NEWSLINE.ID|Kota Kupang, yang selama berbulan-bulan dibalut terik matahari dan angin kering, kembali diguyur hujan deras. Namun bukan hujan biasa—ia datang bersama gelegar petir dan kilatan cahaya yang membelah langit malam. Di satu sisi, ini adalah kabar baik. Tapi di sisi lain, ini juga alarm bagi kesiapsiagaan kota terhadap cuaca ekstrem.
Bagi warga Kupang, hujan selalu membawa rasa syukur. Air adalah sesuatu yang langka di musim-musim panjang tanpa awan. Petani bisa mulai menyiapkan ladang, dan air sumur mulai terisi kembali. Namun ketika hujan datang dalam bentuk badai petir yang ekstrem, rasa syukur itu bercampur dengan kekhawatiran.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam beberapa kejadian terakhir, hujan petir di Kupang telah menyebabkan listrik padam di sejumlah wilayah, pohon tumbang, bahkan potensi korsleting yang mengancam keselamatan warga. Ini menjadi pertanda bahwa Kota Kupang belum sepenuhnya siap menghadapi fenomena cuaca ekstrem yang kini makin sering terjadi akibat perubahan iklim.
Pemerintah kota perlu mulai memetakan wilayah rawan bencana kecil seperti genangan, longsor kecil, hingga titik rawan sambaran petir. Di sisi lain, masyarakat juga perlu lebih sadar terhadap potensi bahaya yang bisa ditimbulkan oleh cuaca semacam ini, termasuk pentingnya mencabut alat elektronik saat petir menyambar dan menghindari berada di ruang terbuka.
Hujan petir di Kupang adalah wajah baru dari musim basah yang kini datang tak sekadar membawa air, tapi juga tantangan. Di antara kilatan cahaya dan dentuman langit, kita diingatkan bahwa alam bukan hanya membawa berkah, tetapi juga butuh kehati-hatian dan kebijaksanaan dalam menyambutnya.(***)
Penulis : DJOHANES BENTAH









