis Bala dan Warga Nangahale Bentuk Kriminalisasi

Tuesday, 3 February 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Direktur WALHI NTT, Yuvensius Stefanus Nonga.Foto:(Doc istimewa)

Direktur WALHI NTT, Yuvensius Stefanus Nonga.Foto:(Doc istimewa)

Newsline NTT-Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Nusa Tenggara Timur menilai penetapan tersangka terhadap Anton Yohanis Bala, S.H. bersama sejumlah warga Nangahale tidak dapat dilepaskan dari konflik agraria berkepanjangan di atas tanah negara eks-HGU yang masa berlakunya telah berakhir sejak 2013.

WALHI NTT mencatat, sejak 2014 masyarakat telah menempati, membangun rumah, serta mengelola lahan tersebut secara terbuka. Keberadaan warga diketahui pemerintah dan bahkan pernah menjadi bagian dari proses administratif, termasuk pembentukan tim terpadu oleh pemerintah daerah untuk melakukan identifikasi dan verifikasi masyarakat. Namun hingga kini, upaya tersebut tidak pernah berujung pada penyelesaian konflik yang adil

“Negara mengetahui adanya konflik agraria, tetapi tidak menghadirkan solusi yang melindungi hak warga,” tegas WALHI NTT.Pada,(03/02/2026)

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Situasi ini, menurut WALHI, sejalan dengan temuan dalam Laporan Hasil Pemeriksaan Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan NTT yang menyatakan adanya maladministrasi dalam pengelolaan dan proses administrasi pertanahan di wilayah tersebut. Ombudsman menilai tata kelola pemerintah bermasalah serta mengabaikan keberadaan masyarakat yang telah lama menguasai dan memanfaatkan lahan.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa akar persoalan terletak pada kesalahan administrasi negara dan kegagalan penyelesaian konflik agraria, bukan pada tindakan kriminal warga. Karena itu, pendekatan pidana dinilai tidak proporsional.

Di tengah keberatan masyarakat yang belum pernah diselesaikan, pemerintah justru menerbitkan izin HGU baru. WALHI NTT menilai langkah ini mengabaikan realitas sosial serta bertentangan dengan prinsip keadilan agraria dan asas-asas umum pemerintahan yang baik.

Ketika warga mempertahankan tanah yang telah menjadi ruang hidup mereka selama bertahun-tahun, persoalan struktural ini justru dialihkan menjadi perkara pidana melalui Pasal 167 KUHP. Akibatnya, konflik agraria direduksi menjadi tuduhan pelanggaran individual, sementara maladministrasi negara luput dari pertanggungjawaban.

Dalam konteks tersebut, WALHI NTT menegaskan Anton Yohanis Bala tidak dapat diposisikan sebagai pelaku tindak pidana. Ia dinilai sebagai pembela HAM yang menjalankan pendampingan hukum dan advokasi masyarakat. Bahkan, keterlibatannya pernah berada dalam struktur tim resmi bentukan pemerintah daerah, menandakan perannya dilakukan dalam kerangka kerja yang sah dan diketahui negara.

“Memidanakan pendamping masyarakat di tengah konflik agraria akibat maladministrasi merupakan bentuk kriminalisasi sekaligus serangan terhadap pembela HAM,” ujar WALHI NTT.

WALHI menekankan, temuan Ombudsman menempatkan konflik Nangahale dalam ranah koreksi administrasi dan penyelesaian agraria, bukan ranah kriminal. Karena itu, proses hukum terhadap Anton Yohanis Bala dan warga Nangahale dinilai bertentangan dengan prinsip keadilan, proporsionalitas, serta kewajiban negara untuk melindungi pembela HAM.

Atas dasar tersebut, WALHI NTT mendesak aparat penegak hukum menghentikan proses pidana terhadap Anton Yohanis Bala dan warga Nangahale. Pemerintah juga diminta segera menindaklanjuti LHP Ombudsman dengan membenahi tata kelola pertanahan, mengevaluasi izin yang bermasalah, serta menyelesaikan konflik melalui mekanisme reforma agraria yang berkeadilan.

“Penggunaan hukum pidana dalam perkara ini hanya akan memperdalam ketidakadilan dan menggeser tanggung jawab negara kepada rakyat,” tutup WALHI NTT.***

Penanggung jawab rilis: Yuvensius Stefanus Nonga, S.H., M.H. (Direktur WALHI NTT)

Penulis : Sardiyanto

Editor : Sardiyanto

Berita Terkait

LAPORAN NAIK SIDIK KUASA HUKUM APRESIASI PENYIDIK SEKALIGUS MEMONITOR PROSES PENYIDIKAN.
‎Audiensi dengan Kaprodi, Mahasiswa PGSD UMKOE Dorong Penurunan Harga Baju dari Rp650 Ribu Menjadi Rp450 Ribu
Pemkot Kupang dan Kejari Kota Kupang Perkuat Komitmen Cegah Persoalan Hukum dalam Penyelenggaraan Pemerintahan ‎
PERSELISIHAN KERJA SAMA USAHA BERAKHIR DAMAI
Dugaan Pengrusakan Rumah Warga di TTU, Kini Masuk Tahap Penyelidikan  ‎
Itikad Baik Tersangka Diapresiasi, Kasus Laka Lantas di Denpasar Berakhir Damai Lewat Restorative Justice
Alumni Undana Jadi Korban Penembakan, BEM Undana Desak Pengusutan Tuntas ‎
Mahasiswa FISIP UNWIRA, Bedah Ketimpangan Struktural NTT Lewat Diskusi Kritis Lapak Neraka 

Berita Terkait

Tuesday, 27 October 2026 - 02:13

LAPORAN NAIK SIDIK KUASA HUKUM APRESIASI PENYIDIK SEKALIGUS MEMONITOR PROSES PENYIDIKAN.

Thursday, 22 October 2026 - 13:45

‎Audiensi dengan Kaprodi, Mahasiswa PGSD UMKOE Dorong Penurunan Harga Baju dari Rp650 Ribu Menjadi Rp450 Ribu

Wednesday, 7 October 2026 - 00:41

Pemkot Kupang dan Kejari Kota Kupang Perkuat Komitmen Cegah Persoalan Hukum dalam Penyelenggaraan Pemerintahan ‎

Friday, 2 October 2026 - 12:42

PERSELISIHAN KERJA SAMA USAHA BERAKHIR DAMAI

Saturday, 26 September 2026 - 13:44

Dugaan Pengrusakan Rumah Warga di TTU, Kini Masuk Tahap Penyelidikan  ‎

Berita Terbaru

Hukum

PERSELISIHAN KERJA SAMA USAHA BERAKHIR DAMAI

Friday, 2 Oct 2026 - 12:42