
Ruteng, NewslineNTT.id– Malam di Kota Ruteng yang dulu tenang kini berubah bising. Suara knalpot meraung memecah udara, disusul deru mesin yang saling adu kecepatan di jalanan utama. Warga tak lagi menikmati waktu istirahatRuteng seolah menjelma sirkuit dadakan setiap akhir pekan.
Dari Kelurahan Satar Tacik hingga Pau, keluhan warga menggema: motor berknalpot brong melintas nyaring hingga larut malam.
Farlan, warga Kompleks Cunca Lawar, mengaku setiap malam seperti menghadapi mimpi buruk.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kalau malam, apalagi Sabtu dan Minggu, motor-motor itu lewat dengan suara keras sekali. Anak-anak terbangun, orang tua susah tidur. Kami seperti tinggal di tepi sirkuit,” keluhnya, Rabu (5/11).
Di Kelurahan Pau, warga lainnya juga menuturkan keresahan yang sama. Jalan utama menuju Mbaumuku kerap dijadikan arena balap liar.
“Kadang mereka kumpul rame-rame, lalu mulai adu cepat. Bisingnya luar biasa. Kami takut juga, karena kadang hampir tabrakan dengan pengendara lain,” ujarnya.
Malam yang seharusnya jadi waktu tenang berubah menjadi ajang bahaya. Selain kebisingan, aksi nekat itu berpotensi memicu kecelakaan dan mengancam keselamatan pengguna jalan lain.
Polres Manggarai Siap Sapu Bersih Knalpot Brong dan Balap Liar
Menjawab keresahan warga, Kasat Lantas Polres Manggarai, AKP Sandy H. Sibarani, menegaskan pihaknya tak akan tinggal diam.
“Kami akan melaksanakan kegiatan penindakan terhadap balap liar dan knalpot brong yang sangat meresahkan masyarakat. Akan ada sanksi tilang dan tindakan tegas bagi para pelanggar,” ujarnya
AKP Sandy menjelaskan, razia gabungan akan digelar dalam waktu dekat, menyasar titik-titik rawan di wilayah kota, termasuk jalur penghubung antar kelurahan.
“Kami berkoordinasi dengan Sat Intelkam dan Sat Reskrim untuk menentukan jam-jam rawan. Harapannya, Manggarai bisa zero knalpot brong dan zero balap liar*,” tegasnya.
Tak Pakai Helm? Siap-Siap Ditilang!
Operasi penertiban itu juga akan menindak pengendara tanpa helm.
“Biasanya kelompok balap liar ini juga tidak pakai helm. Itu pun kami tindak, baik dengan teguran maupun tilang,” jelasnya.
Menurut AKP Sandy, langkah ini bukan sekadar penegakan hukum, melainkan bentuk perlindungan terhadap keselamatan masyarakat.
“Keselamatan adalah yang utama. Kami ingin mengubah kebiasaan buruk di jalan menjadi budaya tertib dan aman,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan, pengendara yang terlibat balap liar dan mengalami kecelakaan tidak akan mendapatkan santunan dari Jasa Raharja maupun asuransi apa pun.
“Sesuai aturan, tidak ada santunan bagi yang kecelakaan saat balap liar. Ini peringatan keras agar masyarakat sadar bahwa risiko yang mereka ambil sangat besar,” tegasnya.
Kapolres Manggarai: Kami Tidak Akan Biarkan Kota Ini Dikuasai Kebisingan
Dihubungi terpisah, Kapolres Manggarai AKBP Hendri Syahputra menyampaikan terima kasih atas kepedulian warga terhadap keamanan kota.
“Terima kasih atas informasinya. Kami akan menertibkan dan mohon masyarakat bersabar. Kami minta dukungan agar bersama menghilangkan hal-hal yang menjadi keluhan bersama,” ujarnya melalui pesan WhatsApp, Rabu siang (5/11).
Kapolres Hendri menekankan pentingnya kolaborasi warga dan aparat untuk menciptakan lingkungan yang aman.
“Kalau ada aktivitas balap liar atau knalpot brong, segera laporkan. Kami akan tindak,” tegasnya.
Warga Minta: Razia Jangan Hanya Hangat di Awal
Meski menyambut baik langkah Polres Manggarai, warga berharap razia kali ini tak berhenti sebagai kegiatan seremonial.
“Kami sudah sering dengar razia, tapi setelah itu muncul lagi. Kami harap kali ini betul-betul berkelanjutan,” kata Farlan.
Bagi warga Ruteng, ketenangan malam bukanlah kemewahan, tetapi hak dasar yang harus dijamin oleh negara.
“Kami hanya ingin tidur tanpa suara motor meraung. Biarlah malam kembali menjadi waktu tenang untuk semua,” tutup Farlan.
Fenomena knalpot racing dan balap liar di Ruteng bukan sekadar soal kebisingan tetapi juga potret lemahnya kesadaran berkendara dan tantangan penegakan hukum di jalan raya.
Jika langkah tegas Polres Manggarai diiringi dukungan masyarakat, bukan mustahil Ruteng akan kembali damai. Sebab keamanan jalan bukan hanya urusan polisi, tetapi juga cerminan budaya tertib dan kepedulian antar sesama pengguna jalan.***
Penulis : Gabriel Esong









