Newsline NTT – Dewan Pimpinan Pusat Front Mahasiswa Nasional (DPP FMN) resmi menutup rangkaian Pleno IV melalui kegiatan Panggung Rakyat yang digelar di STT Abal Balat Kupang, (27/1/2026) Menghidupkan Budaya Rakyat dalam Sentralisme Demokrasi dan Perbaikan Kerja Organisasi.
Acara penutupan dihadiri DPP FMN beserta jajaran, Ketua FMN Cabang Kupang bersama anggota, serta salah satu senior/alumni FMN, Fadli Anetong. Kegiatan diawali dengan seremoni pembukaan, pertunjukan tarian rakyat, serta menyanyikan Mars FMN secara bersama-sama.

Sebelumnya, Pleno IV DPP FMN telah berlangsung sejak Sabtu (24/1/2026) dan diikuti oleh pengurus pusat serta pengurus FMN Cabang Kupang. Forum ini menjadi ruang evaluasi kerja organisasi sekaligus penguatan konsolidasi nasional FMN.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam sambutannya, Ketua BEM Nusantara NTT, Andy Sanjaya, menegaskan bahwa mahasiswa merupakan bagian dari rakyat yang memiliki tanggung jawab untuk terus memperjuangkan hak-hak kaum tertindas.
Mahasiswa adalah perwakilan rakyat yang hingga hari ini masih sama-sama memperjuangkan hak kaum tertindas,” ujar Andy.
Ia menilai, aspirasi masyarakat sering kali tidak tersampaikan secara utuh meskipun telah dibawa ke ruang-ruang kekuasaan maupun forum resmi. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan bersama bagi mahasiswa dan rakyat.
Kita sering bersuara, tetapi aspirasi yang dibawa justru tidak sesuai dengan kehendak rakyat,” katanya.
Andy juga mengajak mahasiswa dan masyarakat untuk tidak takut hadir dan bergerak bersama dalam memperjuangkan hak-hak sosial. Ia menekankan pentingnya keberanian bersikap kritis sebagai bagian dari tanggung jawab moral generasi muda terhadap persoalan yang dihadapi rakyat.
Rangkaian Closing Pleno IV DPP FMN diisi dengan berbagai penampilan seni, mulai dari pembacaan puisi, pertunjukan teatrikal, tarian rakyat, hingga nyanyian. Salah satu penampilan yang mendapat perhatian adalah teatrikal “DPR VS Aktivis” yang dibawakan oleh kawan-kawan FMN Bandung.
Teatrikal tersebut menjadi bentuk kritik sosial terhadap ketidakpedulian wakil rakyat terhadap penderitaan masyarakat. Pertunjukan ini menampilkan kontras antara kenyamanan elite parlemen dengan realitas petani, buruh, serta mahasiswa yang masih terdampak kebijakan yang dinilai belum berpihak pada rakyat.
Selain itu, lagu “Sukatani Bayar Polisi” yang dibawakan oleh Jeng Vatof dari Pimpinan Pusat Departemen Perempuan FMN turut mengisi Panggung Rakyat. Penampilan tersebut menjadi simbol ekspresi kegelisahan masyarakat terhadap praktik-praktik yang dianggap mencederai rasa keadilan.
Melalui lagu itu, Jeng Vatof menyampaikan kritik sosial sekaligus keresahan publik terhadap situasi di mana warga kerap merasa harus
”membayar oknum-oknum polisi”saat berurusan dengan aparat. Penampilan tersebut juga menjadi harapan agar institusi penegak hukum semakin profesional, transparan, serta benar-benar hadir sebagai pelindung dan pengayom masyarakat.
Pantauan media, seluruh rangkaian kegiatan berlangsung tertib dan mendapat antusiasme dari peserta yang hadir. Panggung Rakyat tidak hanya menjadi ruang hiburan, tetapi juga wadah ekspresi politik dan kebudayaan rakyat.
Penutupan Pleno IV DPP FMN ini menegaskan komitmen organisasi untuk terus memperkuat kerja-kerja advokasi, pendidikan politik, serta solidaritas dengan berbagai lapisan masyarakat. Melalui momentum ini, FMN berharap dapat mempererat hubungan antara mahasiswa dan rakyat, sekaligus memperkuat perjuangan bersama dalam mendorong perubahan sosial yang lebih adil.***
Penulis : Sardiyanto
Editor : Redaksi









