Kupang, NewslineNTT. id– Sidang Pengadilan Militer III-15 Kupang mendadak hening ketika Maria, ibu angkat almarhum Prada Lucky Saputra Namo, memberikan kesaksian dengan suara bergetar. Ia hadir untuk menceritakan pengalaman terakhirnya bersama sang anak angkat sebelum Prada Lucky ditemukan tewas usai diduga dianiaya oleh seniornya di satuan Yonif 743/PSY.
Dalam kesaksiannya, Maria mengungkapkan bahwa Prada Lucky sempat menunjukkan luka-luka di tubuhnya akibat penganiayaan yang dilakukan oleh para senior.
“Lucky membuka baju dan menunjukkan luka-luka di punggung, lengan, dan paha. Saya lihat ada bekas memar dan cambukan,” ujarnya di hadapan majelis hakim.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menuturkan, luka-luka itu muncul setelah almarhum mengaku dicambuk menggunakan selang kompresor oleh para seniornya di asrama.
Menurutnya, pada suatu malam, Prada Lucky juga sempat menelpon ibu kandungnya melalui Messenger, dan dalam percakapan itu, sempat terjadi dialog menggetarkan.
“Ibu kandungnya tanya, ‘siapa yang pukul?’ dan Lucky jawab, ‘Bama dengan Dansi,’” tutur Maria.
Beberapa waktu kemudian, Maria juga menerima telepon dari salah satu senior Prada Lucky, yang menanyakan keberadaan almarhum.
“Mereka tanya, ‘halo ibu, ada Lucky di sana?’ tapi saya ingat pesan Lucky, katanya kalau ada yang cari, bilang saja saya tidak ada,” ungkapnya.
Tak lama setelah itu, dua senior Prada Lucky datang ke rumah Maria bersama seorang anggota TNI berpangkat Serda Lalu. Mereka sempat meminta lokasi rumahnya dan datang langsung menjemput Lucky.
“Serda Lalu bilang Lucky tidak boleh ke mana-mana. Lalu dua senior datang, langsung masuk kamar. Tak lama Lucky keluar dan duduk di ruang tamu. Mereka lalu pamit bawa Lucky ke batalion sekitar jam sembilan pagi,” kenang Maria.
Sebelum mereka pergi, Maria sempat menitip pesan yang kini terasa seperti firasat terakhir.
“Saya bilang, ‘tolong jangan pukul lagi Lucky, kasihan anak orang,’” ucapnya lirih.
Beberapa hari kemudian, tepatnya pada 4 Agustus, Maria menerima kabar duka dari ibu kandung Prada Lucky bahwa anaknya dirawat di rumah sakit dalam kondisi kritis.
“Ibu Lucky telpon saya, bilang anaknya di rumah sakit. Saya takut, karena mereka bilang banyak aturan. Tapi akhirnya saya bisa masuk dan menjenguk Lucky,” tuturnya.
Kesaksian Maria menjadi salah satu yang paling menyentuh dalam sidang tersebut. Ia menggambarkan penderitaan seorang prajurit muda yang diduga menjadi korban kekerasan berulang di lingkungan militer yang seharusnya menjadi tempat belajar kedisiplinan dan kehormatan.***
Penulis : DJOHANES BENTAH









